Travel Photography / Foto Wisata
Secara sekilas travel photography atau foto wisata adalah sekumpulan foto dokumentasi pemandangan alam, objek wisata, manusia & budaya, serta arsitektur yang direkam selama perjalanan wisata atau liburan. Lebih jauh penulis mengutip definisi dari The Photographic Society of America (PSA), “foto wisata adalah sekumpulan gambar yang me-representasikan perasaan tertentu akan sebuah tempat di waktu tertentu dimana foto-foto tersebut merekam kondisi alam, manusia dengan budaya-nya tanpa mengenal batasan geografis”. Foto wisata tidak hanya dihasilkan oleh para fotografer amatir, namun para fotografer professional banyak juga yang menekuni bidang ini, contohnya para fotografer di majalah National Geographic.
Tidak dipungkiri perkembangan travel photography berbanding lurus dengan situasi dan kondisi ke-pariwisataan sebuah negara, semakin baik dan sering di upgrade fasilitas serta sarana dan prasarana menuju/di tempat wisata yang diberikan oleh negara, semakin banyak juga pelancong yang mengunjungi tempat wisata, dan efeknya semakin banyak foto-foto yang dihasilkan dari tempat tersebut. Dapat kita lihat saat ini begitu banyak dan gencar kampanye wisata baik itu di dalam negeri atau luar negeri oleh pemerintah lokal di Indonesia, terutama dalam mempromosikan wisata di Indonesia Timur yang belum terlalu di-eksplore keindahan dan keunikannya. Tidak ketinggalan pula berbagai organisasi, departemen bahkan perusahaan lokal turut meramaikan dengan mengadakan perlombaan foto wisata yang hadiahnya cukup menggiurkan!
Memang ber-wisata ini dapat diartikan sangat luas, mulai dari orang yang sedang berkunjung atau melakukan perjalanan domestik ke objek-objek wisata di sekitar kota atau tempat tinggal atau perjalanan mancanegara dari satu negara ke negara lain, baik itu sekadar untuk menghabiskan masa liburan bersama keluarga atau trip dengan kawan-kawan. Salah satu kegiatan kita sebagai penggemar toy camera di saat liburan, adalah mengunjungi sebuah kota atau objek-objek wisata dan merekamnya ke dalam film yang menggunakan kamera low-fidelity. Karena itu, bila kita saat ini tengah merencanakan perjalanan wisata di liburan mendatang dengan membawa serta toy camera andalan, artikel ini dapat memandu anda dalam mempersiapkan diri untuk itu.

Gedung Merdeka salah satu ikon arsitektur bergaya art-deco abad-19 di Kota Bandung. (Holga 120GN w/ Kodak Ektacolor 160)
Persiapan Diri
Foto wisata adalah salah satu genre fotografi yang sangat menarik, karena di dalamnya terkait berbagai macam bidang objek fotografi dan tentunya setiaptempat yang dikunjungimemiliki pesona, karakter, dan suasanayang khusus. Kita inginfoto dokumentasi perjalanan itu tampil dengan hasil yang baikdan abadi, kedua hal itu adalah esensi kualitas yang harus teratanam sebelum memotret,Bob Krist dalam buku nya “Spirit of Place: The Art of the Traveling Photographer” mengatakan foto wisata yang berhasil adalah foto yang mampu merekam “SPIRIT OF PLACE”.Sebuah foto wisata yang berhasil itu jika mampu menangkap jiwa dan bercerita banyak akan memori serta kesan di suatu tempat tersebut.

