Umumnya sekarang ini banyak fotografer telah beralih ke dunia fotografi digital yang mana untuk menghsilkan efek yang kurang lebih sama dengan filter konvensional (tertentu) dapat dengan mudah diakali oleh software pengolah foto seperti Adobe Photoshop dengan beratus-ratus plug-ins, filters atau actions. Lantas buat apa kita membeli banyak filter dan tentu saja tidak murah harga nya. Menurut Koelitinta, masih terdapat esensi kegunaan dari filter yang belum dapat digantikan oleh kemudahan teknologi software pengolah foto, akan lebih baik tentu nya jika kita dapat membuat sebuah foto yang baik dan benar tanpabanyak campur tangan software pengolah foto, istilahnya “it is right from the beginning”. Sebagai fotografer kita tidak lantas mencampakan begitu saja perkembangan teknologi, ada kala nya kita perlu merangkul teknologi yang mempermudah proses berkarya, cara berfikir kita boleh digital, tapi proses nya sebaik mungkin dengan cara konvensional.
Pada bagian pertama telah dijelaskan serangkaian cara pemasangan filter dengan sistem holder berikut peralatan yang dibutuhkan pada kamera Holga, dan pada bagian kedua ini Koelitinta akan berbicara mengenai pemilihan, penggunaan serta pemaksimalan filter yang digunakan pada kamera Holga. Walaupun secara fotografi teoritikal nya sama antara kamera Holga dengan SLR dalam hal penggunaan filter, tetapi ada beberapa hal esensial yang membedakan kedua-nya, yaitu:
- Viewfinder
Pada kamera Holga, viewfindernya tidak di design untuk menampilkan citra yang dipantulkan prisma melalui lensa layaknya SLR, melainkan viewfinder nya terpisah yang terpasang di pinggir body, sehingga selain terdapat parallax error, jendela bidik nya tidak menampilkan kondisi sesungguhnya ketika sedang memotret (non- WYSIWYG). Jadi ketika dipasangkan filter, kita tidak bisa melihat kondisi yang terjadi sesungguhnya.
- Metering
Tidak seperti kamera SLR yang umumnya memiliki built-in metering untuk mengukur cahaya, sehingga kita bisa dengan akurat menentukan kombinasi kecepatan rana, bukaan serta ISO film. Holga tidak dilengkapi dengan fitur metering, jadi untuk menghasilkan gambar dengan pencahayaan (eksposur) yang tepat ketika menggunakan filter kita mempunyai beberapa alternatif yang akan dibahas dibagian selanjutnya.
Pemilihan Filter
Dalam memilih asesoris fotografi kita selalu dihadapkan pada dua alternatif, yaitu asesoris yang bagus dengan harga mahal atau asesoris yang second grade atau third grade dengan harga yang terjangkau. Disini kita dituntut untuk bijak dalam memilih asesoris yang tepat guna, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Jika kebutuhan kita hanya terpaku pada kualitas, maka jangan ragu untuk membeli yang bagus sekalian. Filter yang bagus adalah filter dengan harga yang mahal. Dapat disimpulkan riteria bagus disini adalah sebagai berikut:
- Menghasilkan warna yang netral, tidak meninggalkan colour cast pada gambar;
- Terbuat dari bahan dengan kualitas high-grade, umumnya resin dan glass;
- Memiliki fitur coating atau multicoating untuk mempertahankan kontras gambar;
- Ketahanan (durability) nya tidak diragukan.
Umumnya berbicara tentang filter pasti tidak akan lepas dari fotografi landscape atau pemandangan alam, namun filter yang tersedia di pasaran tidak hanya sebatas style fotografi tertantu, misalnya filter close-up bisa dijadikan alternatif fotografi macro, filter koreksi warna untuk mengkoreksi white balance (umumnya dipakai pada era fotografi analog), filter warna untuk menaikan kontras pada fotografi hitam putih, atau filter kreatif seperti efek star dan centre spot atau soft focus yang dipakai sesuai dengan kebutuhan dari masing-masing fotografer. Dalam pembahasan ini Koelitinta secara spesifik akan membahas mengenai filter yang umumnya digunakan pada fotografi landscape saja.
Terdapat dua standar sistem filter yang secara general masih dipakai yaitu:
1. Sistem Screw-in Filter/ Ring Filter
Besarnya filter sesuai dengan diameter lensa mis. ND4 ø 77mm
Filter yang sangat umum ditemui, dikenal juga dengan nama threaded round filter karena bentuk yang bulat mengikuti diameter lensa. Lebih simple dikenal dengan sebutan “ring filter”, karena dipasangkan di depan lensa sesuai fungsi-nya.
Kelebihannya filter dengan sistem ini adalah ergonomis yang baik, pemasangan tidak sesulit sistem holder, serta mudah dibawa-bawa dan tidak membutuhkan space yang besar. Sedangkan kekurangannya adalah jika mempunyai lensa dengan diameter berbeda kita harus punya 2 filter yang sama untuk dua lensa tersebut, lantas pengaturan posisi gradasi (vertikal) tidak sefleksibel sistem holder karena filter terkunci di ring lensa. Merk: Hoya, Kenko, B+W Marumi, Singh-Ray, Tiffen, Nicna, Fotga, dsb
2. Sistem Holder / Cokin System
Sistem ini mempergunakan bantuan holder dan ring sebagai alat pemasangan filter ke lensa, filter yang digunakan umumnya berbentuk kotak dan persegi panjang. Pabrik Cokin Prancis membuat berbagai macam filter dengan holder dalam tiga ukuran yang secara kolektif dikenal sebagai Sistem Cokin. “A” adalah 67 mm ukuran lebar, “P” ukuran lebar 84 mm, Z dengan lebar 100mm dan “X Pro” 130 mm lebarnya. Banyak produsen lain seperti Lee Filters membuat filter yang cocok dengan sistem Cokin. Kebanyakan filter ini terbuat dari resin optik seperti CR-39.
Sistem ini memiliki keunggulan dari segi kontrol fungsi dan fleksibilitas fotografer untuk menentukan penggunaan masing-masing filter secara lebih maksimal dibandingkan dengan sistem screw-in filter. Sebagai contoh jika kita menggunakan filter ber-gradasi, maka fotografer dapat menentukan secara presisi area mana yang akan terkena bagian gradasi-nya. Memiliki banyak lensa dengan diameter yang berbeda, tidak akan menjadi masalah karena filter yang sama dapat digunakan di holder dan ring yang berbeda. Sisi kekurangan yang cukup vital bagi sebagian fotografer, yaitu media penyimpanan filter yang cukup besar serta kurangnya segi ergonomis ketika kita memasangkan filter di lensa. Merk: Cokin, Lee Filter, Formatt, Hitech, Singh-Ray, Tiffen, Tian-Ya, Optic Pro,dsb.
Filter yang umumnya dipakai u/ Fotografi Landscape:
- Filter CPL (Circular Polarizer)
- Filter ND (Neutral Density)
- Reverse ND
- Gradual ND (Soft & Hard)
- Stripe ND
- Filter Gradual (Gradual Colour)
- Grad Blue
- Grad Sunset
- Grad Twilight
- Grad Coral, dsb.
Koelitinta sendiri lebih memilih filter dengan sistem holder baik untuk kamera Holga dan DSLR/SLR, karena kemudahan dalam hal pengaturan posisi serta fleksibilitas dalam penggunaan dengan lensa lain yang diameternya berbeda. Berikut filter-filter yang koelitinta pakai untuk landscape:
Kamera Holga 120
- Cokin A ND4 (0.6)
- Cokin A ND8 (0.9)
- Cokin A GND Soft/Hard 4 & 8
- Cokin A CPL
- Cokin A 007IR
- LSI Filter (Solid Color for BW, Soft Surround, etc)
- Kokaii UV
Kamera DSLR
- Lee Filter = Cokin Z = Hitech 101
- Lee ProGlass ND 0.6, 0.9, 3.0
- Hitech GND Soft 0.3, 0.6, 0.9
- Hitech GND Hard 0.3, 0.6, 0.9
- Hitech Landscape Kit
- Hitech Black and White Kit
- Cokin Z CPL
- Tian Ya P Filters
Filter dan Aplikasi-nya
Filter dapat dikatakan sebagai sebuah sistem asesoris fotografi yang terbuat dari media transparant yang digunakan untuk sebuah tujuan penyesuaian dan eksperimen pada saat pemotretan. Dikatakan sebagai sebuah sistem karena pada nyata-nya filter dapat hadir dalam berbagai macam dan bentuk serta fungsi nya yang khas. Dikatakan media transparant karena semua filter pasti transparant, hanya saja tingkat kepekatannya yang berbeda-beda, dan bahan yang digunakan pun bermacam-macam, bisa terbuat dari gelas/kaca atau bahan plastik, polycarbonate bahkan gelatin.
