Pelajaran penting dalam fotografi adalah mengetahui sebuah konsep dasar bahwa kamera adalah hanya sebatas alat untuk membantu fotografer dalam merekam sebuah ruang pada waktu dan situasi tertentu. Memasuki era digital/teknologi konsep ini semakin pudar. Paradigma pergeseran cara berfikir seorang fotografer sekarang ini menunjukan eksistensi dirinya dengan menggantungkan diri kepada alat (gear oriented), dengan memiliki peralatan yang high-end pasti menghasilkan sebuah produk yang state-of-the-art. Pola pikir demikian sudah jelas sejalan dengan misi para produsen kamera yang dengan gencar setiap bulannya berlomba-lomba untuk melahirkan kamera dengan teknologi teranyar dengan segudang fitur dan fungsi, guna meyakinkan para calon konsumen bahwa foto yang bagus dapat dihasilkan dengan segudang kecanggihan yang terdapat di dalam kamera.
Harus diakui jika teknologi digital memberikan sumbangsih besar terhadap perkembagan dunia fotografi, kecanggihan teknologi dapat menghasilkan sesuatu hal yang awalnya sulit untuk dibuat dan sekarang lebih mudah untuk dibuat. Contoh paling jelas adalah pengembangan teknologi kepekaan cahaya atau singkatnya ISO, yang awalnya pada era analog pemilihan ISO film tidak se-fleksibel di era digital dan setiap tahun-nya rekor ISO dengan tingkat noise rendah di kamera digital selalu terpecahkan. Tetapi hal yang esensial yang tidak melekat pada teknologi adalah sebuah foto yang brilian datang dari jiwa sang fotografer bukan dari sensor/film yang dimiliki kamera.
Tidak ada ujungnya jika kita selalu berbicara tentang teknologi karena perkembangannya begitu pesat, ketika kita baru saja mengikuti disitulah kita sudah tertinggal lagi. Tahu dan mengerti teknologi bukan hanya sekedar pada spesifikasi alat saja, tetapi bagaimana post-process dari sebuah foto di “kamar terang” untuk membuat foto tampil lebihbaik adalah suatu keharusan bagi fotografer di era ini, lebih tepatnya “embrace the technology”. Tidak haram membahas segudang kemampuan/kapabilitas alat yang bisa begini atau bisa begitu, dengan product knowledge yang matang kita akan mengenal betul karakter alat yang sudah/akan kita miliki, tetapi lebih penting lagi jika membahas bagaimana memaksimalkan fungsi/kemampuan alat tersebut dikaitkan dengan foto yang akan kita buat. Sebagai bahan refleksi seorang fotografer akan motivasi-nya, terdapat idiom Latin yang sangat tepat “Quo Vadis?” apakah kita sebagai fotografer yang “gear oriented” atau “concept/result oriented”.
Sudah cukup rasanya tulisan diatas menjadi prolog yang mengulas sedikit tentang paradigma yang masih terjadi dalam dunia fotografi yang kian modern. Sangat timpang jika pembahasan ini hanya mengulas terus menerus paradigma fotografi hi-fi (high-fidelity) tanpa mengungkit eksistensi fotografi lo-fi(low-fidelity). Dimana terdapat sebuah CULTURE yang hidup disitulah muncul fenomena ANTI-CULTURE yang berusaha untuk menunjukkaan eksistensi nya. Ibarat dalam dunia filosofi; suatu faham yang muncul selalu diikuti oleh faham lainnya sebagai kritik atau lawan tanding, serta bahkan sebagai sanggahan atas eksistensi faham sebelumnya.
LO-FI = FOTOGRAFI ANTI-CULTURE
Begitu juga dalam dunia fotografi, ketika sebuah CULTURE yaitu mayoritas fotografer disibukkan dengan evolusi era analog ke digital (hi-fi) yang sudah berlangsung lebih dari satu dekade; tentunya evolusi ini banyak mengusung modernisasi positif dari berbagai aspek proses berkarya. Banyak telah merasakan impact atau dampak positif dengan beralihnya era keemasan pita seluloid ke algoritma sensor digital, namun tidak sedikit pihak yang masih hidup dalam euphoria kemudahan teknologi digital. Roda dunia berputar, kini teknologi analog yang sudah uzur eksis sebagai ANTI-CULTURE yaitu terbatas di kalangan minoritas yang masih menggunakan film seluloid (lo-fi) sebagai media perekam gambar. Banyak pihak yang lantas salah kaprah meng-klaim fotografi low-fi adalah sebuah fenomena, seharusnya hal ini adalah sebuah paradigma bukan fenomena.
