Zone System & 35mm

09/07/2011

Photography


oleh: Kayus Mulia

Setelah beberapa waktu mempelajari dasar-dasar Zone System (ZS) dan aplikasinya, berikut ini jawaban atas beberapa pertanyaan yang mungkin akan timbul sehubungan dengan pemakaian ZS dalam pemotretan hitam putih:

Tanya:

Apakah ZS hanya dapat dipakai dengan mempergunakan view camera dan tidak untuk kamera 35mm maupun 120mm?

Jawab:

Pemakaian ZS secara optimal memang mensyaratkan pemakaian view camera karena setiap lembar film diproses secara individual sesuai dengan rentang kontras (s.b.r. = scene brightness ratio) pada waktu pemotretan dan dengan demikian mengoptimalkan setiap exposure yang dibuat. Sebenarnya dalam kata ZS ini tidak terdapat kata yang menunjukkan format ataupun ukuran film maupun kamera yang digunakan. Penggunaan format kamera tertentu, sebenarnya lebih menunjukkan gaya kerja ataupun pemikiran dari pemakai dalam hal ini si fotografer sendiri. Kamera 35mm lebih mengutamakan kecepatan daripada komposisi ataupun Fine Print. Terlalu sering kita mendengar istilah “menangkap moment” yang dipopulerkan oleh tokoh utama fotografi jurnalistik Henri-Cartier Bresson (HCB). Disini lebih dipentingkan moment daripada cara cetakan maupun kertas diatas mana foto itu dicetak. Foto jenis jurnalisme ini malah kebanyakan direproduksi diatas kertas yang paling buruk, yaitu kertas koran!

Sebagai catatan, fotografer jurnalis kaliber dunia kebanyakan memproses sendiri film dan mencetak sendiri karyanya diatas kertas FB. Untuk ini lebih dibutuhkan kecepatan reaksi maupun cara memfokus kamera secara cepat dan tepat yang dengan sendirinya mengarah ke format 35mm itu tadi.

Padanan kata yang dipopulerkan oleh tokoh fine art photography seperti Ansel Adams (AA), adalah previsualisation”. Seperti kita ketahui, HCB menggunakan kamera Leica 35mm dan AA menggunakan view camera ukuran 20x25cm! Ini adalah dua tokoh ekstrim yang sudah kita kenal dengan masing-masing filosofi-nya. Sebenarnya antara decisive moment dan previsualisation tadi tidak ada batas yang jelas. Kedua-duanya digunakan dalam saat yang bersamaan. Contoh paling jelas adalah foto AA yang terkenal “Moonrise over Hernandez”. Itu direkam ketika AA dalam perjalan kesuatu tempat dan ditengah perjalan dia melihat pemandangan tersebut. Mengingat bahwa sang bulan tidak akan berada disitu selamanya, AA dengan cepat mengeluarkan kameranya (view camera 20x25cm) dari dalam mobil dan langsung membuat exposure yang terkenal itu. Apakah ini faktor keberuntungan? Faktor keberuntungan hanya memihak pihak yang siap (Luck favours the ready). Dalam waktu yang “sekian detik” itu, AA sudah membuat kalkulasi ZS dibenaknya lengkap dengan cara memproses film sampai pada pemakaian kertasnya! Ini adalah kombinasi antara decisive moment dan previsualisation tingkat tinggi! Yang lebih penting untuk kita ketahui, bahwa untuk sampai pada saat “sekian detik” itu dibutuhkan waktu selama bertahun-tahun dengan cara berlatih dan terus berlatih! Apakah HCB menggunakan ZS? Jawabannya adalah “YA!”, HCB tidak menggunakan light meter karena dia dapat mengukur cahaya hanya dengan cara melihat dengan matanya! Jadi selama itu ia sudah mengembangkan suatu sistem yang sesuai dengan cara kerja dan materinya sehingga dapat menghasilkan foto yang ada dibenaknya (previsualisation!).

