<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>KoeliTinta</title>
	<atom:link href="http://koelitinta.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://koelitinta.com</link>
	<description>Sandy Wijaya&#039;s Weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Nov 2012 11:00:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='koelitinta.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/3f169d43ae5ca853742e5d44217eaa7d?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>KoeliTinta</title>
		<link>http://koelitinta.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://koelitinta.com/osd.xml" title="KoeliTinta" />
	<atom:link rel='hub' href='http://koelitinta.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Seren Taun Cipta Gelar &#8220;644 Tahun Tradisi Ini Bergulir&#8221;</title>
		<link>http://koelitinta.com/2012/11/13/serentaun/</link>
		<comments>http://koelitinta.com/2012/11/13/serentaun/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Nov 2012 10:21:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sandy Wijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Field Report]]></category>
		<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>
		<category><![CDATA[4x4]]></category>
		<category><![CDATA[budaya sunda]]></category>
		<category><![CDATA[cibangban]]></category>
		<category><![CDATA[cimaja]]></category>
		<category><![CDATA[cipta gelar]]></category>
		<category><![CDATA[cipta resmi]]></category>
		<category><![CDATA[ciptagelar]]></category>
		<category><![CDATA[desa cipta gelar]]></category>
		<category><![CDATA[dogdog lojor]]></category>
		<category><![CDATA[gunung]]></category>
		<category><![CDATA[gunung halimun]]></category>
		<category><![CDATA[halimun]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[jaipong]]></category>
		<category><![CDATA[jalan menuju cipta gelar]]></category>
		<category><![CDATA[jawa barat]]></category>
		<category><![CDATA[kasepuhan]]></category>
		<category><![CDATA[kasepuhan ciptagelar]]></category>
		<category><![CDATA[leuit]]></category>
		<category><![CDATA[leuit si jimat]]></category>
		<category><![CDATA[off road]]></category>
		<category><![CDATA[pantai selatan]]></category>
		<category><![CDATA[pelabuhan ratu]]></category>
		<category><![CDATA[sandy wijaya]]></category>
		<category><![CDATA[seren taun]]></category>
		<category><![CDATA[serentaun]]></category>
		<category><![CDATA[sukabumi]]></category>
		<category><![CDATA[sunda]]></category>
		<category><![CDATA[taman nasional gunung halimun]]></category>
		<category><![CDATA[upacara seren taun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://koelitinta.com/?p=1121</guid>
		<description><![CDATA[Petualangan kami mulai dini hari di tanggal 1 September 2012. Perjalanan Bandung – Sukabumi sejauh 96Km ditempuh selama dua jam saja, kondisi jalanan yang lengang membuat ngantuk yang menyetir mobil. Akhirnya kami berhenti dahulu untuk “ngopi” dan mengudap jajanan bandros di arah luar kota Sukabumi menuju Pelabuhan Ratu. Sesampainya di Pelabuhan Ratu, jam menunjukkan pukul [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=koelitinta.com&#038;blog=6383715&#038;post=1121&#038;subd=koelitinta&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1122" class="wp-caption aligncenter" style="width: 550px"><a href="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/house.jpg"><img class=" wp-image-1122" title="Leuit" alt="" src="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/house.jpg?w=540&#038;h=358" height="358" width="540" /></a><p class="wp-caption-text">Panorama Pagi Kasepuhan Ciptagelar</p></div>
<p style="text-align:justify;">Petualangan kami mulai dini hari di tanggal 1 September 2012. Perjalanan Bandung – Sukabumi sejauh 96Km ditempuh selama dua jam saja, kondisi jalanan yang lengang membuat ngantuk yang menyetir mobil. Akhirnya kami berhenti dahulu untuk “ngopi” dan mengudap jajanan bandros di arah luar kota Sukabumi menuju Pelabuhan Ratu. Sesampainya di Pelabuhan Ratu, jam menunjukkan pukul 03.30 masih terlalu dini untuk mengambil gambar di Pantai Cibangban yang kurang lebih berjarak 18Km dari Pelabuhan Ratu. Setelah menunggu beberapa saat dengan memanfaatkan jok mobil untuk memejamkan mata, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Cibangban.</p>
<div id="attachment_1123" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/san_0002.jpg"><img class="size-medium wp-image-1123 " alt="" src="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/san_0002.jpg?w=300&#038;h=200" height="200" width="300" /></a><p class="wp-caption-text">Pantai Cibangban di Pagi Hari</p></div>
<p style="text-align:justify;">Walaupun “Pantai Selatan Jawa” terkenal akan kerasnya ombak, Pantai Cibangban adalah  salah satu yang relatif aman untuk dijadikan tempat berwisata karena posisinya yang berada di teluk. Jika kondisi alam bersahabat maka suasana sunrise yang disuguhkan begitu indah. Cahaya keemasan dari mentari membuat objek nelayan yang difoto begitu magical. Sesudah puas untuk melepas rana di pinggir pantai dan mengisi perut, kami bergegas melanjutkan perjalanan menuju Kasepuhan Ciptagelar.</p>
<p style="text-align:justify;">Perjalanan kembali menuju Cimaja-Cisolok lalu memasuki jalan kecil (Pasir Badak) di pinggir Sungai Sukawayana dengan rute menuju Pintu Taman Nasional Gn. Halimun Salak – Desa Sirna Resmi &#8211; Desa Ciptarasa – Desa Ciptagelar dengan total jarak 20.1Km. Memang tidak terlalu jauh jarak tempuh menuju Ciptagelar, namun kondisi jalanan yang rusak parah hampir 16km sehingga kuda besi 4&#215;4 pun harus tertatih-tatih menyusuri hutan Gn.Halimun selama 3 Jam. Perjalanan yang memacu adrenalin karena tanjakan dan turunan yang cukup ekstrem.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/dsc05723.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1124" title="DSC05723" alt="Jalan Menuju Ciptagelar" src="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/dsc05723.jpg?w=540&#038;h=351" height="351" width="540" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Tepat siang hari kami sampai di Kasepuhan Ciptagelar, bergegas untuk registrasi di “Imah Gede” dan menyantap hidangan makan siang yang telah disiapkan oleh warga Kasepuhan. Imah Gede Kasepuhan Ciptagelar adalah pusat pemerintahan dari desa adat ini, disitu tempat berkumpul, rapat, dan tempat menyambut tamu. Rumah tersebut sangat luas, 90% terbuat dari bamboo dan kayu. Nyaman dan hangat sekali. Sungguh menarik, setelah menempuh perjalanan tak mudah, istirahat sejenak ditengah suasana Kasepuhan ini seraya memulihkan tenaga, kami pun larut dalam obrolan-obrolan tamu dan <i>incu putu</i> (warga). Tak ada perbedaan meski kami bukan warga (tamu), seolah ada sebuah ikatan yang membuat kami terasa sudah dekat satu sama lain.</p>
<div id="attachment_1125" class="wp-caption aligncenter" style="width: 550px"><a href="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/san_0089.jpg"><img class="size-full wp-image-1125" title="SAN_0089" alt="" src="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/san_0089.jpg?w=540&#038;h=414" height="414" width="540" /></a><p class="wp-caption-text">Imah Gede dari Kejauhan</p></div>
<div id="attachment_1127" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/dscn66921.jpg"><img class="size-medium wp-image-1127" title="DSCN6692" alt="" src="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/dscn66921.jpg?w=300&#038;h=225" height="225" width="300" /></a><p class="wp-caption-text">Imah Gede Kasepuhan Cipta Gelar</p></div>
<p style="text-align:justify;">Kasepuhan Ciptagelar adalah desa adat yang tersembunyi di balik gunung Halimun. Desa ini sangat melindungi kebudayaan aslinya dan menjunjung tinggi adat istiadat yang dipegang teguh lebih dari 1 Millenium. Oleh karena itu kumpulan masyarakat ini disebut kasepuhan, yang dalam bahasa Sunda “sepuh” berarti tua. Walaupun begitu mereka tetap menerima budaya modern seperti adanya listrik, alat telekomunikasi, hingga sistem sanitasi yang sangat baik. Menurut catatan sejarah, Kasepuhan Ciptagelar bermula pada tahun 611M bertempat di Sajira Banten. Ketua adat saat itu adalah Abah Agung yang memimpin selama 500 tahun (ga salah ketik). Selama hidupnya Abah Agung telah beberapa kali pindah tempat. Setelah beliau wafat, Kasepuhan kemudian diteruskan oleh anaknya yang bernama Aki Buyut Waning yang memimpin selama 202 tahun. Setelah 9 generasi berpindah tampuk “Olot Lembur” atau Ketua Adat, kini Kasepuhan Ciptagelar dipimpin oleh Abah Ugi (Abah Anom) menggantikan ayahnya seorang keturunan asli dari Abah Agung yang telah mangkat pada tahun 2007 silam.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/san_0245.jpg"><img class="size-medium wp-image-1129 alignleft" title="SAN_0245" alt="" src="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/san_0245.jpg?w=300&#038;h=200" height="200" width="300" /></a>Setelah mendapat tempat untuk menginap yaitu disalah satu rumah warga adat, kami tidak menyia-nyiakan waktu serta kondisi lighting yang sedang bagus, langsung saja kami berjalan untuk mencari objek di sekitaran desa sekaligus survey lokasi arak-arakan upacara Seren Taun yang akan diselenggarakan esok harinya. Kami mendapati hiburan kesenian yang disuguhkan bagi warga dan tamu cukup banyak seperti pentas wayang, jaipong, dogdog lojor, topeng jipeng, dsb. Saya sendiri sibuk memotret kegiatan ibu-ibu yang berada di dapur Imah Gede, mereka memasak secara kolosal lebih dari 50 orang ikut terlibat dalam kegiatan memeriahkan acara Seren Taun ini. Hari menjelang gelap, Ciptagelar bertambah dingin, handphone saya mencatat suhu 18°celcius di ketinggian 1.051 mdpl, namun suasana bertambah hangat dengan adanya dangdut yang menyemarakkan hingga dini hari.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/san_0279.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1128" title="SAN_0279" alt="" src="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/san_0279.jpg?w=540&#038;h=296" height="296" width="540" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Keesokan harinya pukul 06.00 kami bergegas berjalan ke pinggiran desa Ciptagelar untuk merekam keindahan pemandangan pagi dengan latar belakang pegunungan yang mempesona. Beruntung alam sedang bersahabat, mendapatkan sebuah frame yang berhasil tidaklah sesulit ketika cuaca buruk. Warga desa sudah memulai aktivitasnya dan terlihat cukup sibuk mempersiapkan rangkaian Upacara Seren Taun yang akan dimulai pukul 09.00. Upacara Seren Taun yang berarti merayakan hasil bumi berupa padi yang diperoleh dalam kurun waktu satu tahun untuk disimpan (ritual ngadiukeun) di dalam Leuit si Jimat (nama lumbung padi). Upacara ini diselenggarakan sebagai ungkapan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa dan Dewi Sri Pohaci (Dewi Padi). Peserta upacara terdiri dari barisan ujungan/gebotan, juru rajah, pembawa pare bapa dan pare indung (Ibu Bapak Padi), pemungut padi yang tercecer, pembawa rengkong dan kesenian tradisional lainnya.</p>