LO-FI: FOTOGRAFI ANTI CULTURE YANG SETENGAH HATI
Sejati nya definisi fotografi lo-fi adalah merujuk kepada fotografi dengan menggunakan kamera dengan kualitas konstruksi yang pas-pasan serta sederhana dan terutama kamera tersebut minim fungsi serta fitur dan menghasilkan foto tidak sempura (imperfect) dengan sebuah/beberapa ciri khas, spt vignette, dll. Batasan secara eksplisit mengenai spesifikasi dan jenis dari kamera lo-fi itu sendiri tidak pernah ada yang mempertegas, dan seringkali terjadi perdebatan antara sesama pengguna mengenai kamera ini termasuk lo-fi apa tidak. Secara garis besar kamera lo-fi yaitu; Pinhole, Kamera Mainan (Toy Camera), Holga, Diana, Kamera Saku Analog, serta beberapa kamera lainnya lansiran Lomography.
Lebih dalam mengenai batasan kamera lo-fi itu sendiri, penulis memperoleh fakta dari beberapa sumber dari fotografer luar negeri bahwa di Eropa serta Amerika, sudah banyak kamera saku digital dengan megapixel kecil atau bahkan yang cukup mengejutkan kamera handphone pun dikategorikan serta diakui sebagai fotografi lo-fi. Jika kita sekarang ini di Indonesia sedang trend lo-fi analog, apakah kita yang sudah ketinggalan langkah dibandingkan mereka? Hal ini menurut saya sangat kontras dengan definisi dari lo-fi itu sendiri, karena pada awalnya lo-fi sebagai anti-culture eksis sebagai kritik akan fotografi digital yang selalu percaya dengan teknologi mampu menghasilkan gambar terbaik yang sempurna. Apakah ini sebuah pertanda dari in-konsistensi dari fotografi lo-fi?
Tidak dipungkiri, beberapa dari para pegiat fotografi lo-fi yang mampu untuk tetap konsisten di jalur-nya dan berhasil mempertahankan idealisme yang telah dibentuk sedemikian rupa sehingga hasil foto nya dapat dikatakan sebuah “fine art” tanpa menghilangkan unsur lo-fi nya. Namun sangat disayangkan bagi kalangan fotografer lo-fi, TERM dari “LO-FI” itu sendiri masih sering dilecehkan atau disepelekan. Fotografi dengan menggunakan kamera/peralatan lo-fi bukan berarti hasil foto dari segi kualitas nya harus menjadi lo-fi alias tidak layak tampil. Spirit atau semangat menggunakan lo-fi itu bukan untuk berlomba-lomba menghasilkan gambar se-absurd mungkin tanpa pesan/maksud serta tujuan, tetapi menghasilkan karya foto yang semaksimal mungkin dari kamera yang sederhana.
Hasil foto dari kamera lo-fi memang jauh dari kata sempurna jika kita selalu berpatokan pada kaidah teknis fotografi saja, terutama faktor keakuratan pencahayaan serta ketajaman gambar. Kaidah teknis adalah ilmu dasar fotografi yang harus dikuasai oleh setiap fotografer terlepas apapun jenis kamera-nya, namun masih banyak faktor penting lainnya yang terkadang luput dari pandangan fotografer itu sendiri ketika membuat foto tersebut atau audience yang sedang meng-apresiasi. Faktor itu bisa seperti penyampaian pesan/maksud dari sebuah foto, penjiwaan/pengahayatan sebuah foto, dsb.
Sempat penulis tercengang ketika memulai hobby di fotografi lo-fi dengan melihat ada-nya perlombaan foto lo-fi di luar Indonesia dengan semboyan yang kurang lebih seperti ini, “semakin jelek (tidak sempurna) foto anda, semakin bagus di mata kami”. Semboyan yang terdengar unik ini justru menurut penulis sangat mendiskreditkan lo-fi itu sendiri. Secara tidak langsung orang berfikir jika ingin melihat foto yang gagal total tanpa ada maksud dan tujuan tertentu, lihat saja fotografi lo-fi.