Pemandangan alam di pagi hari di Pangalengan, Bandung Selatan, Jawa Barat. (Holga 120GN w/ Kodak Ektacolor 160)
Hal pertama dan yang terpenting, pilih dan tentukan tujuan. Baik itu pantai, gunung, kota, atau kuliner yang jelas menarik bagi kalian. Mungkin ada banyak aspek menarik lain yang belum kalian sadari. Disitulah kita membutuhkan referensi. Fotografer untuk National Geographic menghabiskan banyak waktu dalam melakukan penelitian dan mencari referensi. Hal ini membantu kita mengetahui informasi dengan akurat. Baca brosur dan buku-buku perjalanan. Pergi ke perpustakaan, toko buku, atau browsing di web. Berdiskusi dengan teman yang telah mengunjungi tempat itu. Bahkan, mengambil informasi wisata di masing-masing kedutaan negara yang bersangkutan. Tidak lupa untuk mempelajari dan memahami kebiasaan dan tradisi lokal dari sebuah daerah adalah kunci yang sangat penting. Penulis sangat yakin jika kalian ingin memastikan diri kalian bertindak/berbicara dalam cara yang sopan saat berada di sana. Mengetahui sedikit bahasa lokal akan memberi poin plus!
Jangan khawatir jika hanya kamera mainan saja yang kalian siapkan untuk bepergian! Bawa selalu kamera tersebut kemana kalian pergi, hasil foto yang baik tidak selalu dihasilkan dari kamera yang mahal dan canggih. Toy camera dengan hasil nya yang unik dan berkarakter lo-fi selalu memiliki ciri khas sendiri dalam menghasilkan foto yang mana belum tentu semua kamera canggih dapat menghasilkan keunikan seperti Holga misalnya. Hanya saja kita lebih harus memperhatikan lagi hal-hal teknis dan non-teknis untuk memaksimalkannya, bukan sekadar asal jepret, dengan kata lain “be there, done that”.
Foto Wisata ini sekurang-kurangnya mencakup genre fotografi sebagai berikut:
- Landscape
Setiap kali kita bepergian, di sepanjang perjalanan kita akan menjumpai pemandangan alam atau panorama yang menawan. Oleh sebab itu jangan ragu untuk segera berenti atau menghentikan kendaraan untuk merekam pemandangan tersebut.
- Human Interest (Candid, Manusia, & Budaya)
Suatu lokasi/daerah memiliki keunikannya tersendiri, hal itu tercermin dari aktivitas manusia-nya. Dengan menemukan aktivitas khas daerah tersebut baik itu manusia-nya atau budaya-nya ditambah dengan interaksi yang tidak kaku, kita akan menangkap esensi yang dinamis dari daerah tersebut.
- Arsitektur
Tidak jarang ciri sebuah kota terdapat dalam arsitekturnya, bangunan tua yang dijadikan landmark atau icon dari sebuah daerah. Jangan terpaku arsitektur itu hanya di kota saja, bangunan atau rumah di pedesaan yang identik dengan kesederhanaan justru menambah daya tarik fotografis.
- Lain-lain.

