Holga & Scanner


Dapat dikatakan scanner/proses scanning adalah sebuah jembatan antara fotografi analog dengan dunia digital yang sarat akan teknologi. Tak dapat dihindari lagi bahwa kemajuan teknologi yang semakin pesat memberikan dampak yang luar biasa terhadap perkembangan dunia fotografi analog, sekarang ini para peminat fotografi analog yang masih menggunakan pita seluloid sebagai media rekam dapat dengan mudah merubah bentuk media tersebut menjadi sebuah file digital yang tentu saja dapat dikenali serta ditampilkan oleh komputer. Fotografer tak lagi terlalu dipusingkan dengan perawatan klise/slide yang biasanya dilakukan secara berkala juga ruang penyimpanan menjadi lebih ringkas, praktis, dan tentu saja jauh lebih murah.

Selain sisi portabilitas file digital, keuntungan utama mengarsipkan klise/negative dan slide yang kita miliki kedalam format digital adalah kualitas yang terus mengikuti perkembangan jaman. Sebagai contoh klise/negative hasil pemotretan pada tahun 1990 yang tentu saja perawatannya fisiknya masih baik, lalu kita scan dengan menggunakan teknologi scanner tahun 2011. Hasilnya adalah foto klasik tahun 1990 dengan kualitas high-end tahun 2011. Lain hal nya dengan fotografi digital, foto dari kamera digital pada tahun 2000 akan terlihat jauh berbeda dengan foto yang dihasilkan oleh kamera lansiran tahun 2011, dan kualitas foto yang kita miliki “stuck” sampai disitu.

Pada masa keemasan fotografi analog, seorang fotografer setelah selesai memotret harus berkutat di kamar gelap atau lab sebagai salah satu rangkaian proses fotografis (post-proses) untuk mencetak hasil karya-nya. Post-proses yang cukup panjang ini sekarang telah dipersingkat dan begitu dimudahkan dengan melalui proses scanning, pita seluloid hanya cukup di-develop/cuci lalu di scan dan VOILA! Foto dengan cepat dapat diproses, dilihat dan dikoreksi atau bahkan di cetak melalui komputer dengan menggunakan program pengolah gambar. Walaupun begitu masih terdapat juga fotografer yang betul-betul “full manual” karena ingin memperoleh kontrol penuh atas fotonya, sampai ke tahapan pencetakan, terutama fotografer yang masih menggunakan media negatif hitam-putih.

Scanner film negatif/positif hadir dengan berbagai macam varian, perbedaan utama-nya terletak dalam spesifikasi, kecepatan kerja, serta kualitas optis yang menentukan kualitas output-nya yang berupa file digital. Kualitas output merujuk kepada keakuratan reproduksi warna, rentang dinamis, tonal, gradasi warna, detil serta ketajaman gambar dan yang terkadang juga menjadi pertimbangan adalah besaran resolusi (dpi). Scanner mana yang tepat untuk digunakan? Tentu saja yang memiliki kualitas terbaik, tetapi yang lebih penting dan jauh lebih tepat adalah dengan menyesuaikan dengan kebutuhan fotografer itu sendiri.

Faktor yang menentukan berhasil atau tidak nya sebuah foto bukan hanya tergantung kepada alat, baik itu kamera, lensa, atau bahkan media scanner sekalipun, melainkan serangkaian proses berkarya yang dijalankan oleh fotografer itu sendiri. Bukan berarti dengan menggunakan alat yang tercanggih yang ada pada saat ini dapat membuat foto yang sempurna, namun dengan alat yang sarat akan teknologi fotografer dimudahkan dari segi proses. Secanggih-canggihnya sebuah scanner tetap kontrol kualitas itu harus dijaga oleh fotografer sendiri, bukan lantas mempercayakan kepada scanner 100% serta pasrah dengan hasil yang diperoleh dengan dalih mempertahankan orisinalitas sebuah foto. Berbicara orisinalitas foto hasil scanning, kita harus mempertanyakan sebuah probabilitas yaitu jika Negatif yang di scan menggunakan scanner Merk A akan berbeda hasilnya dengan Scanner Merk B, lalu di scan dengan Scanner Merk C, juga menghasilkan gambar dengan kualitas yang berbeda. Kalau begitu, lantas foto yang mana yang orisinal?