<div id="attachment_1130" class="wp-caption aligncenter" style="width: 550px"><a href="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/san_0356.jpg"><img class="size-full wp-image-1130" title="SAN_0356" alt="" src="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/san_0356.jpg?w=540&#038;h=347" height="347" width="540" /></a><p class="wp-caption-text">Persiapan Seren Taun</p></div>
<div id="attachment_1131" class="wp-caption aligncenter" style="width: 550px"><a href="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/san_0030.jpg"><img class="size-full wp-image-1131" title="SAN_0030" alt="" src="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/san_0030.jpg?w=540&#038;h=360" height="360" width="540" /></a><p class="wp-caption-text">Arak-Arakan Seren Taun</p></div>
<div id="attachment_1132" class="wp-caption aligncenter" style="width: 550px"><a href="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/san_0132.jpg"><img class="size-full wp-image-1132" title="SAN_0132" alt="" src="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/san_0132.jpg?w=540&#038;h=360" height="360" width="540" /></a><p class="wp-caption-text">Upacara Ngadiukeun</p></div>
<p style="text-align:justify;">Menjelang tengah hari kami bersiap-siap untuk pulang dari Ciptagelar, walaupun hanya semalam, banyak kesan dan pembelajaran dari “kearifan lokal” tentang kesederhanaan yang saya dapat. Warga Ciptagelar tidak khawatir akan terjangan modernisasi, asal suara jangkrik masih bergema di malam yang mencekat, suara burung dan ayam masih bernyanyi riang, dan tujuh ribu leuit (lumbung padi) masih terisi penuh. Kehidupan akan berjalan seperti biasanya. Sesederhana itu.</p>
<div id="attachment_1133" class="wp-caption aligncenter" style="width: 550px"><a href="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/dscn6861.jpg"><img class="size-full wp-image-1133" title="DSCN6861" alt="" src="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/dscn6861.jpg?w=540&#038;h=318" height="318" width="540" /></a><p class="wp-caption-text">Bersama Warga Kasepuhan Di Kediamannya</p></div>
<div id="attachment_1134" class="wp-caption aligncenter" style="width: 550px"><a href="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/dscn6830.jpg"><img class="size-full wp-image-1134" title="DSCN6830" alt="" src="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/dscn6830.jpg?w=540&#038;h=405" height="405" width="540" /></a><p class="wp-caption-text">Narsis dulu&#8230;. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /></p></div>
<p><b>Catatan:</b></p>
<p>Lokasi: Kampung Sukamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok.</p>
<p>14 km dari Desa Sirnaresmi, 27 km dari Kecamatan Cisolok, 103 km dari Kabupaten Sukabumi, dan 203 km dari Kota Bandung.</p>
<p>Koordinat GPS: 06° 47` 10,4&#8220; S, 106° 29` 52’’ E</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/koelitinta.wordpress.com/1121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/koelitinta.wordpress.com/1121/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=koelitinta.com&#038;blog=6383715&#038;post=1121&#038;subd=koelitinta&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://koelitinta.com/2012/11/13/serentaun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:thumbnail url="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/house.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/house.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">HOUSE</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/8c51d6c4f3052dd12629d8c9d8735ca4?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">thesaintdevil</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/house.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Leuit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/san_0002.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/dsc05723.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC05723</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/san_0089.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">SAN_0089</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/dscn66921.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSCN6692</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/san_0245.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">SAN_0245</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/san_0279.