Kembali pada ZS yang sedang kita bahas, pada awal tulisan ini telah disebutkan bahwa ZS hanya sebuah alat komunikasi yang menjadi “jembatan” kepada pemahaman akan fotografi, agar kita dapat merealisasikan ide maupun konsep sebuah gambar yang ada dipikiran kita. Bukankah ini adalah sebab kita mempelajari fotografi, untuk merealisasikan ide atau konsep kita dalam bentuk dua dimensi? Seperti disebutkan diatas penggunaan view kamera akan lebih memudahkan kontrol karena film yang kita gunakan diproses satu per satu. Untuk medium format/120mm, ini dapat diatasi dengan menggunakan 3 magazine. Satu untuk Normal (N), satu untuk N – minus dan satu lagi untuk N + Plus. Kamera medium format tanpa magazine pengganti tidak berbeda dengan kamera 35mm dan tetap dapat dipakai jika kita siap menerima beberapa kompromi terhadap hasil akhir. Keuntungan dari medium format adalah ukuran negatif yang lebih besar. Dalam kondisi yang sama, saya akan memilih menggunakan kamera medium format yang manual daripada 35mm yang paling canggih sekalipun! Perbedaan antara 35mm dan medium format sudah tampak pada pembesaran 20x25cm saja! Dari segi biaya, saya akan memulai dengan view camera lalu perlahan-lahan menggunakan medium format. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa view camera dapat lebih murah daripada medium format ataupun 35mm papan atas!

Tanya:

Bukankah dengan terlalu memikirkan peletakkan zona, akan mengurangi kreatifitas?

Jawab:

Pada pemotretan dengan menggunakan ZS, kita akan lebih mampu untuk memprediksi hasil akhir yang akan kita peroleh, daripada tanpa pemikiran sama sekali. ZS ini harus dapat kita kuasai sedemikian rupa hingga menjadi naluri kedua tanpa harus memikirkan lagi catanya mengayuh, mengerem, dan sebagainya, dan hanya memikirkan arahnya saja.

Tanya:

Dengan kamera professional yang super canggih saat ini, masih perlukah kita mempelajari ZS?

Jawab:

Produsen kamera selalu mencoba membuat kita percaya, bahwa kita tinggal menggunakan program “P” dan semuanya akan selesai dengan sendiri nya. Apalagi dengan diberi embel-embel kata “professional” Dengan membeli kamera professional saja sudah menjadikan kita-seolah-olah seorang professional! Yang benar adalah, alat-alat tersebut memang dipakai oleh para professional dan bukan sebaliknya, dengan menggunakan alat professional dapat menjadi professional!

Tanya:

Jadi darimana saya harus mulai?

Jawab:

Mulailah dengan menggunakan peralatan yang paling baik yang dapat kita miliki. Jika kita belum memiliki kamera sama sekali dan ingin mempelajari fotografi secara serius, belilah yang terakhir terdahulu (“buy the last camera first”). Ini adalah hal yang tidak pernah terpikirkan oleh pemula dan untuk jangka waktu panjang akan lebih murah daripada melakukan jual-beli yang tidak ada habisnya! (Kamera pertama saya adalah Nikon yang saat ini, 28 tahun kemudian masih saya gunakan). Tidak perlu lengkap sekaligus, tapi juga jangan membeli yang mudah rusak. Mulailah dengan satu kamera, satu lensa dan (puluhan bahkan ratusan rol dari) satu jenis film. Film yang baik misalnya Fuji Neopan 400 Professional karena tersedia dalam ukuran 135 dan 120mm. Untuk sheet film dapat digunakan Fuji Neopan 100 Professional. Fuji Neopan sangat fleksibel karena dapat diproses dalam berbagai jenis pengembang seperti D-76, Tetenal Ultrafin maupun Ultrafin Plus yang menghasilkan negatif dengan butir yang halus dan kontras yang dapat disesuaikan dengan menggunakan ZS.

1. Disadur dari artikel milik Kayus Mulia atas persetujuan beliau dalam Rubrik Master Photography (Black & White) dalam Majalah FOTOmedia Edisi No. 20 Tahun IX Januari 2001 halaman 36.

PS: Trims Om Kayus Mulia!

About these ads
, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Subscribe

Subscribe to our RSS feed and social profiles to receive updates.

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: