Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja
Katon Bagaskara – Yogyakarta
Sekilas tentang Kota Yogyakarta
Yogyakarta, sebuah kota di pesisir pantai selatan Jawa yang terkenal akan sejarah dan warisan budaya-nya. Yogyakarta (YK) merupakan pusat dari Kerajaan Mataram (1575-1640), yang dapat dibuktikan dengan terdapatnya Keraton yang masih berfungsi dalam arti yang sesungguhnya sebagai manifestasi nyata dari keagungan peradaban budaya Jawa kuno. Perjalanan sejarah Nusantara tidak lepas dari banyaknya Candi berlokasi tidak jauh dari YK yang telah berusia ribuan tahun dan merupakan adikarya kerajaan besar zaman lampau, di antaranya yang paling terkenal adalah Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-9 oleh Dinasti/Wangsa Syailendra.
Seiring waktu berjalan dan terkadang kita dibuat bingung olehnya, muncul berbagai macam versi penyebutan dan pelafalan nama dari Kota Gudeg ini, seperti:
- Yogya
- Jogya
- Yogja
- Yojo
- Djokdja
- Ngayogyakarta
- Jogja dalam slogan Jogja Never Ending Asia.
Dapat disimpulkan bahwa variasi nama tersebut muncul akibat pelafalan yang berbeda-beda antara orang dari berbagai daerah di Indonesia. Uniknya, hampir semua orang dapat memahami tempat yang dimaksud meski pengucapannya berbeda. Seperti mengutip Shakespeare, “What’s in a name? That we call a rose by any names would smell as sweet”, apalah arti dalam sebuah nama ketika kita dapat menyebut Kota Yogyakarta dengan bermacam-macam nama tetapi tetap saja Yogya adalah Yogya.
Selain aspek budaya yang kental, YK memiliki segudang pemandangan/scenery alam yang indah. Hamparan sawah yang hijau menyelimuti daerah pinggiran dengan sejauh mata memandang Gunung Merapi, Slamet, Sindoro dan Sumbing tampak sebagai latar belakang yang mengelilinginya. Bentangan pantai-pantai yang masih alami yang dibalut nuansa romantisme dengan mudah ditemukan di selatan Kota Yogyakarta.
Masyarakat di sini hidup dalam damai dan memiliki keramahan khas yang kental akan aturan tata-krama. Cobalah untuk mengelilingi kota dengan sepeda, becak, ataupun andong; Kita akan menemukan senyum yang tulus dan sapaan yang hangat di setiap sudut kota. Tanpa disadari, tiba-tiba Yogyakarta telah menjadi “your home when away from home”.
Nuansa seni dan budaya begitu kental terasa di Yogya. Kawasan Malioboro, yang merupakan urat nadi kota ini, pusat dimana kita dapat dengan mudah mencari hasil kerajinan etnik tradisional. Sedangkan bagi pecinta kuliner disinilah surganya, dari lesehan gudeg, pecel, burung dara goreng, dan kudapan lainnya dapat betul-betul memuaskan nafsu makan. Musisi jalanan pun selalu siap melantunkan tembang-tembang romantis bagi pengunjung warung-warung lesehan di malam hari, seperti yang diungkapkan oleh Katon Bagaskara dalam gubahan lagu terkenalnya, “Yogyakarta”.
Untuk merasakan nuansa yang dimiliki Yogya tidak cukup sebatas membaca tulisan atau melihat dari foto dokumentasi saja, berkunjunglah ke Yogyakarta dan anda pasti akan merasakan atmosphere yang sesungguhnya…
Merekam Perjalanan Wisata di Yogya
“A picture worth a thousand words”. Berwisata ke suatu tempat akan terasa kurang lengkap atau kurang sempurna jika kita pulang tanpa membawa kenangan dalam bentuk dokumentasi foto dari tempat yg kita kunjungi. Terkadang pula masih banyak yang menganggap remeh “travel photography”, dan umumnya pelancong tidak mau ambil pusing dengan urusan motret atau merekam video di kala mereka sedang berwisata.
Namun bagi para pencinta fotografi tentunya moment melancong ini tidak akan terlewatkan untuk direkam, entah itu dengan motivasi untuk dikonsumsi oleh pribadi atau di-share kepada kolega atau para sahabat dan bahkan kepada audience di dunia maya.