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">SAN_0279</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/san_0356.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">SAN_0356</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/san_0030.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">SAN_0030</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/san_0132.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">SAN_0132</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/dscn6861.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSCN6861</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/dscn6830.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSCN6830</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Titik 0 KM Bandung</title>
		<link>http://koelitinta.com/2012/11/01/titik-0-km-bandung/</link>
		<comments>http://koelitinta.com/2012/11/01/titik-0-km-bandung/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Nov 2012 14:52:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sandy Wijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bandoeng]]></category>
		<category><![CDATA[asia afrika]]></category>
		<category><![CDATA[bandoeng]]></category>
		<category><![CDATA[bandung]]></category>
		<category><![CDATA[belanda]]></category>
		<category><![CDATA[bupati bandung]]></category>
		<category><![CDATA[daendels]]></category>
		<category><![CDATA[dalem kaum]]></category>
		<category><![CDATA[gedung merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[goote postweg]]></category>
		<category><![CDATA[gubernur bandung]]></category>
		<category><![CDATA[haryoto kunto]]></category>
		<category><![CDATA[herman willem daendels]]></category>
		<category><![CDATA[hotel preanger]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[jalan asia afrika]]></category>
		<category><![CDATA[jalan raya pos]]></category>
		<category><![CDATA[raffles]]></category>
		<category><![CDATA[savoy homann]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah abndung]]></category>
		<category><![CDATA[thomas stamford raffles]]></category>
		<category><![CDATA[titik nol kilometer bandung]]></category>
		<category><![CDATA[titik o km bandung]]></category>
		<category><![CDATA[wajah bandoeng tempo doeloe]]></category>
		<category><![CDATA[west java]]></category>
		<category><![CDATA[wiranatakusumah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://koelitinta.com/?p=1113</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Masyarakat urban di Kota Bandung yang dinamis dan selalu mobile, pasti dalam satu hari pastinya pernah melewati Jl. Asia-Afrika yang terletak di jantung Kota Kembang ini. Jl. Asia-Afrika memang tidak sepanjang namanya, tercatat panjangnya hanya 1.51Km saja, namun begitu jalan tersebut menyimpan segudang sejarah yang menggambarkan kejayaan Bandung pada masa lampau (Bandoeng in den [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=koelitinta.com&#038;blog=6383715&#038;post=1113&#038;subd=koelitinta&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/tugu-0-km-bandungw.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1114" title="Tugu 0 KM Bandungw" alt="" src="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/tugu-0-km-bandungw.jpg?w=540"   /></a>Masyarakat urban di Kota Bandung yang dinamis dan selalu <i>mobile</i>, pasti dalam satu hari pastinya pernah melewati Jl. Asia-Afrika yang terletak di jantung Kota Kembang ini. Jl. Asia-Afrika memang tidak sepanjang namanya, tercatat panjangnya hanya 1.51Km saja, namun begitu jalan tersebut menyimpan segudang sejarah yang menggambarkan kejayaan Bandung pada masa lampau <i>(Bandoeng in den Goeden Ouden Tijd)</i>. Seolah-olah jalan ini menjadi saksi bisu bergulirnya roda sejarah Kota Bandung sejak tahun 1810 hingga kini.</p>
<p style="text-align:justify;">Masih di jalan yang sama, terdapat sebuah artefak kecil dengan nilai historis tinggi, <b>Titik 0 KM Bandung</b>, yang terkadang luput dari pandangan mata para pelancong atau bahkan <i>pituin</i> Bandung sekalipun terkadang <i>misleuk</i>. Lokasi titik nol kilometer Kota Bandung ini terletak di depan Kantor Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat. Jika anda menoleh ke sisi kanan sebelum Hotel Savoy Homann terdapat tugu kecil dengan “stoom-wall” besar menjadi latar belakangnya, dan benda kecil itulah menjadi tonggak awal mula sejarah pembangunan Kota Bandung.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu apa yang melatarbelakangi tempat itu dijadikan sebagai Titik 0 KM Bandung? Tentunya kita harus membuka lembaran sejarah 202 tahun yang silam. Sejarahnya berawal ketika pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman-Willem Daendels, seorang tangan kanan Louis Napoleon (Raja Belanda yang juga adik dari Napoleon Bonaparte) yang terkenal akan karya feodalnya yang begitu monumental, yaitu dengan membangun Jalan Raya Pos <i>(Groote Postweg) </i>yang terbentang dari Anyer s/d Panarukan dalam rangka memperkuat pertahanan militer dari serangan si “Union Jack” yang dipimpin oleh Raffles.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika pembangunan jalan tersebut memasuki daerah Tatar Ukur (Bandung), ternyata <i>“blue print”</i> jalan raya berada di 11Km di Utara Ibukota Kabupaten Bandung yang saat itu masih berada di Kota Krapyak, Dayeuhkolot. Mau tidak mau, demi kelancaran admistrasi semua perangkat kabupaten dipindahkan ke Bandung (Alun-Alun) yang saat itu masih menyandang predikat desa atas perintah “Mas Galak” Daendels kepada Bupati Wiranatakusuh II (Dalem Kaum) tercatat pada tanggal 25 Mei 1810.</p>
