Hampir selama 3 bulan lebih saya larut dalam beberapa mini-project fotografi yang salah satunya itu memuat artikel bernafaskan “photo-journalistic” tentang sebuah Vihara/Kelenteng tertua di Kota Bandung, Vihara Satya Budhi (Xie Tian Gong). Dalam kurun waktu tersebut, saya sempatkan dua atau tiga kali dalam seminggu mungunjungi Vihara Satya Budhi yang berlokasi di Jln. Kelenteng, tidak begitu jauh dari pusat kota Bandung. Entah itu hanya untuk memotret atmosphere dari vihara di kala pagi, siang bahkan di sore hari, proses ritual sembahyang pun tentunya tidak luput dari bidikan lensa saya, sampai ke prosesi perayaan Hari Raya Waisak, Puja Bhakti di Vihara ini sempat terekam dalam liputan saya ini.
Berawal dari ketertarikan dalam mempelajari khasanah peninggalan dari leluhur saya, terutama dalam konteks sejarah dan budaya, maka Vihara/Kelenteng adalah garis start yang tepat untuk mempelajari kedua hal tersebut, terlebih jika kita menginjak ranah yang mengandung nilai-nilai filosofis keagamaan dan kehidupan, begitu banyak hal yang membutuhkan waktu tidak sedikit untuk memperlajari-nya. Namun dalam artikel ini, saya hanya mengulas sebagian kecil saja dari apa yang telah saya amati dan pelajari, mungkin ini semua layak sebatas disebut “catatan kaki” dari perjalanan panjang Vihara Satya Budhi yang telah berusia lebih dari satu abad.
Di penghujung abad ke-19 tepatnya tahun 1896, Golongan Timur Asing etnis Tiong Hoa yang bertempat di lingkungan Pecinan (Chinees-wijk) Kota Bandung yang kala itu belum mendapatkan status gemeente dari pemerintah Kolonial Belanda, mendirikan sebuah kelenteng pertama di Bandung, Sheng Di Miao 聖帝廟,yang diprakarsai oleh Tan Djoen Liong (Luitennant der Chineeschen) dan proyek ini di pimpin oleh arsitek (Chui Tzu Tse) dan ahli sipil (Kung Chen Tse) yang keduanya sengaja didatangkan dari Cina Selatan. Pada awalnya Sheng Di Miao difungsikan sebagai tempat beribadah bersama sesuai kepercayaan tradisional yang dibawa serta dari daerah asalnya di Tiongkok. Lalu pada tahun 1917, kelenteng ini dibangun ulang dan berganti nama menjadi Kelenteng/Kuil Xie Tian Gong 協天宫 (Hiap Thian Kong) yang berarti “Kelenteng Masyarakat”.
Memasuki rezim Orde Baru, situasi dan kondisi etnis Tiong Hoa mulai dipermasalahkan, yang paling terutama adalah efek samping dari peristiwa G30S/PKI di tahun 1965, pelarangan oleh pemerintah masa itu yang cenderung sentiment Anti-China, yaitu pelarangan menggunakan segala nama-nama/tulisan yang berbau Etnis Cina serta budaya dan kesenian asli serta kepercayaan tradisional China tidak boleh ditampilkan, memaksa pergantian nama asli Xie Tian Gong menjadi Satya Budhi. Lantas perbedaan antara kelenteng dan vihara kemudian menjadi cukup rancu karena fenomena tersebut. Imbas lain dalam peristiwa ini adalah kelenteng yang telah berdiri pada masa itu terancam ditutup secara paksa oleh pemerintah. Banyak kelenteng yang kemudian mengadopsi nama Sansekerta atau Pali, lalu mengubah nama sebagai vihara dan mencatatkan surat izin dalam naungan agama Buddha demi kelangsungan peribadatan. Dari sinilah kemudian umat awam sulit membedakan yang mana “kelenteng” dengan vihara.


Mengingat para pendatang Golongan Timur Asing yang ber-etnis Tiong Hoa di Pulau Jawa, mayoritas berasal dari Provinsi Fujian (福建) dengan dialek Hokkian (Min Nan-閩南語), Daerah Fuzhou/Hokchia (Min Dong-福州話) selain dialek-dialek tersebut ada juga yang lainnya; tetapi tidak terlalu signifikan jumlahnya, seperti pendatang dari Kota Chaozhou (潮州) yang membawa dialek Teochew (潮州話) dan dari Provinsi Guangdong (廣東) dengan dialek Hakka (客家話), oleh karena situasi kehidupan dalam lingkungan etnis yang sama dan terpusat (Pecinan), maka dengan sendirinya akan terbentuk sebuah lingkungan yang diliputi budaya walaupun berbeda bahasa namun sarat dengan tradisi dan kepercayaan asli yang terbawa dari tempat asal. Untuk menampung kegiatan kelompok masyarakat tersebut, kelenteng juga dapat difungsikan sebagai balai rakyat atau community center.