Filter memungkinkan fotografer untuk memiliki kontrol lebih dari gambar yang akan dihasilkan. Kadang-kadang fiter hanya digunakan untuk membuat perubahan halus / koreksi untuk gambar, di lain sisi terdapat beberapa filter untuk eksperimen pada sebuah gambar yang mana tidak mungkin terjadi tanpa bantuan filter tersebut. Umumnya tujuan penggunaan filter adalah untuk melindungi lensa, mereduksi sinar, menselaraskan sinar, dan mengkoreksi temperatur warna, dan menyeimbangkan perbedaan kontras. Filter dapat menambahkan efek khusus atau kemampuan untuk lensa kamera anda. Memahami bagaimana filter bekerja akan memberikan kita sebuah asesoris / tambahan peralatan untuk menciptakan sebuah foto yang menarik.
Aspek negatif dari menggunakan filter walaupun sering kali diabaikan, adalah kemungkinan kehilangan “definisi” dari sebuah gambar jika menggunakan filter yang kotor atau tergores, dan nilai eksposur tentu saja meningkat, karena pengurangan cahaya ditransmisikan melalui lensa. Beberapa merk filter dengan kualitas yang lebih rendah menyebabkan degradasi kualitas reproduksi optik lensa, berarti mereka dapat menyebabkan warna cetakan pada foto yang diambil menjadi turun kualitasnya. Yang pertama sebaiknya dengan menggunakan filter secara hati-hati dan tentu saja pemeliharaan filter, sedangkan yang kedua adalah masalah teknik, biasanya tidak akan menjadi sebuah masalah yang dilematis jika direncanakan dengan baik, tapi dalam beberapa situasi menggunakan filter dirasakan tidak praktis.
Filter Factor
Dalam penggunaan filter terdapat teori kalkulasi, yaitu FILTER FACTOR yang mengacu pada perkalian jumlah cahaya yang dihasilkan dari cahaya yang tersaring oleh filter yang mana hal tersebut berkaitan dengan naik/turunnya f/stop atau nilai eksposur dari sebuah gambar. Jumlah f/stop yang diperlukan untuk memperbaiki eksposur dengan penggunaan filter tertentu dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Filter factor = 2X
Dimana eksponen “X” adalah jumlah naik-nya f/stop yang diperlukan
Sebuah filter ND8 dengan filter faktor 8,
maka eksposur yang pas itu harus naik +3 Stop (8 = 23) atau dengan kata lain dipasang nya ND8 menurunkan eksposure sampai 3 stop.
Hitungan naik atau turunnya nilai diafragma, kecepatan rana, dan ISO/ASA yang terangkum dalam Exposure Value (Nilai Pencahayaan) dalam sebuah kondisi cahaya tertentu, umumnya disebut dalam hitungan “STOP”. Hitungan “stop” ini memiliki tiga varian yaitu hitungan dalam cacahan penuh (1), setengah (1/2) dan sepertiga (1/3).
Dalam fotografi dan optik, filter Neutral Density atau ND filter adalah filter “abu-abu”. Berguna sebagai penyaring cahaya dan mengurangi densitas ideal cahaya dari semua panjang gelombang (wave-lengths) atau warna. Tujuan dari filter ND adalah untuk memungkinkan fleksibilitas fotografer yang lebih besar untuk mengubah/memainkan eksposur baik dari aperture atau speed, yang mana memungkinkan kontrol yang lebih besar, terutama dalam situasi “tricky”. Jenis ND cukup bervariasi, yaitu Gradual ND, Stripe ND serta Reverse ND dengan densitas kepekatan yang berbeda-beda.