<p style="text-align:justify;"><i>Groote Postweg </i>yang sedang dibangun di desa Bandung ini  harus membelah sungai Cikapundung, maka dibangunlah sebuah jembatan kayu (dekat Gedung Merdeka) untuk menghubungkan jalan tersebut, yang dibantu oleh penduduk Cikapundung Kolot. Setelah jembatan tersebut rampung, Daendels menjadi orang yang pertama berjalan kaki melintasi jembatan Cikapundung lalu berjalan ke arah Timur <i>(ngabaraga)</i>. Didampingi Bupati Bandung pada suatu titik Daendels menancapkan tongkat kayu dan berkata, <i>“Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd!”.</i> Artinya “Coba usahakan, jika aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota!” Di tempat Daendels menancapkan tongkatnya, orang kemudian membuat patok/tanda yang menyatakan Kilometer 0 Kota Bandung.</p>
<p style="text-align:justify;">Dua abad kemudian, Bandung kini telah bertransformasi dari sebuah desa kecil yang sepi dengan dikelilingi oleh pengunungan menjadi sebuah kota yang sesak dengan bangunan dan kendaraan. Titah yang diucapkan oleh Daendels masih bergulir hingga kini, pembangunan Kota Bandung begitu pesat walaupun tidak terarah serta cenderung membabi-buta. Sayang Daendels tidak dapat menggenapi ikrarnya untuk datang kembali ke Bandung,  Pada Tahun 1811 dia harus hengkang dari Hindia Belanda seraya Inggris menggantikan Belanda yang kalah perang untuk sementara waktu.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/tugu-0-km-bandungw2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1115" title="Tugu 0 KM Bandungw2" alt="" src="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/tugu-0-km-bandungw2.jpg?w=540&#038;h=359" height="359" width="540" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Begitulah paparan singkat tentang sejarah awal mula Titik 0 KM Bandung, di mata seorang pencinta sejarah dari sebuah batu kecil pengukur jarak, kita dapat banyak memahami begitu tinggi esensi historis yang tidak ternilai harganya. <b><i>JASMERAH!</i></b>, Jangan sekali-kali melupakan sejarah!, ujar Bung Karno dalam pidatonya.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Catatan:</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Pituin: Asli</p>
<p style="text-align:justify;">Misleuk: Salah</p>
<p style="text-align:justify;">Bandoeng in den Goeden Ouden Tijd: Bandung Pada Masa Keemasan</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Sumber:</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">“Almanak voor Bandoeng 1941”, Holland-Indie Handelsvereniging, Bandoeng, 1941.</p>
<p style="text-align:justify;">“Bandoeng”, Servire B.V. Katwijk, Holand, 1976.</p>
<p style="text-align:justify;">“Semerbak Bunga di Bandung Raya”, Haryoto Kunto, PT. Granesia, Bandung, 1986</p>
<p style="text-align:justify;">“Through Bantam and The Preanger Regencies in The Eighties” Henry. O. Forbes, London, 1945.</p>
<p style="text-align:justify;">“The History of Java Volume. 1”, Thomas Stamford Raffles, London, 1830.</p>
<p style="text-align:justify;"> “Wajah Bandoeng Tempo Doeloe”, Haryoto Kunto, PT. Granesia, Bandung, 1984.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/koelitinta.wordpress.com/1113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/koelitinta.wordpress.com/1113/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=koelitinta.com&#038;blog=6383715&#038;post=1113&#038;subd=koelitinta&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://koelitinta.com/2012/11/01/titik-0-km-bandung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:thumbnail url="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/tugu-0-km-bandung-3.jpg?w=99" />
		<media:content url="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/tugu-0-km-bandung-3.jpg?w=99" medium="image">
			<media:title type="html">Tugu 0 KM Bandung 3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/8c51d6c4f3052dd12629d8c9d8735ca4?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">thesaintdevil</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/tugu-0-km-bandungw.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Tugu 0 KM Bandungw</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/11/tugu-0-km-bandungw2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Tugu 0 KM Bandungw2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ursone Family: The First Italian in Bandung</title>
		<link>http://koelitinta.com/2012/08/30/ursone/</link>
		<comments>http://koelitinta.com/2012/08/30/ursone/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Aug 2012 15:03:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sandy Wijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bandoeng]]></category>
