Bandoeng

BANDUNG

Kota adalah seorang ibu, dari rahim siapa
Lahir dirimu yang kedua
Sekali kau pernah mengembara di sana,
Bagai urat di tapak-tangan
Kau hafal silangan segala gangnya
Sekali kau bersatu dengan suka-dukanya, dan dia selamanya
Akan hidup di darahmu

Saini K.M.
”Kota Suci” 1968


Siapa tak kenal Kota Bandung?
Kota yang disematkan dengan begitu banyak gelar sanjungan terhadapnya, Parijs Van Java, Europa In De Tropen, The Garden of Allah, Kota Kembang, Kota Pendidikan, Ibu Kota Asia Afrika, dan masih segudang lagi sanjungan yang di alamatkan kepada Kota Bandung. Belum lagi kecantikan dan paras jelita dari para mojang nya yang terkenal seantero Indonesia.

Kota Bandung seperti kota-kota besar lainnya di Indonesia (Hindia Belanda), memiliki perjalanan sejarah yang panjang sedari era kolonialisme Belanda yang awalnya mulai dikenal circa abad 16 sebagai salah satu desa pemberhentian jalan raya pos (Grote Postweg) karya Daendels sampai ke era keemasan Bandung di awal abad 19 dengan sepanjang Jalan Braga (Braga Weg) sebagai kompleks pioneer toko (winkels) yang menjual barang-barang lux dan mewah yang didatangkan langsung dari Eropa terutama Paris untuk urusan mode. Karena itulah julukan ”Parijs Van Java” mulai merebak ke seantero Hindia Belanda pada masa itu.

DSC_0044
Di pertengahan abad-20, Bandung menjadi tuan rumah bagi Konferensi Asia-Afrika (KAA) di tahun 1955. Sekali lagi Bandung kembali menjadi sorotan mata dunia. Lebih dari 20 negara dari dua belahan benua berbeda Asia-Afrika, berhamburan menghadiri konferensi tersebut di Bandung, tercatat beberapa negarawan kawakan di masa itu seperti PM India, Jawaharlal Nehru, PM China, Chou En Lai, Presiden Mesir Gamal Abdul Naseer, dan masih banyak lagi. Sejak momen bersejarah itulah Bandung dinobatkan sebagai “Ibu Kota Asia-Afrika

Kegemilangan arsitektur bergaya art-deco yang terkenal di awal abad-19 di Kota Bandung masih dapat kita jumpai. Cukup banyak bangunan bernilai sejarah tinggi baik itu dari sudut pandang arsitektur, nilai fungsi historisnya, sosial atau budaya dan telah di-konservasi untuk menjaga kelestariannya, namun tidak sedikit pula bangunan bersejarah di Kota Bandung memiliki nasib yang buruk, dihancurkan, di-alih-fungsikan gedungnya/lokasi-nya yang merubah sebagian façade atau secara keseluruhan dari bangunan tersebut akibat dari ketidak-pedulian kita terhadap nilai historis yang kelak akan menjadi warisan tak ternilai bagi generasi mendatang.

Tahun-tahun belakangan ini Bandung telah menunjukkan dirinya sekali lagi sebagai barometer dunia fashion khususnya untuk Indonesia. Segudang factory outlet, distro, dan butik bertumpah ruah memenuhi jalanan Bandung Utara. Bandung itu SURGA nya makanan dan jajanan ucap salah seorang kawan saya dari Jakarta ketika mengunjungi kota kembang ini, mulai dari kudapan ringan seperti batagor, surabi, mie kocok, dsb. yang cukup terjangkau harganya sampai ke jenis makanan yang harus merogoh kocek dalam-dalam semuanya tersedia di Bandung.

DSC_0042

Dampak negatif dari perkembangan Kota Bandung ke arah Kota Wisata menyebabkan jalanan seringkali macet di akhir minggu, menjadi begitu penuh sesak, udara menjadi panas, pembangunan kota tidak ter-arah dan tidak seimbang dapat dibilang begitu menurut saya. Jalanan yang sempit dan tidak bertambah/diperluas sedangkan volume kendaraan bertambah adalah rumusan yang sempurna untuk menyebabkan kemacetan. Begitulah kira-kira potret wajah Bandung kiwari yang dibalut modernitas tetapi rapuh dan sudah mulai melupakan aspek sejarah masa lampau. Hanya segelintir kaum muda Bandung yang masih peduli akan nasib yang telah dilalui sekian abad lamanya kota Bandung…

DSC_0039

Besar harapan saya dengan adanya blog ini yang akan memuat tulisan-tulisan mengenai sekelumit sejarah Kota Bandung dan perkembangannya serta tidak luput dari analisa problematika yang tentunya hanya dari sudut pandang seorang awam, semoga akan mengingatkan kembali perlunya kesadaran kita terutama sebagai ”bandoengers” untuk bersama-sama menjaga kelestarian hal-hal yang seharusnya dilestarikan. Apalah artinya sebuah nama denganbegitu banyak gelar sanjungan dan kental akan nilai historis/sejarahnya tetapi kita enggan untuk membuka kembali lembar usang yang menggambarkan keemasan Bandung Baheula. JASMERAH! ”Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah” pesan Bung Karno dalam pidato terkenalnya, dan ada baiknya kita tidak berusaha melupakan aspek sejarah dari Kota Bandung tercinta.

Bandoeng Vooruit!!

Artikel:

  1. Vihara Satya Budhi (Xie Tian Gong 協天宫) 
  2. Waisak: Sebuah Awal Menuju Pencerahan
  3. Liputan Perayaan Trisuci Waisak 2555 di Vihara Xie Tian Gong
  4. Pabrik Kopi Aroma: Aroma Kearifan Widyapratama


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.