Menurut The Photographic Society of America, travel photography adalah suatu bentuk karya fotografi yang mengungkapkan perasaan sang pelancong terhadap waktu dan tempat, menggambarkan pemandangan, penduduknya, atau suatu budaya dan sejarah dalam keadaan alami, dan tidak memiliki keterbatasan geografis. Jika merujuk kepada definisi tersebut maka Yogyakarta menyediakan objek yang melimpah dalam setiap genre fotografi seperti, landscape, human interest, arsitektur, dan masih banyak lagi genre lainnya yang dapat di-eksplorasi.
Bulan Juni 2009 saya beserta seorang kawan (Richard NF) berangkat menuju Yogya dari Bandung, dengan tujuan utama nya untuk memotret keindahan panorama sunrise Candi Borobudur dari Thuk Setumbu. Berkunjung selama 3 hari di sana adalah waktu yang sangat pendek mengingat begitu banyak objek fotografi yang layak untuk direkam dan sangat sayang untuk dilewatkan. Pada awalnya faktor cuaca yang kami begitu cemaskan akan menghambat jadwal memotret. Beruntung alam sangat bersahabat dengan menghadirkan cuaca yang sangat baik sejak pagi hingga matahari terbenam.
Melancong ke Yogya sangat tidak mungkin untuk melewatkan Keraton dan objek wisata sekitaran pusat kota seperti, Istana Air Taman Sari, Benteng Vredenberg, dan masih banyak lagi objek yang tak kalah menarik bagi anda para pencinta wayang kulit dan tidak ada tujuan lagi di malam hari maka Museum Sonobudoyo akan menampung anda dengan pagelaran wayang kulit-nya. Sangat beruntung saya masih mempunyai waktu yang cukup untuk berkeliling menangkap objek sepanjang perjalanan wisata saya di Kota Gudeg ini.
Pada kesempatan saya berwisata di Yogya, selain menggunakan kamera format SLR dan DSLR, saya amat terpukau meilhat hasil unik dari gambar-gambar yang dihasilkan oleh sebuah “toy camera” HOLGA 120GN baik itu ketika disandingkan dengan film negative, slide, maupun BW. Extraordinary! Cukup satu kata untuk hasil rekaman fotografi uniknya Yogya dari lensa Holga.
Pernahkah terlintas dalam benak anda ketika mengambil foto objek wisata di Yogya seperti Keraton, Candi Borobudur, Prambanan, atau Pantai Parangtritis lalu setelah melihat hasilnya terasa sangat pasaran? Nah.. jangan khawatir dengan kamera HOLGA tepiskan keraguan itu. Walaupun kita semua mengetahui jika Holga memiliki banyak sekali kekurangan secara teknis penggunaan atau dilihat dari hasil akhirnya tidak sesempurna kamera format SLR, dan ingat fotografi itu DEPENDS ON THE MAN BEHIND THE CAMERA! Justru dengan karakteristik yang unik (square format 6×6, vignetting, less sharpness, dll) dari kamera Holga atau false colour dengan slide yang di cross-process, kita dapat menghasilkan foto dengan objek yang pasaran namun memiliki taste yang berbeda. Sungguh menyenangkan bukan?
Tentunya keunikan Holga sendiri tidaklah cukup untuk menghasilkan foto “travel photography” yang mampu memikat mata orang banyak, perlu-nya untuk memaksimalkan proses pengambilan foto itu sendiri adalah hal yang terpenting. Lupakan sejenak beban untuk menghasilkan gambar yang INDAH, tetapi berusaha untuk fokus dan se-kreatif mungkin dalam berkarya, NO PAIN, NO GAIN!
Lalu bagaimana cara memaksimalkan proses berkarya kita?
Banyak jalan menuju Roma; Begitu juga banyak sekali jalan/cara untuk memaksimalkan hasil “travel photography” dari kamera yang kita miliki bahkan kamera sederhana, seperti Holga sekalipun. Mungkin banyak orang telah mengetahui dan menerapkan cara/tips2 yang akan saya berikan, namun masih banyak pula yang sekadar memotret tanpa persiapan dan tujuan yang dapat menunjang hasil akhir yang baik. Berikut saya hadirkan beberapa tips memotret travel photography secara general yang akan disambung dengan tips travel photography menggunakan Holga di Yogyakarta:
- Tentukan destinasi yang akan dituju
- Carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang destinasi yang akan dituju, informasi mengenai, akomodasi, tempat bersejarah, objek wisata, acara pentas seni, cuaca dsb. Lalu catatkan dengan baik sebagai panduan.