		<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[bandoeng jadoel]]></category>
		<category><![CDATA[bandoeng tempo doeloe]]></category>
		<category><![CDATA[bandoeng. sejarah bandoeng]]></category>
		<category><![CDATA[bandung]]></category>
		<category><![CDATA[haryoto kunto]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[jawa barat]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga ursone]]></category>
		<category><![CDATA[mooi bandoeng]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah kota bandung]]></category>
		<category><![CDATA[suikerplanters]]></category>
		<category><![CDATA[ursone]]></category>
		<category><![CDATA[west java]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://koelitinta.com/?p=1105</guid>
		<description><![CDATA[Makam Keluarga Ursone terletak di tengah-tengah Kuburan Pandu, Bandung. Berikut sekilas cerita singkat dan unik yang menceritakan penggalan kisah Keluarga Ursone di Bandung. Ursone adalah satu-satunya keluarga yang berkebangsaan Italia pertama yang tinggal di Priangan circa tahun 1880. Keluarga Ursone terdiri dari empat orang bersaudara yang merantau ke Hindia Belanda dan menetap di Lembang. Keluarga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=koelitinta.com&#038;blog=6383715&#038;post=1105&#038;subd=koelitinta&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/08/pan.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1106" title="pan" src="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/08/pan.jpg?w=540" alt=""   /></a></p>
<p>Makam Keluarga Ursone terletak di tengah-tengah Kuburan Pandu, Bandung. Berikut sekilas cerita singkat dan unik yang menceritakan penggalan kisah Keluarga Ursone di Bandung.</p>
<p>Ursone adalah satu-satunya keluarga yang berkebangsaan Italia pertama yang tinggal di Priangan circa tahun 1880. Keluarga Ursone terdiri dari empat orang bersaudara yang merantau ke Hindia Belanda dan menetap di Lembang. Keluarga Ursone adalah peternak sapi perah di daerah Pangalengan yang juga menjadi &#8220;leveransir&#8221; (supplier) susu sapi ke Hotel Savoy Homann.</p>
<p>Yang uniknya, Ursone pernah sekali waktu menyelamatkan wajah Bandung dari omongan bule-bule Belanda diluar Priangan. Ceritanya pada tahun 1896 jalur kereta api telah dibuka menuju Bandung dari Jawa Tengah dan Timur, maka tanpa pikir panjang mengenai kesiapan sebuah &#8220;desa&#8221; Bandung lantas para <em>&#8220;gegeden&#8221;</em> di Priangan menggelar Kongres Pengusaha Gula (Suikerplanters Congress) yang pertama di Hindia Belanda.</p>
<p>Toh, pada nyatanya kongres hanyalah tinggal sebuah helaran belaka, tujuan utama mereka adalah <em>feestdag</em> alias liburan di desa Bandoeng yang dijuluki “Europa In De Tropen”. Untuk penutupan acara kongres, tidak kepalang tanggung para suikerplanters dari Jawa Timur mendatangakan seorang “zangeres”, biduan kenamaan dari Paris, Perancis. Begitu makmurnya para orang perkebunan ini, bentuk hiburan apapun yang lagi “trend” dapat didatangkan kesini. Masalahnya, ketika mengetahui kebenaran informasi ini, panitia baru menyadari  di Bandung tidak ada satupun yang mempunyai piano! Setelah usut punya usut, yang ada hanya piano bobrok yang ada di rumah lelang Vendutiehuis (sebelah Museum Mandala Wangsit). Lalu malapetaka tidak kunjung usai, warga Bandung ternyata tidak ada yang dapat memainkan piano!!</p>
<p>Akhirnya dewi fortuna masih berpihak pada panitia, Mama Homann pemilik Hotel Savoy Homann memberitahu bahwa tukang leveransir susu di hotelnya, yaitu Ursone bersaudara sangat piawai dalam memainkan alat musik gesek. Kontan saja Pieter Sijthoff yang saat itu menjabat sebagai kepala Gemente (Kabupaten) Bandung, sibuk menjemput Ursone bersaudara yang berada di Lembang dengan menggunakan kuda. Kecemasan panitia berakhir tepat ketika jamuan makan malan selesai dan suara kuda terdengar mendekati Sociteit Concordia (Gedung Merdeka).</p>
<p>Lantas, acara “hura-hura” para suikerplanters dilanjutkan. Dasar musukis virtuoso, tanpa perlu latihan ketika penyanyi mulai tarik suara, lantunan piano dan biola Ursone bersaudara mampu mengiringi dengan serasi. Bayangkan apa yang terjadi pada malam penutupan kongres jika Ursone bersaudara tidak hidup di Priangan!</p>
<p>Sumber:</p>
<p>Mooi Bandoeng, October 1933</p>
<p>Haryoto Kunto, Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, Edisi 1, PT. Granesia, 1984.</p>