Hening… Damai… Kudus…
Itulah impresi pertama yang saya rasakan ketika memasuki kompleks Kelenteng Xie Tian Gong / Vihara Satya Budhi di pagi hari. Wangi asap dari hio (baca: dupa) yang masih menyala, memenuhi altar utama yaitu altar milik Thian Gong (Toa Pe Kong). Semburat cahaya menyelinap dari celah-celah atap yang terbuka, memperkuat suasana ibadat yang begitu sakral dan kudus. Cahaya api jingga dari segelas cangkir minyak di hadapan patung Thian Gong, terlihat dari kejauhan berjajaran rapi memberikan secercah sinar di dalam kegelapan, yang seakan-akan menjadi sebuah pelita penuntun jiwa dalam kehidupan. Elemen interior vihara yang serba seimbang/balanced, kaya akan detail dan warna serta bernilai estetis oriental, mengingatkan saya pada filosofi Tao, Yin-Yang, tentang penting-nya keseimbangan dalam kehidupan. Entah mengapa bagian ambang bawah dari gerbang pintu kayu dibuat cukup tinggi, sehingga pada saat kita hendak masuk ke altar, kita melangkahkan kaki kanan terlebih dahulu yang diikuti dengan membungkuk sebagai tanda penghormatan. Salah satu ragam hias nya mengundang decak kagum adalah pedestal kolom yang terbuat dari batu dan terdapat ukiran Naga setinggi dua meter lebih. Lalu terdapat simbol floral yang berwarna-warni serta terdapat bunga teratai atau padma yang menyimbolkan mandala, ruang dimana manusia memperoleh kesempurnaan.
Jika kita membandingkan besaran Kelenteng di Kota Bandung, Xie Tian Gong tergolong kelenteng yang lebih besar dan luas dibandingkan yang lainnya. Pada bagian tengahnya terdapat sebuah altar yang lebih mirip aula tempat peribadatan dengan luas kurang lebih 30×20 meter. Di sisi kanan dan kiri aula tersebut terdapat juga altar penyembahan dewa-dewi lainnya, di tambah dengan tempat pembakaran kertas uang
di masing-masing sisi yang menyerupai Pagoda, keagungan Xie Tian Gong lebih jelas terihat.


Walaupun warna yang mendominasi adalah warna terang seperti emas, kuning, terlebih warna merah yang menjadi “raja warna”, namun suasana yang diciptakan tidak semeriah warna-warni itu, melainkan saya merasakan ambiance/suasana yang sungguh hening dan bahkan terkesan damai yang menyejukkan dan menentramkan hati. Setelah mencoba bertanya pada pengurus setempat, kenapa hal tersebut dapat terjadi? Ternyata komposisi serta keharmonisan elemen warna dan interior adalah dibuat setelah dari hasil penghitungan dengan menggunakan falsafah Feng Shui.
Kepercayaan tradisional Tionghoa merupakan perpaduan dari beberapa ajaran penting yang pernah hidup di-Timur, yaitu Budhisme, Taoisme, dan Konfusianisme. Ketiga ideologi tersebut tampak sangat jelas di-manifestasikan ke-dalam langgam arsitektur kelenteng/vihara. Arsitektur dan detail konstruksi bangunan merupakan rekaman dari falsafah tradisional masyarakat yang dibawa dari tempat asal mereka.

Ritual utama bagi masyarakat etnis Tionghoa inti utamanya ialah penghormatan dan bakti pada orang tua, anggota keluarga yang dituakan atau yang sudah tiada dan Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam penerapan lebih lanjut-nya adalah menjadi penghormatan pada tokoh yang berjasa pada masyarakat semasa hidup mereka, pelaku sejarah yang karakter dan tindakannya patut diteladani, guru yang dihargai, serta para nabi. Dalam perjalanan sejarah berabad abad; tokoh budaya ini bermetamorforsa menjadi folklore, mitos, legenda, bahkan sebagian dipuja dan dianggap dewa-dewi yang dipercaya memiliki kemampuan atau berkat tertentu bagi umatnya.