- Pelajari adat istiadat, kebiasaan dan budaya setempat terlebih ketika mengunjungi situs keagamaan perhatikan cara berpakaian.
- Berbaur dengan suasana dan masyarakat setempat, impresi pertama ketika berada di keramaian akan memberikan percikan kreativitas bagaimana kita memotret. Tidak ada salahnya mencatat/membuat note kesan pertama kita akan lokasi, orang sekeliling, gaya berpakaian, tentang cuaca, dll. Kelak catatan tersebut akan berguna.
- Pastikan kamera beserta amunisi film selalu siap untuk digunakan.
- Bagi para fotografer yang menggunakan format DSLR/SLR gunakan lensa zoom “all-round” alias lensa sapu jagat seperti 18-200mm atau 24-120mm untuk memudahkan pengoperasian ketika mengejar momen.
- Jika memiliki waktu lebih, amatilah spot-spot yang menarik untuk direkam, jangan takut tersasar. Jika perlu datangi kembali spot yang dirasa harus direkam.
- Jadwalkan dengan jelas kapan, kemana dan dimana anda harus memotret, atur waktu memotret dengan acara lainnya atau gabungkan kedua-nya.
- Pilihlah jam memotret yang tepat; terlebih untuk landscape, Golden Hour di fotografi adalah Pagi jam 05.00-08.00 atau di Sore jam 15.00-18.00. Siang hari bukan berarti haram, pilih jam dimana langit sedang biru dengan sedikit awan.
- Bangunlah lebih awal dan tidur lebih larut, otomatis jika kita berniat memotret maka kesempatan untuk mendapatkan momen-momen yang unik akan lebih sering kita jumpai.
- Untuk lokasi sekitaran kota yang masih dapat dijangkau dengan berjalan kaki, lebih baik berjalan kaki daripada menggunakan kendaraan, lagi-lagi chance mendapatkan objek atau moment lebih banyak dan tentunya lebih praktis jika dibandingkan dengan membawa kendaraan.
- Jaga stamina tubuh, jangan terlambat makan, konsumsi vitamin/sumplemen jika diperlukan dan bawalah obat-obatan yang biasa digunakan.
- Ambilah objek yang layak untuk direkam sebanyak-banyaknya
- Have fun!
Tips Travel Photography dengan Holga di Yogyakarta
Holga, sebuah nama kamera yang terkesan nyeleneh dalam menghasilkan sebuah foto, bahkan tidak sedikit orang yang meremehkan kemampuan kamera plastik yang minim setting ini dengan konstruksi body yang ala kadarnya. Bagi pengguna Holga lantas jangan berkecil hati, dengan minimnya setting dalam kamera ketika berkreasi dengan Holga, kita dapat lebih memaksimalkan hasil dengan lebih memperhatikan hal-hal lainnya yang tak kalah penting. Begitu pula jika keinginan dan kreativitas tidak dapat dibendung lagi untuk merekam pesona Yogyakarta, keluarkan Holga anda putar roll film dan jangan ragu untuk menekan shutter! Dan inilah tips-tips nya:
Bukit Thuk Setumbu dan Desa Setumbu
Bukit Thuk Setumbu
Berlokasi di desa sekitar kompleks Candi Borobudur (Kab. Magelang).
Perjalanan dari kota Yogyakarta memakan waktu ± 45 menit berkendara dengan mobil. Datanglah ke spot ini sekitar jam 04.30 pagi pada bulan musim kemarau, lalu mendaki dari Desa Setumbu ke puncak Bukit Setumbu yang kurang lebih memakan waktu 30 menit, lalu siapkan tripod dan pilihlah ISO film rentang 100-400 Baik itu dari film negative, slide atau BW cocok digunakan di spot ini dengan sebelumnya memperhatikan karakter warna dan cahaya agar penggunaan filter dapat dimaksimalkan. Lalu, gunakan mode bulb untuk menggantikan waktu eksposure Holga yang pada mode normal itu 1/100”. Dengan memanfaatkan view yang luas di puncak Bukit Setumbu pengambilan mode panoramic “Holgarama” patut untuk dicoba.
