Holga 120GTLR: A Review


Intro

Dua tahun silam di tahun 2009, Holga merilis 2 varian baru di kelas kamera plastic medium format (120mm), yaitu Holga 120GTLR dan Holga 120TLR. Ya! Kode TLR di kedua kamera ini mengindikasikan sistem penggunaan lensa double , satu lensa untuk mengambil gambar, dan satu lensa lagi untuk viewfinder a la kamera Twin Lens Reflex yang pada umumnya dapat ditemui pada merk Rollei TLR, Yashica TLR, Hasselblad, dsb. Walaupun viewfinder yang dipasang pada kamera Holga tidak state-of-the-art dan sesempurna kamera TLR high-end lainnya, tetap saja sistem TLR ini membawa terobosan baru yang unik dan extra-ordinary di dalam line-up kamera Holga itu sendiri.

Tidak lama setelah kamera itu banyak beredar dipasaran, saya membeli 2 buah Holga 120GTLR langsung di negara produsennya di China, tentu saja untuk menjajal “keunikan” apa yang dimiliki nya dengan sensasi mengintip lewat viewfinder yg berbeda, walaupun secara spesifikasi di atas kertas seri GTLR ini masih mengusung fungsi dan fitur yang sama dengan seri Holga 120GFN/CN, harga GTLR dipasang sedikit lebih tinggi dibandingkan seri Holga 120 yang lainnya.

Impresi pertama memegang Holga 120GTLR adalah body kamera terasa lebih besar, berat dan lebih nyaman untuk digenggam. Tombol-tombol fungsi seperti pengaturan aperture, shutter dan focus masih berada di tempat yang sama. Hanya saja letak perbedaanya ada di bagian atas kamera, dimana terdapat fungsi “pop-up” untuk viewfinder TLR dan pengaturan flash berwarna (White, Red, Blue, & Yellow). Kualitas body dapat dikatakan lebih bagus, tidak ada bagian-bagian yang perlu di selotip untuk mencegah light-leak.

Spesifikasi Holga 120GTLR:

-          Glass Optical Lens 60mm @ f/8

-          Leaf Shutter, Speed 1/100 sec

-          Bulb Shutter Mode

-          120 Format Color or Black/White film

-          Eye level & Waist level finder

-          Adjustable focusing

-          4 Colours Flash light

-          G.N. of Flash: 12 (ASA 100)

-          Two AA Batteries are required for Flash

-          Size: 140x 120x 76mm

-          Weight: 266g w/o batteries

Viewfinder


Viewfinder TLR a la Holga memiliki keunikan tersendiri, citra/gambar yang ditampilkan melalui lubang intip tersebut berbentuk bulat, bukannya kotak yang umumnya ditemui di seri lainnya. Agak memungsingkan untuk beberapa saat, karena mata kita harus beradaptasi bukan saja dalam hal keakuratan framing (perbedaan tampilan citra di lubang intip antara kotak dengan bulat), tapi keseluruhan citra yang ditampilkan itu terbalik (flipped) secara horisontal. Pemilihan zona fokus dalam kamera tidak akan berpengaruh dan tidak terlihat di viewfinder.

Gambar yang ditampilkan di dalam viewfinder sangat jelas “bright”, bahkan di penggunaan di kala cahaya redup masih sangat membantu mata kita dalam framing sebuah gambar. Holga 120GTLR/TLR memiliki dua alternative penggunaan viewfinder yaitu:

Waist-Level: Kamera dapat digantungkan di leher atau dipegang di sekitaran perut-pinggang.

Spot finder: Dengan memanfaatkan “pop-up” viewfinder yang terbuka dan lubang diantara nya dapat dijadikan sebagai lubang intip atau viewfinder.

Masing-masing alternatif memiliki keunggulan dan kekurangannya, dan pilihan menggunakan kedua alternatif tersebut kembali kepada selera serta kenyamanan fotografer itu sendiri. Kalau saya lebih cocok dengan spot finder yang tentu saja harus dikompensasi dengan perbedaan jarak antara spot finder dengan lensa, walau terkadang saya mengambil keuntungan dari waist level viewfinder. Kalau teman-teman sekalian penganut paham “shoot from the hip” dengan tujuan menghasilkan gambar yang unik dengan perspektif yang berbeda, go ahead… gunakan alternatif waist-level. Selain untuk “shoot from the hip”, menurut analisa saya, waist level hampir bebas dari yang namanya parallax error, secara horizontal, karena letak viewfinder sejajar dengan lensa. Namun secara vertikal harus ada pengaturan kompensasi dari segi framing, karena posisi lensa viewfinder berada diatas lensa untuk mengambil gambar. Saya sendiri sangat suka dengan alternatif waist level viewfinder untuk memotret pemandangan laut (seascapes) dengan garis horizon yang tegas, melalui viewfinder ini, dengan mudah dan presisi saya dapat memposisikan garis horison tersebut (tentunya dengan sedikit kompensasi vertikal) tanpa ada nya kemiringan yang berarti.