<p>PS: Kurangnya perhatian pemerintah (Pemda) Bandung akan bangunan/benda/artefak yang bernilai sejarah tinggi di Bandung, membuat makam ini dari tahun ke tahun termakan usia dan juga rusak karena vandalisme manusia-manusia yang tidak mengerti <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a href="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/08/pandu-cemetary-6.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1107" title="Pandu Cemetary (6)" src="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/08/pandu-cemetary-6.jpg?w=540&#038;h=360" alt="" width="540" height="360" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/koelitinta.wordpress.com/1105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/koelitinta.wordpress.com/1105/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=koelitinta.com&#038;blog=6383715&#038;post=1105&#038;subd=koelitinta&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://koelitinta.com/2012/08/30/ursone/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:thumbnail url="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/08/pandu-cemetary-6.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/08/pandu-cemetary-6.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Pandu Cemetary (6)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/8c51d6c4f3052dd12629d8c9d8735ca4?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">thesaintdevil</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/08/pan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/08/pandu-cemetary-6.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Pandu Cemetary (6)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RIP Bubi Chen (1938-2012)</title>
		<link>http://koelitinta.com/2012/02/16/rip-bubi-chen-1938-2012/</link>
		<comments>http://koelitinta.com/2012/02/16/rip-bubi-chen-1938-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Feb 2012 14:34:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sandy Wijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journal]]></category>
		<category><![CDATA[art tatum]]></category>
		<category><![CDATA[art tatum of asia]]></category>
		<category><![CDATA[bubi chen]]></category>
		<category><![CDATA[bubi chen art tatum]]></category>
		<category><![CDATA[java jazz 2011]]></category>
		<category><![CDATA[java jazz 2012]]></category>
		<category><![CDATA[java jazz indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[jazz]]></category>
		<category><![CDATA[jazz pianist]]></category>
		<category><![CDATA[maestro jazz indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[maestro piano]]></category>
		<category><![CDATA[pianis jazz]]></category>
		<category><![CDATA[pianist jazz]]></category>
		<category><![CDATA[rip bubi chen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://koelitinta.com/?p=1097</guid>
		<description><![CDATA[Terakhir kali melihat beliau memainkan jari-jari nya diatas piano ketika Java Jazz 2011. Kelincahannya memainkan sederetan lagu hits bernuansa ROCK yang dibalut gaya Jazz sangat memukau penonton yang hadir malam itu. Pianist yang diberi julukan ART TATUM OF ASIA ini telah menutup usianya hari ini 16 Februari 2012 pada usia 73 tahun. Sungguh suatu kehilangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=koelitinta.com&#038;blog=6383715&#038;post=1097&#038;subd=koelitinta&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/02/java-jazz-2011-26.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1101" title="Java Jazz 2011 (26)" src="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/02/java-jazz-2011-26.jpg?w=540" alt=""   /></a>Terakhir kali melihat beliau memainkan jari-jari nya diatas piano ketika Java Jazz 2011. Kelincahannya memainkan sederetan lagu hits bernuansa ROCK yang dibalut gaya Jazz sangat memukau penonton yang hadir malam itu. Pianist yang diberi julukan ART TATUM OF ASIA ini telah menutup usianya hari ini 16 Februari 2012 pada usia 73 tahun. Sungguh suatu kehilangan yang besar bagi dunia Jazz Indonesia dan dunia. Semoga melalui karya dan gaya bermusiknya, beliau dapat terus HIDUP untuk menginspirasi&#8230;</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Bubi Chen in my frame…</strong></p>
<p><a href="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/02/java-jazz-2011-40.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1098" title="Java Jazz 2011 (40)" src="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/02/java-jazz-2011-40.jpg?w=540" alt=""   /></a></p>
<p><a href="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/02/java-jazz-2011-36.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1099" title="Java Jazz 2011 (36)" src="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/02/java-jazz-2011-36.jpg?w=540" alt=""   /></a></p>
<p><a href="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/02/java-jazz-2011-74.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1100" title="Java Jazz 2011 (74)" src="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/02/java-jazz-2011-74.jpg?w=540" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/02/java-jazz-2011-26.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1101" title="Java Jazz 2011 (26)" src="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/02/java-jazz-2011-26.jpg?w=540" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:center;">*********</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/koelitinta.wordpress.com/1097/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/koelitinta.wordpress.com/1097/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=koelitinta.com&#038;blog=6383715&#038;post=1097&#038;subd=koelitinta&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://koelitinta.com/2012/02/16/rip-bubi-chen-1938-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/8c51d6c4f3052dd12629d8c9d8735ca4?