Jangan lepaskan mata anda dari viewfinder untuk waktu yang lama, siapkan amunisi film untuk di-reload karena momen sandyakala ini akan berlangsung cukup cepat, rekam sebanyak-banyaknya beberapa fase perubahan tonal langit. Jika cukup beruntung dengan cuaca yang bersahabat sekitar pukul 05.45 anda dapat menyaksikan pesona sunrise yang begitu indah, dengan point of interest Candi Borobudur yang dibalut kabut yang ber-layer dan Gunung Merapi yang menjadi latar dari panggung mahadaya keindahan pagi di Bukit Thuk Setumbu.
Desa Thuk Setumbu
Bagi para fotografer yang maniak ROL (Ray of Light) alias semburat, selama perjalanan pulang dari Bukit Thuk Setumbu anda sekalian akan dimanjakan oleh melimpahnya ROL untuk direkam, jangan lewatkan untuk mempercantik foto anda dengan merekam aktivitas pagi masyarakat Desa Setumbu. Gunakanlah ISO Film di rentang ISO 100-400. Baik itu film negative warna, slide atau BW cocok digunakan di spot ini. Cobalah sekali-kali menggunakan film BW dengan paduan filter solid orange atau kuning untuk foto-foto nature dan human interest mendapatkan hasil yang berbeda.
Kompleks Candi Borobudur
Siapa yang tak kenal Candi Borobudur? Kompleks Candi terbesar di dunia warisan keagungan Dinasti Syailendra, dinasti yang melahirkan raja-raja penguasa pegunungan di abad ke-8 dan sejak 1991 dinobatkan menjadi salah satu Warisan Dunia oleh UNESCO. Borobudur telah menarik berjuta-juta wisatawan baik itu domestik atau dari mancanegara setiap tahunnya, maka jika waktu memungkinkan jangan lewatkan kesempatan berkunjung ke Borobudur.
Berkunjung ke Borobudur di pagi hari memberikan kesempatan bagi para fotografer untuk merekam suasana dengan ambiance berkabut (misty), juga salah satu keuntungan mengunjungi Borobudur di pagi hari adalah pengunjung masih sangat sedikit apalagi ketika bukan hari libur, kesempatan anda sekalian untuk memotret sangatlah baik. Gunakanlah ISO Film di rentang ISO 100-400. Baik itu film negative warna, slide atau BW cocok digunakan di spot ini. Jangan lewatkan memotret di kala terik mentari di siang hari sekitar jam 1 atau 2 ketika langit sedang “membiru” tanpa kehadiran awan, karakteristik lensa Holga dengan vignetting nya menambah nilai keunikan foto yang anda rekam.
Bosan dan ingin tampil beda ketika memotret Borobudur?
Silakan unjuk kebolehan dan beradu kreativitas dalam menuangkan imajinasi anda ketika merekam keagungan Borobudur.
Kompleks Candi Prambanan
Candi Rara Jonggrang atau Lara Jonggrang yang terletak di Desa Prambanan adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Candi ini terletak di 20 km timur Yogyakarta persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi ini dibangun pada sekitar tahun 850 Masehi oleh salah seorang dari kedua orang ini, yakni: Rakai Pikatan, Raja kedua wangsa Mataram I atau Balitung Maha Sambu, semasa Wangsa Sanjaya.
Saya memutuskan untuk datang ke Candi Prambanan di sore hari untuk mendapatkan nuansa tonal langit senja, dengan menggunakan mode BULB serta paduan filter Gradation Sunset dengan film negative warna di ISO 160 dan inilah hasil rekaman-nya
Jika anda hanya memiliki waktu di pagi/siang hari pun tidak menjadi soal ketika berkunjung ke Candi Prambanan, pagi dengan suasana berkabut (misty) ataupun siang dengan langit biru yang cerah. Setiap saat dengan keberuntungan di pihak anda dalam hal cuaca yang bersahabat, maka foto yang anda rekam akan tampil lebih baik.
Pernahkah terlintas untuk memotret teknik INFRA RED (IR) dengan bantuan filter serta film khusus IR seperti Ilford SFX atau Kodak HIE? Masukan dalam komposisi frame anda unsur dedaunan yang disinari terik mentari, yakinlah foto anda akan tampil EXTRAORDINARY walaupun hanya dari sebuah HOLGA.