Contoh Kasus:
Foto air terjun dibawah ini adalah hasil percobaan untuk mencari eksposure yang tepat dengan menggunakan filter ND8. Eksposure normal hasil metering “light meter” adalah dengan f/11 di ISO 160 didaptkan kecepatan rana ½”. Jika kita kita merujukHolga tidak mempunyai pilihan kecepatan rana tersebut, jadi filter ND8 memiliki fungsi nya, ND8 kita ketahui menurunkan f/stop sampai 3 stop jadi kecepatan rana setelah menggunakan filter ND8 adalah 4 detik (1/2” > 1” > 2” > 4”). Lantas kenapa saya menggunakan kecepatan rana 5 detik? Sengaja dibuat 5 detik agar bebatuan tidak terlalu under exposed, karena pada awalnya hanya dilakukan metering di bagian air saja. Percobaan kedua adalah denagn menggunakan kecepatan rana 10” 11/3 stop lebih dari yang sudah ditentukan, dan tentu saja hasilnya over exposed.
Pada dasarnya menggunakan filter di kamera Holga tidak sesulit yang dibayangkan, asalkan kita telah memahami konsep EXPOSURE terlebih dahulu, karena itu ada baiknya kita mempelajari tabel exposure value sehingga kita memiliki patokan eksposure di kondisi cahaya tertentu yang tidak akan jauh meleset dari eksposure yang tepat. Setelah kita menguasai resep keseimbangan eksposure, kita bisa berimprovisasi dengan mudah.
Contoh Kasus 2:
Foto pemandangan di pagi hari dengan cahaya matahari yang begitu melimpah dengan sedikit area shadow, jika kondisi cahaya ini disesuaikan dengan tabel exposure value Nomor 13-14, yaitu Typical scene, cloudy bright (no shadows) atau Typical scene in hazy sunlight (soft shadows). Jika Kita berpatokan pada EV ini maka mendapatkan rumusan eksposure di ISO 100 f/11 dan kecepatan rana antara 1/125’-1/250’. Tapi saya sudah terlanjur memakai film dengan ISO 400, lantas bagaimana?? Apakah saya harus mengganti film atau masih bisa diakali menggunakan filter? Tentu masih bisa diakali dengan catatan kita harus menghitung ulang kecepatan rana serta filter apa yang akan kita gunakan.
Rumusan Awal EV No.13-14 adalah ISO 100 f/11 @ 1/125’-1/250’. Jika kita menggunakan film ISO 400 dan f/11, maka kecepatan rana yang ideal seharunya naik 2 stop yaitu antara 1/500’-1/1000’. Holga tidak memiliki fungsi pengaturan kecepatan rana ini. Lantas saya gunakan filter CPL (-3 Stop) dan ND 4 (-2 Stop), sehingga kecepatan rana bisa saya pelankan sampai 5 stop di angka 1/15’-1/30’. Akhirnya saya pilih mode BULB dan kecepatan rana saya pastikan di 1 detik untuk memudahkan. Di akhirnya pada proses develop saya pull kira2 2 stop mengkompensasi kelebihan eksposure di angka 1 detik yang seharusnya 1/15’-1/30’. Kalau saja saya membawa filter lainnya maka tidak perlu saya melakukan pulling process di waktu developing.
Contoh Kasus 3:
Foto refleksi ini diambil menggunakan bantuan filter Gradual ND, yang memungkinkan kita untuk menyeimbangkan eksposure antara 2 bidang (foreground & background) yang berbeda nilai eksposure nya. Untuk hitungan teknis nya saya lupa untuk mencatat, tetapi yang saya ingin paparkan disini adalah teknik mengukur cahaya/eksposure menggunakan filter Gradual ND.