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">thesaintdevil</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/02/java-jazz-2011-26.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Java Jazz 2011 (26)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/02/java-jazz-2011-40.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Java Jazz 2011 (40)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/02/java-jazz-2011-36.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Java Jazz 2011 (36)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/02/java-jazz-2011-74.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Java Jazz 2011 (74)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/02/java-jazz-2011-26.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Java Jazz 2011 (26)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Intermezzo Lagu &#8220;The Greatest Love of All&#8221;</title>
		<link>http://koelitinta.com/2012/02/12/intermezzo-lagu-the-greatest-love-of-all/</link>
		<comments>http://koelitinta.com/2012/02/12/intermezzo-lagu-the-greatest-love-of-all/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Feb 2012 12:35:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sandy Wijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journal]]></category>
		<category><![CDATA[george benson]]></category>
		<category><![CDATA[java jazz]]></category>
		<category><![CDATA[kematian whitney houston]]></category>
		<category><![CDATA[mr benson]]></category>
		<category><![CDATA[muhammad ali]]></category>
		<category><![CDATA[RIP whitney houston]]></category>
		<category><![CDATA[the greatest love of all]]></category>
		<category><![CDATA[whitney houston]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://koelitinta.com/?p=1089</guid>
		<description><![CDATA[Ketika saya menonton konser George Benson di Java Jazz 2011, di tengah-tengah konser sebelum menyanyikan salah satu hitsnya di 1977 &#8220;The Greatest Love of All&#8221;, ada cerita unik yang beliau bagikan kepada penonton. Begini kurang lebih ceritanya: Suatu hari di Tahun 1980 ketika berada di 5th. Avenue untuk makan siang bersama teman, George Benson dihampiri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=koelitinta.com&#038;blog=6383715&#038;post=1089&#038;subd=koelitinta&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/02/java-jazz-2011-73.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1090" title="Java Jazz 2011 (73)" src="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/02/java-jazz-2011-73.jpg?w=540" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Ketika saya menonton konser George Benson di Java Jazz 2011, di tengah-tengah konser sebelum menyanyikan salah satu hitsnya di 1977 &#8220;The Greatest Love of All&#8221;, ada cerita unik yang beliau bagikan kepada penonton. Begini kurang lebih ceritanya:</p>
<p style="text-align:justify;">Suatu hari di Tahun 1980 ketika berada di 5th. Avenue untuk makan siang bersama teman, George Benson dihampiri seorang gadis di usia belasan. Ujar gadis tersebut, &#8220;Hi Mr.Benson, i&#8217;m one of your fans.. Could you sign this cd cover for me please? Singkat cerita setelah mendapat tanda tangan dari Benson, gadis ini lantas berkelakar, &#8220;You know what Mr.Benson, i&#8217;m gonna sing one of your song, The Greatest Love of All, and I&#8217;m gonna be a superstar!</p>
<p>&#8220;Oww&#8230; Really? Good luck for you&#8230; Tanpa berfikir panjang, George Benson mengiyakan pendapat gadis tersebut. 6 Tahun berlalu, di tahun 1986 George Benson dikabari oleh produser musik bahwa seorang gadis bernama Whitney Houston sedang dalam proses untuk merekam lagu HITS Benson, &#8220;The Greatest Love of All&#8221;. Ujar Benson &#8220;Saya menyanyikan lagu Greatest Love of All untuk Muhammad Ali awalnya, dan pertama saya mendengar lagu ini dinyanyikan oleh seorang Whitney, saya percaya dia menyanyikan untuk dunia&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span class='embed-youtube' style='text-align:center; display: block;'><iframe class='youtube-player' type='text/html' width='480' height='360' src='http://www.youtube.com/embed/IYzlVDlE72w?version=3&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;showinfo=1&#038;iv_load_policy=1&#038;wmode=transparent' frameborder='0'></iframe></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/koelitinta.wordpress.com/1089/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/koelitinta.wordpress.com/1089/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=koelitinta.com&#038;blog=6383715&#038;post=1089&#038;subd=koelitinta&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://koelitinta.com/2012/02/12/intermezzo-lagu-the-greatest-love-of-all/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/8c51d6c4f3052dd12629d8c9d8735ca4?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">thesaintdevil</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://koelitinta.files.wordpress.com/2012/02/java-jazz-2011-73.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Java Jazz 2011 (73)</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