Flash

Built-in Colour Flash dapat dijadikan alat bantu kreativitas dalam membuat sebuah gambar. Terdapat 4 pemilihan warna (White, Red, Blue, & Yellow) yang dapat kita pilih sebelum memotret. Flash ini memiliki daya sebesar GN 12 di ISO 100, jadi dengan aperture di f/8 dan ISO film 100 maka jarak ideal iluminasi nya adalah sekitar 60-80cm dari objek. Cukup kecil jangkauannya memang, tapi terbukti cukup berguna ketika dibutuhkan.

Conclusion


Setelah 1 tahun lebih saya coba menjajal kamera ini dengan bermacam medan dan kondisi, saya dapat menyimpulkan jika kita berbicara secara “fair” maka kamera Holga ini bukan TLR yang sesungguhnya, Holga 120GTLR/TLR dapat diibaratkan sebagai kamera Holga 120 “standar” dengan waist-level viewfinder. Gambar yang dihasilkan pun sama , TIDAK ADA BEDA dengan Holga yang saya sebut dengan Holga 120 “standar”. Terkadang kita dibuat frustasi oleh viewfinder ketika kita ingin mengambil gambar, walaupun hal itu bukan masalah utama, lantas Apakah kamera ini layak untuk dibeli? Jika kita ingin tampil beda dengan waist-level viewfinder tanpa memperdulikan budget, maka boleh dicoba, namum mengingat dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan seri Holga 120 lain dan kita dapat menghasilkan gambar yang sama, saya menganjurkan untuk mengambil seri lain yang lebih murah dari jajaran Holga 120.

Tips & Tricks


  1. Lagi-lagi kita harus beradaptasi dengan keunikan dari viewfinder jenis baru di seri Holga ini, beberapa pengaturan kompensasi dalam framing menentukan keakuratan gambar yang dihasilkan. Jika menggunakan waist level atau spot finder, maka kompensasikan posisi setelah selesai framing beberapa cm ke bawah. Secara horizontal, posisi tanpa harus kompensasi  sudah aman.
  2. Jangan takut salah dalam percobaan pertama atau kedua menggunakan GTLR/TLR, cobalah komposisikan / framing apa ada nya, dan ingat hasil komposisi tersebut, lantas bandingkan hasil jadi nya. Kita bias menilai dan menentukan posisi serta coverage dari tampilan viewfinder itu sampai sejauh bagaimana.
  3. Ingat rumusan zona jarak fokus Holga, terkadang dengan melihat tampilan viewfinder yang tampak tajam dan fokus, kita lupa untuk mengatur setting jarak fokus dengan objek.
  4. Dengan adanya alternatif penggunaan waist level viewfinder, kita dapat mengkreasikan sesuatu dengan perspektif berbeda.
  5. Practice makes perfect!

Happy Holga-ing!!

Sample Holga 120GTLR

 _______

Stony Sunset at Tanjung Lesung

Holga 120GTLR w/ Fujichrome Provia 100

Krakatau From A Distance

Holga 120GTLR w/ Fuji Neopan Across 100

Krakatau From A Distance II

Holga 120GTLR w/ Fuji Neopan Across 100 + Cokin A Orange Filter

The Path

Holga 120GTLR w/ Fuji Neopan Across 100 (6×4.5)

A Glimpse (a shoot from the hip)

Holga 120GTLR w/ Lucky SHD 400

Maribaya

Holga 120GTLR w/ Fujichrome Provia 100 + Cokin A ND 8

She

Holga 120GTLR w/ Kodak Ektacolor 160

********


, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Subscribe

Subscribe to our RSS feed and social profiles to receive updates.

2 Comments on “Holga 120GTLR: A Review”

  1. ichakacrut Says:

    berarti yang bener2 harus di perhatiin
    adalah zona fokus dari holga gtlr yang masih
    sama dengan seri2 sebelom nya yah
    karena bisa di katakan viewfinder nya bisa “menipu” mata

    Reply

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.