Pertama-tama ukur cahaya terlebih dahulu di area “base exposure” yang umumnya terdapat di area foreground dalam sebuah foto, lalu ukur pencahayaan/eksposure di area langit yang berada di area background, lantas bandingkan perbedaan stop eksposure antara kedua bidang. Dalam foto ini perbedaan antara kedua bidang adalah 2 stop sehingga filter Gradual ND4 (0.6) sudah cukup menyeimbangkan eksposure antara dua bidang tersebut. Lantas posisikan area yang terdapat densitas di porsi langit dan foreground dibiarkan clear, di foto ini kita bisa dengan mudah menentukan posisi penempatan filter nya, karena jelas dibagi dua bagian tepat di tengah-tengah. Karena kamera Holga tidak memiliki viewfinder WYSIWYG, maka dipakailah rumusan KIRATA, “dikira-kira nyata”
, dengan kata lain harus trial and error.
Apa itu CPL?
CPL atau dikenal juga dengan istilah Polarizing Filter, pada dasarnya polarizing filter itu ada dua jenis yaitu Circular dan Linear, yang akan jadi fokus di pembahasan ini adalah CPL. Efek CPL dapat diperoleh dengan cara memutar-mutar ring filter tersebut sampai diperoleh hasil yang kita inginkan. Efek yang dihasilkan adalah menggelapkan langit dimana kontras antara awan dengan langit akan semakin tinggi. Filter ini juga mengurangi pantulan sinar matahari pada benda sehingga foto yang dihasilkan akan tampak lebih natural dan memiliki saturasi warna yang tinggi karena minimnya refleksi. Pada pengaplikasiannya, filter ini cenderung banyak digunakan untuk foto-foto landscape atau pemandangan dengan latar langit yang biru karena pada prinsipnya, polarizer tidak akan banyak berfungsi jika langitnya gelap atau berawan. Langit harus benar-benar cerah dengan kuantitas sinar matahari yang memadai. Umumnya CPL memiliki filter factor 3-4 (-2 Stop)
Contoh:
*********
Tips & Tricks Memotret Landscape dengan Filter di Kamera Holga
- Pahami dulu teori mengenai eksposure beserta istilah-istilahnya.
- Kenali masing-masing fungsi dan karakter dari filter. CPL digunakan untuk membirukan langit, menambah saturasi warna, dan gunakan ND untuk mengurangi densitas cahaya, atau GND untuk menyeimbangkan kontras antara dua bidang.
- Pilih dan beli filter yang paling sesuai dengan kebutuhan.
- Tentukan waktu pemotretan di pagi hari atau sore hari, dimana waktu tersebut adalah “golden hours”.
- Teknis menggunakan filter akan jauh lebih mudah dimengerti jika kita telah memahami tips no.1
- Buat catatan eksposure serta keterangan singkat dari jenis filter, posisi serta kondisi cahaya ketika pemotretan dalam sebuah nota atau lebih simple di handphone, dsb. Lantas setelah klise selesai di scan/cetak pelajari hasil nya dan gunakan catatan tersebut untuk koreksi.
- Holga adalah kamera yang minim fungsi, dan terkenal akan ketidakakuratan eksposur yang dihasilkan, namun hal tersebut dapat ditepis jika kita dapat memanfaatkan filter sebagai alat bantu untuk menyelaraskan exposure. Semua nya kembali pada fotografer, kamera dan film hanya sebatas media saja.
- Rawat filter agar terhindar dari cacat atau kotor yang menempel, karena hasil foto dengan filter yang kotor/cacat akan ikut ternodai juga.
- Practice makes perfect!
Catatan:
Banyak kawan-kawan saya menanyakan kenapa kita harus begitu ribet dengan urusan filter dan light meter di kamera yang memang berada di kategori lo-fi alias kamera abal2 atau bahkan harga 1 set filter melebihi harga kamera tersebut. Tentu saja saya punya alasan tersendiri, esensi memotret itu bukan dilihat dari alat-alat nya, tetapi proses nya, jika kita berusaha untuk maksimal dalam proses maka saya yakinkan hasil pun berangsur-angsur akan menjadi sangat maksimal. Kita melihat ada sesuatu yang kurang dalam proses berkreasi, kenapa tidak kita sekalian maksimalkan sesuatu yang memang dapat dan layak untuk dimaksimalkan? Proses membuat sesuatu dari alat yang sederhana dan mengasilkan produk yang indah adalah suatu kepuasan yang ternilai.