Pantai Parangtritis
Parangtritis, adalah sebuah tempat pariwisata berupa pantai di pesisir Samudra Hindia yang terletak kurang lebih 25 kilometer sebelah selatan kota Yogyakarta.
Perjalanan menggunakan mobil memakan waktu ± 30 menit. Pantai Parangtritis merupakan objek wisata yang cukup terkenal di Yogya selain objek pantai lainnya seperti Pantai Drini, Samas, Baron, Kukup Krakal dan Pantai Glagah. Parangtritis mempunyai keunikan pemandangan yang tidak terdapat pada objek wisata lainnya yaitu selain ombak yang besar juga adanya gunung – gunung pasir yang tinggi di sekitar pantai, gunung pasir tersebut biasa disebut gumuk.
Jam menunjukkan pukul 15.00. Waktu yang tepat untuk berangkat menuju Pantai Parangtritis untuk menangkap momen senja yang sangat sayang untuk dilewatkan. Siapkan filter set untuk Holga yang anda miliki seperti Filter ND, CPL atau berbagai macam Gradation Filter yang dirasa pas dengan momen sunset guna mempercantik hasil rekaman anda, tidak tabu untuk bereksperimen dengan mode “slow speed” ketika merekam nuansa senja di Parangtritis. Gunakanlah ISO Film di rentang ISO 100-400. Baik itu film negative warna atau BW. Jika anda lebih senang memiliki momen senja dengan kontras dan saturasi warna tinggi cobalah film SLIDE.
Jangan hanya terpaku kepada keindahan alam Parangtritis semata, bidikan lensa Holga anda untuk merekam objek manusia (human interest) dengan berbagai-macam aktivitas nya di tepian pantai seperti Andong (kereta kuda) yang berjalan menyusuri tepian pantai atau para pemancing yang biasanya sekitaran jam 5 sore duduk santai di tepi pantai dan berharap cemas akankah ada ikan yang terpancing umpan nya?
Pada hari-hari tertentu (biasa bulan Suro) di sini dilakukan persembahan / upacara sesajian (Labuhan) bagi Ratu Laut Selatan atau dalam bahasa Jawa disebut Nyai Roro Kidul. Penduduk setempat percaya bahwa seseorang dilarang menggunakan pakaian berwarna hijau muda jika berada di pantai ini. Pantai Parangtritis menjadi tempat kunjungan utama wisatawan terutama pada malam tahun baru Jawa (1 Muharram/Suro).
Seputaran Pusat Kota Yogyakarta
Berjalan kaki adalah cara yang terbaik untuk memotret di seputaran Pusat Kota Yogyakarta, dapat saya katakan dari satu tempat wisata ke tempat wisata yang lain di Pusat Kota Yogyakarta tidak lah terlalu jauh dan menyita waktu lama, “close at hand”, sebagai contoh antara Kraton Yogyakarta dengan Istana Air Taman Sari hanya memakan waktu 10 menit berjalan kaki. Tidak terlalu jauh bukan? Hanya saja tantangan-nya adalah cuaca yang cukup panas dan lembab di siang hari dapat menguras keringat anda.
Begitu banyak sekali objek arsitektur, human interest, street photography atau sekedar “candid” semata dapat ditemui ketika anda memutuskan untuk berjalan mengelilingi Pusat Kota Yogyakarta. Gunakanlah ISO Film di rentang ISO 100-400. Baik itu film negative warna, slide atau BW cocok digunakan di spot ini.
Jika anda memiliki lebih dari 1 body Holga, sangatlah memudahkan ketika memotret candid/snapshot, jika 1 roll film (12 frame dengan format 6×6) habis maka dengan cepat anda masih bisa melanjutkan pemotretan, tidak diganggu oleh proses load/unloading film yang cukup menyita waktu.
Akhir kata, semoga tips & tricks yang telah saya hadirkan dalam weblog ini dapat melengkapi sebuah rencana “travel photography” dengan kamera Holga yang kawan-kawan sekalian miliki.
Bon Voyage!!