Nuansa lain dari sudut pengambilan yang berbeda di lokasi Air Terjun Madakaripura, Probolinggo, Jawa Timur. (Holga 120GN w/ Kodak Ektacolor 160 + CPL)
Yang dimaksud dengan lain-lain disini tentunya sangat bergantung kepada kejelian dan minat kalian dalam mendeteksi objek-objek pemotretan. Dengan luas nya bidang fotografi yang terkait dengan travel photography ini, maka mempersiapkan diri adalah hal yang mutlak sebelum bepergian. Pernahkah kalian merasa menyesal karena tidak membawa film lebih atau kamera yang tertinggal ketika sedang bepergian? Dalam hal-hal seperti ini jelas kita dituntut untuk siap secara mental, fisik serta materi.
Secara mental kita lebih mengutamakan kejelian kita untuk menemukan suatu objek yang tepat dengan timing yang pas. Misalnya jika kita sedang berwisata ke Bali, jika kita tidak mempersiapkan secara mental maka kita akan terlalu larut dalam suasana ”kehidupan” para turis disana, objek yang seharusnya bisa kita dapatkan maka akan luput dari bidikan si toy camera. Improvisasi dalam mencari sudut pengambilan sangat penting, ambil contoh CorentMeester seorang fotografer yang memotret tari kecak di dekade 80an dengan angle yang tidak lazim pada waktu itu, dari atas, sehingga menghasilkan foto yang benar-benar eye-catching dan totally diferrent. Sesungguhnya dengan menggunakan toy camera kita sudah memiliki poin plus dalam proses pembuatan sebuah foto, yaitu keunikannya, tergantung pada kita berusaha untuk mencari momen yang terbaik yang didukung dengan timing yang pas, hasilnya akan EXTRA ORDINARY!!
Sejalan dengan persiapan mental, harus ada pula persiapan fisik. Artinya kita harus benar-benar fit untuk menelusuri tujuan-tujuan wisata yang yang seringkali sangat melelahkan, apalagi di atas pundak atau punggung kita tergantung tas yang berisikan segala macam peralatan memotret, yang beratnya meski tak seberapa, namun dalam perjalanan yang jauh dan panjang, kadang-kadang terasa “membebani”.
Persiapan Alat-Alat Fotografi
Dalam mempersiapkan suatu pemotretan baik dalam foto wisata ataupun genre fotografi lain, persiapan materi ini hendaknya diperhitungkan dengan matang, supaya tidak kecewa di saat bepergian karena kecerobohan sepele yang kita buat sendiri! Mempersiapkan peralatan memotret dengan toy camera umumnya itu mencakupi:
a. Kamera
Kamera yang dibawa bepergian diusahakan kamera yang dalam kondisi prima, tidak ada masalah teknis yang dapat menghambat pemotretan. Batasi diri membawa toy camera yang begitu banyak variannya, 2-3 macam kamera sudah lebih dari cukup, 1 kamera dengan lensa wide dan 1 lagi lensa mid. Walaupun secara itungan berat, toy camera tergolong ringan, namun masalahnya itu konsentrasi kita akan terpecah.
b. Film
Bawa film secukupnya, jangan sampai kekurangan film berdampak pada membatasi pemotretan, dan jangan jadikan diri kalian toko berjalan dengan membawa film terlalu banyak. Siapkan film dengan ISO yang bervarian, jumlahnya disesuaikan dengan lokasi pemotretan. ISO 100 s/d 800 sudah mencakup keseluruhan. Warna atau Hitam Putih? Tergantung kebutuhan dan selera kalian.
c. Filter (jika kamera ada tempat untuk dipasang ring, Holga/Diana misalnya)
Filter polarisasi (CPL) akan memperkuat kepekatan warna langit dan dedaunan, atau filter ND berguna menurunkan densitas cahaya yang masuk, cocok untuk memotret dengan teknik slow-speed. Atau filter kreasi yang lainnya yang dapat membuat foto tampil lebih unik dan kreatif.
d. Asesoris
Asesoris fotografi seperti tripod & cable release juga tidak salahnya dimasukan dalam persiapan peralatan. Untuk pemotretan dengan kecepatan rana rendah dan menghindari goyang lebih baik menggunakan dua asesoris ini. Flash juga cukup penting untuk dibawa.
e. Lain-Lain
Selotip, karet dan gunting serta changing bag sepertinya sudah menjadi perkakas wajib fotografer toy camera. Untuk menutupi bagian yang leak, tentu saja lebih mudah jika peralatan itu dibawa serta. Changing bag dapat digunakan untuk menyimpan film 120mm yang “fat-roll” atau gulungannya tidak sempurna.
f. Tas Kamera
Tas kamera yang dibawa lebih baik yang dapat menampung semua peralatan penting menjadi satu, semakin ringkas, semakin baik dan tidak mencolok.

Salah satu ikon peradaban budaya Indonesia dan tujuan favorit para pelancong, Candi Borobudur. (Holga 120GN w/Kodak Ektachrome 100)
bersambung di artikel Travelling bersama Toycam: Part II, membahas detil tentang “Panduan di Lokasi” dan “Apa yang Harus Kita Potret?”.
Sumber:
Krist, Bob. Spirit of Place: The Art of the Traveling Photographer, Amphoto Books, 2000. ISBN-13: 978-0817458942
Krist, Bob. Travel Photography: Documenting the World’s People & Places, Lark Books, 2008. ISBN-13: 978-1600591105.
duChemin, David. Within the Frame: The Journey of Photographic Vision, New Riders Press; 1st edition, 2009. ISBN-13: 978-0321605023
G Sukarya, Deniek. Kiat Sukses Deniek G. Sukarya: Kumpulan Tulisan Fotografi, Elex Media Komputindo Edisi Ketiga, 2010. ISBN-13: 978-979-27-600-3
I’Anson, Richard. Lonely Planet Travel Photography: A Guide to Taking Better Pictures, Lonely Planet; 3rd edition, 2009. ISBN-13: 978-1741046892
Stuckey, Scott. National Geographic Ultimate Field Guide to Travel Photography, National Geographic Press, 2010. ISBN-13: 978-1426205163
http://psa-photo.org/, diakses dan diunduh pada tanggal 23 April 2006.



















22/01/2012 at 19:11
halo, salam kenal.
mau tanya, changing bag bisa beli dimana ya?
aku sudah punya tapi yang ukuran besar, dan itu agak tidak praktis.
kebetulan aku juga punya holga
23/01/2012 at 01:18
Hi!
Changing bag bisa dibeli di Pasar Baru Jakarta…
Banyak toko2 kamera yang masih menyediakan changing bag dalam berbagai ukuran.
Salam!