Update 12 Juni 2011:
Panduan “Cokin Exposure Chart” dapat dilihat disini. Thanks bro Guh Andria!
Sumber:
Babbit’s – Principles of Light and Color
Bryan Peterson – Understanding Exposure (Revised Edition)
Sample Foto dari Holga dengan Filter:






































08/06/2011 at 23:26
slmt malam om sandy..:)
sy mau bertanya soal system holdernya
klo di holga yg om tulis di blog, memakai “A series” klo memakai “P series” apa cocok??
terlalu besar apa tidak diameter lebarnya??
berarti semua filter-filter nya memakai “A series”
terima kasih om sebelumnya..:)
sy tertarik sekali dengan blog nya…muaannntepp dah..:)
09/06/2011 at 19:05
udah ya via FB jawabnya… hehehehh!
11/06/2011 at 12:13
saya jadi bener2 keracunan holga gara2 tulisannya mas sandy..
11/06/2011 at 13:32
11/06/2011 at 14:55
BBF saya rusak…
lagi mesen Holga 120 GN…
seneng abis ini pegang Holga.. hehe
12/06/2011 at 17:07
Wew… rusak kenapa tuh gan? heheheh!
ga dibenerin dulu?
mantaab deh holga nya… hehhee ditunggu sharing foto nya gan…
12/06/2011 at 17:02
ijin share juga om…:)
exposure chart buat jenis2 filter dan fungsinya..:)
http://www.geocities.com/cokinfiltersystem/exposure_.htm
semoga bermanfaat..:)
ga sabar mengexplore holga ky om sandy..:beer
12/06/2011 at 17:08
Wowww… great!! mantab nih… hehehehe!
thanks sharing nya gan…. ntar ane masukin link nya ke post…
hehehe… ditunggu sharing foto nya…
see u!
15/06/2011 at 20:39
om mau tny alagi ..
pernah pake film redscale ga pake cokin filter?
21/06/2011 at 11:45
Oww.. blon pernah bro…
Redscale 120mm cuman nyobain 5 roll doank…
20/06/2011 at 23:14
om cara pemasangan CPL ke holder adapter gmn om????
21/06/2011 at 11:44
Tinggal dimasukin doank… sama kaya filter2 laen…
cuman holder nya di paling belakang.
Dah beli adaptor nya nih?
23/06/2011 at 16:08
iyah om,,udah bisa nih,,hehehhe..:D
udah dpt nih dr tmn,,nyari filter2 yg gradual susah bgd,,:(
oia om,,,skalian bahas lagi tuh holga macro nya..:D
itu macr pk accesoris holga juga apa gmn om?tolong review nya..hehehe
makassih om,,makin mantep nih ane bljr sm om..:D
11/07/2011 at 14:47
Kang shandy, mau nanya nih kang, itu ektacolornya keluar banget yah warnanya
diolah lagi kah kang?pernah nyoba filter infrared diholga kang?
penggunaannya kaya gimana yah kang? Nuhun kang
11/07/2011 at 17:06
Hi!

Ga ada olahan warna tuh, paling juga levelling saja.
Asal scanner nya bagus, warna nya pasti kebih muncul.
Kalo olahan, antara 1 foto dengan foto yg lainnya agak susah untuk konsisten.
hehehe! coba bro liat gallery holga saya di thesaintdevil.deviantart.com, sepertinya dari 1 foto ke foto lain reproduksi warna nya kurang lebih sama.
Hasil scanning foto yang saya pajang bakal sama seperti hasil cetak dari klise..
Holga IR? pernah.. salah satu foto nya ada di post yg ini, judul nya “The Creek II”
penggunaanya? sama saja ko, yg membedakan cuman pemasangan filter IR + film IR nya…
smoga membantu…