Menurut saya orisinalitas sebuah foto bukan dinilai dari adanya atau tidak adanya post-prosess atau bahkan olah digital sekalipun, melainkan dilihat dari seberapa jauh partisipasi fotografer tersebut dalam proses berkarya untuk menghasilkan foto tersebut. Tahapan post-process setelah/dalam proses scanning tetap perlu dilakukan oleh fotografer untuk menghasilkan foto yang lebih baik daripada sekadar hasil scanning saja. Tentu saja fotografer memiliki kuasa/kontrol penuh atas kualitas visual yang akan ditampilkan dari sebuah foto baik itu dari segi pengaturan saturasi warna, kontras, cropping, burning, dodging, dsb atau bahkan imajinasi visual dalam bentuk olah digital/digital imaging. Tidak ada yang haram hukumnnya jika kita mengkolaborasikan fotografi analog dengan post-proses secara kamar terang. Hati boleh saja tetap analog tetapi mindset kita harus digital!

Sudah menjadi rahasia umum jika Holga memiliki keunikan tersendiri yang tidak dapat ditemui pada kamera lainnya dan rasanya sudah tidak perlu lagi untuk menjabarkan keunikan tersebut. Banyak fotografer yang menggunakan Holga masih malu-malu untuk memaksimalkan serta meng-eksplorasi potensi yang dimilikinya. Holga hanya sebuah alat, kamera lebih tepatnya, tetapi media perekam sesungguhnya adalah film dan sangat beruntung kita tidak terlalu memikirkan besaran megapixel atau kendala noise di sensor kamera digital. Seperti yang sudah diungkapkan diatas, dengan bantuan scanner kita dapat memperoleh hasil foto dengan taste analog dalam kemudahan serta portabilitas format digital dengan bonus resolusi/ukuran pixel yang setara dengan kamera DSLR Profesional. Sejujurnya saya terkagum-kagum melihat hasil cetakan Holga langsung dari negatif di ukuran 100x100cm, detil serta warna yang dihasilkan khas analog begitu jelas terlihat.

Sangat disayangkan jika banyak sekali pembahasan yang bersifat detil mengenai teknis aritmatika penggunaan scanner yang lebih seperti “manual book”, scanner tipe ini bisa begini dengan dpi sekian atau scanner merk itu bisa begitu dengan teknologi tertentu, tetapi mindset kita tidak dirubah untuk merangkul aspek digital kedalam post-proses fotografi analog sebagai satu kesatuan proses fotografis yang tak dapat dipungkiri eksistensi-nya.

Maka dari itu kita coba maksimalkan skill kita dalam bidang post-proses ketika sedang scanning atau sesudahnya. Ingin mendapatkan kualitas yang bagus memang harus ditebus dengan harga yang mahal, kita tidak harus selalu membeli dan memiliki sebuah alat, patut bersyukur jika di tempat kita tinggal ada lab yang memiliki scanner high-end dengan kualitas yang tidak diragukan dan kita bisa menggunakan jasa mereka. Sebagai penutup, gali lebih dalam pengetahuan bagaimana memaksimalkan scanner, kenali karakteristiknya dan post-process di kamar terang atau pada saat scanning bukanlah hal yang tabu.

HOLGA MINI-TEST: “SCANNING RESULT” Part 1-Negative Colour. Berikut adalah hasil tes kecil-kecilan untuk mencari tahu semaksimal apa output yang dihasilkan dari negatif dari kamera Holga. Juga tidak kalah pentingnya untuk mencari perbedaan keakuratan reproduksi warna dari masing-masing scanner yang diuji dalam mini tes ini, dengan mengetahui ketidak-akuratan reproduksi warna lantas kita dapat menentukan langkah post-proses apa yang diperlukan/dibutuhkan untuk mengembalikan kualitas sebuah foto agar tampil lebih baik dan akurat tentu-nya (mengacu kepada hasil cetakan dari klise/negatif)

HOLGA MINI-TEST: “SCANNING RESULT” Part 1-Negative Colour yang dapat diunduh dari link lokal berikut ini: Holga Mini Test Part 1 PDF

Enjoy!! Happy Scanning!!

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Subscribe

Subscribe to our RSS feed and social profiles to receive updates.

3 Comments on “Holga & Scanner”

  1. kalifadani Says:

    download dl ah…

    Reply

  2. kamadewa Says:

    terima kasih sekali tipsnya kang, sangat membantu sekali
    untuk yang satu ini memang lagi bingung, kebetulan saya make epson 4490

    tapi masih ada yang nyangkut nih, menurut kang san mana yang lebih menghasilkan gambar dari holga dari 4 scanner yang ada disitu?
    terus apakah masalah scan menyecan ini jadi satu ciri khas dari sifotografer?jadi wajar” aja kalo hasil scannya tidak holga sekali, sebenernya masih bingung sih yang holga sekali itu seperti apa masih belom peka warna hehehe

    makasih kang san

    Reply

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.