Ada pendapat yang mengatakan, “bagus itu relatif, dan jelek itu mutlak”, penulis sendiri kurang setuju dengan pendapat tersebut, penilaian tersebut dirasa terlalu rigid sedangkan dalam fotografi tidak selama nya 1+1 itu 2. Berbicara tentang fotografi tidak selalu harus berbicara teknis, dan jika dikaitkan dengan seni, dan ranah seni itu sendiri identik dengan kebebasan ber-ekspresi (freedom of self-expression), hanya saja dalam proses yang bebas ini kita sebaiknya dapat memaksimalkannya dan tidak setengah hati, Totalitas dan Taste!
Pada jaman keemasan analog, seorang fotografer dituntut untuk berusah payah dan menjadi seorang ahli untuk bekerja di kamar gelap untuk mengolah atau memperbaiki foto yang dirasa kurang baik/sempurna, dikenal dengan istilah post-process. Selain framing yang baik, timing yang tepat, faktor post-proses (pencucian, pemilihan kertas, pencetakan) gambar di kamar gelap adalah salah satu proses penting bagi seorang fotografer pada jaman itu. Beruntung saat ini kita mengalami masa-masa yang jauh lebih mudah, post-process dapat kita lakukan dalam beberapa langkah setelah proses scanning dengan waktu yang relatif singkat dengan bantuan software pengolah foto.
Post-process menggunakan “kamar terang” dengan bantuan software pengolah foto bagaikan pedang dengan dua sisi. Ada sebagian fotografer lo-fi yang menolak mentah-mentah teknik post-process ini terlebih lagi foto nya terdapat editing/olah digital/digital imaging. Lalu ada sebagian lagi yang masih bisa menerima ritual post-process sebagai satu kesatuan sistem/proses yang dibutuhkan oleh fotografer. Penulis berpendapat fotografer yang menolak post-process digital adalah fotografer yang berpikiran konservatif atau kolot, mereka menolak post-process digital tetapi kenapa mereka men-digitalkan negative? Kenapa tidak langsung dicetak saja?
Terlalu silau akan orisinalitas sebuah karya tidak membuahkan hasil yang sepadan, kalau ingin betul-betul orisinal kenapa tidak mencoba fotografi daguerreotype yang masih menggunakan pelat perak sebagai media nya? Apakah dengan proses scanning negative hasil yang kita peroleh murni 100% orisinal? Lantas apakah hasil cetak dari negative yang di-scanned akan tampil betul-betul orisinil dengan mutu cetak yang prima?
Mari kita tinjau kembali motivasi masing-masing, mengapa kita memilih lo-fi? Mengikuti trend yang tiada ujung nya? Jangan jadikan diri anda sebagai korban konsumerisme, belum menguasai satu kamera, lalu berganti kamera lain. Ingin tampil beda dengan orang lain? Tentu saja kita harus mengetahui dengan jelas bidang yang akan kita tekuni, dan kita memang betul-betul mempunyai unsur pembeda, tidak hanya memotret asal-asalan saja. Sangat baik jika kita telah betul-betul dapat menjiwai spirit dari lo-fi itu sendiri, yaitu kamera boleh lo-fi tetapi hasilnya hi-fi!
Salam!

















18/11/2011 at 10:48
hasil foto yang ga sempurna , misalnya blur, kalo kita pintar dalam menemukan PoI nya bakal lebih punya seni dari pada foto tajem yang ga ada konsepnya sm sekali…
1 lagi, jangan minder kalo punya gear pas-pasan, justru dengan gear pas-pasan itu skill kita diuji, seklaigus mengingatkan diri sendiri
artikel bagus masgan…
salam
18/11/2011 at 11:00
Betul sekali mas! Trims dah mampir.. Salam!
08/06/2012 at 23:27
tulisan yg keren sangat bermakna om
09/06/2012 at 11:22
Trims Om Shandy…
Salam!