Foto-foto hasil dokumentasi perjalanan singkat saya selama di Yogyakarta dapat dilihat pula di forum induk para pencinta kamera “low-fi” Toycamera.com atau klik disini
Video Dokumentasi & Slide Show
“Mahadaya Borobudur”










































28/12/2009 at 09:07
gan… mau jadi guru ane ngga gan buat belajar holga???? hahaha… gila hasilnya bener bener inspiratif bgt sampe masuk toy camera.com hebat gan… mas sandy emang udah master nih pake holga nya.. kalo boleh kapan kapan hunting bareng donk… pengen belajar nihh suhu… haha
29/12/2009 at 20:37
wah…
justru itu bos…
ane juga masih harus banyak belajar…
ama master2 HOLGA di luar negeri..
cakep2 hasilnya…
hehehe!!
hunting bareng?
boleh donk….
kapan…?
kabarin aja bos… heheheh!
30/12/2009 at 10:44
siapp.. nanti kalo ke bandung ane kabarin… eh gan kalo nyuci film di bandung suka kemana?? terutama kalo scaning kemana gan??
29/12/2009 at 20:44
Bravo San … !
Keep up the good work.
Tips Holga dan travel-nya sungguh sangat berguna buat orang awam kayak saya
29/12/2009 at 21:44
Makasih udah mampir Om Toni! ^_^
29/12/2009 at 23:57
Keren kang sandy.. kemaren udah liat juga di toycamera.com… congrats yaaa… mantaps!!!
30/12/2009 at 00:44
thanks bos kijah udah mampir ke sini.. ^_^
08/01/2010 at 17:55
astaga…!! ada foto gw di akhir blog ini… hahahhaa
btw blog ini inspiratif banget. apalagi foto”nya.. ckckckck… *twothumbsup*
10/01/2010 at 15:12
huhahahha….
mampir juga bos satu ini…
trims bos atas apresiasi nya…
masih belajar n belajar nech….
09/01/2010 at 18:59
keren abis bang jepretannya..
bikin nafsu sama holga nih..
makin tambah master yah bang..inspiratif bgt..
10/01/2010 at 15:13
Hi Yudha…
thanks udah mampir di blog koelitinta…
huuhhu…
beli donk holga..
jgn lupa share foto nya yaa…
^_^
hehehe… iya nech…
hasil proses belajar membuahkan hasil… ^_^
no pain.. no gain…
27/06/2010 at 08:45
pagi Bos !
saya dari kuta , kalo mau ke thuk stumbu lewat jalur mana ya dari borobudur . dan kalo masuh hujan jalanan ke bukit licin ?
thank you
30/06/2010 at 09:29
keren keren banget fotonyaa
inspiratif banget
film yang 120 nggak susah nyarinya?
30/06/2010 at 10:59
Wuaahh…
Trims ya Diza dah mampir disini..
Semoga ga bosen sering2 mampir ke koelitinta..
Fillm 120mm skrg ini agak cukup sulit untuk tipe2 tertentu trutama. BW, tapi untuk colour saya rasa masih cukup banyak yang jual..
30/06/2010 at 11:17
iya, gara2 hasil foto lo gue jadi mikir-mikir lagi mau beli 120 gn apa 135 bc haha ada saran nggak?
30/06/2010 at 15:02
hhehehe…
balik lagi ke selera boss..
kal suka format 6×6.. silakan di coba 120..
tapi kalo seneng ama format 35mm boleh dicoba juga tuh…
kalo beli holga 120, bisa dipake buat 35mm juga… tapi ga sebaliknya…
01/07/2010 at 08:04
kalo nggak salah ada kan ya artikelnya di squarefrog pake 35mm, tapi nggak ngerti -,-
01/07/2010 at 09:23
◦°◦◦°◦нзнзнзнз◦°◦◦°.. Kan ada video nya tuh bos, kalo ngikutin itu ga begitu susah ko..
17/04/2011 at 17:40
gan, sumpah ane ga bisa ngomong apa-apa ..
hasil holganya indah banget, banget, banget …
itu tajem banget, apa itu ciri khas dari holga 120 GN ??
21/02/2012 at 11:24
gilleeee…mmng master nih kang,….aye salut ma hasil fotonx….
ray of light gitu susah aye nemuinx….wkwkwkwkwk…bravo kang…
12/03/2012 at 16:35
Keren abis n mau dong berguru n mas sandy bagi ilmunya dong untuk pemula