Dapat kita lihat pada manifestasi ini, kedua Jendral Perang kenamaan dari Negara Shu Han (蜀漢) dalam Epik Kisah Tiga Negara/Romance of Three Kingdoms (三國演義), Guan Yu (關羽) dan Zhang Fei (張飛) terlukis dibalik pintu berwarna merah, yang dijadikan gerbang utama kelenteng ini. Mereka diharapkan senantiasa menjaga serta melindungi setiap insan dari marabahaya dalam kehidupan. Terlebih lagi bagi Guan Yu atau dikenal dengan nama Guang Gong/Kwan Kong, beliau disembah sebagai salah satu bodhisattva dalam ajaran Budhisme, Dewa Perang/Dewa Penjaga dalam ajaran Taoisme, karena itu di negara lain banyak didirikan tempat pemujaan/altar yang dikhususkan bagi Guan Yu.

Untuk mengingat jasa-jasa para umat vihara sekaligus donator dalam proses pembangunan, pembangunan ulang serta renovasi dipahatkan beberapa prasasti yang ber-isikan nama-nama para donator sesuai dengan tahun proyek pembangunan/renovasi dilangsungkan. Pada pembangunan pertama di tahun 1896, terdapat donator selain dari Kota Bandung yaitu, Batavia, Cirebon, Cianjur, Semarang, Tanjung Pura, Suka Pura (Ciamis), Manonjaya (Tasikmalaya). Hal tersebut membuktikan bahwa diaspora dari Etnis Tiong Hoa pada masa itu tidak hanya terbatas pada kota-kota besar saja, sampai ke pelosok daerah pun terdapat segelintir etnis Tiong Hoa.

Lukisan mural yang terdapat di dalam kompleks Vihara Satya Budhi, umumnya yang dilukiskan juga sering bermakna simbolik, membawakan pesan tersirat yang harus ditafsirkan oleh mereka yang melihat. Sebagai pengantar kadang-kadang disertakan suatu kutipan dari bagian tulisan sastra kuno. Untuk dapat mengerti pesan-pesan tersirat ini secara tepat; mutlak perlu mengetahui secara lengkap karya yang dikutip, serta sejarahnya. Penggunaan simbol dalam budaya Tionghoa banyak juga digunakan huruf dengan bunyi yang sama (homophone). Kata yang berbunyi sama ini lalu dituangkan dalam bentuk huruf kaligrafi, ornamen, dan lukisan.
福禄夀三星拱照。
Fu lu shou san xing gong zha.
Keberuntungan, harta, usia, 3 bintang menyinari.
天地人一氣同春
Tian di ren yi qi tong chun.。
Langit, bumi, manusia bersama di musim semi.

Mural yang lukisannya sekarang dapat diteliti pada bangunan klenteng Xie Tian Gong 協天宫 Bandung, membawakan pesan budaya yang serupa. Kepercayaan menurut falsafat Tao, Budhisme, dan ajaran kehidupan Confusius. Mengangkat episode-episode dalam cerita Hong Sin, Epik Kisah Tiga Negara/Romance of Three Kingdoms (三國演義), yang juga dilengkapi contoh-contoh perbuatan tokoh bersejarah yang dinilai patut untuk diteladani oleh masyarakat generasi penerus.

Jika bagi sebagian orang, vihara/kelenteng identik dengan umat yang telah lanjut (senior citizen), maka AMVBG, Angkatan Muda Vihara Buddha Gaya hadir dan eksis untuk menyangkal pernyataan tersebut, regenerasi dari yang sudah senior terus berlangsung, mewariskan adat-istiadat dan budaya yang tak ternilai harganya. AMVBG selalu aktif dan tak kalah sibuk dengan para pengurus Vihara dalam setiap acara yang dilaksanakan oleh Vihara Satya Budhi, baik itu Imlek, Waisak, dsb.
Setiap kali berkunjung ke Vihara Satya Budhi, saya seakan-akan melakukan perjalanan spiritual dan sekaligus meretas sejarah serta melintasi keagungan yang tak lekang oleh waktu, dan yang paling penting saya sungguh menikmati memotret di tempat ini, bagi saya tak hanya sekadar membidik dan merekam apa yang saya lihat, tetapi jauh di dalam nya saya merasakan begitu kuat “aura” dimana jiwa dan hati selalu dipenuhi rasa kedamaian. Silakan sekali-kali anda coba untuk membuka hati dan jiwa anda ketika anda berkunjung dan memotret di Xie Tian Gong.
Selamat Menikmati!
- BW : Nikon SLR + Ilford XP2 400, Ilford Pan 50
- Colour: Nikon DSLR & Holga 120GN + Kodak Ektacolor 160


















06/07/2009 at 00:51
informatif bgt. Tulisan dan foto-fotonya cukup menggambarkan tempat tersebut…
btw foto trakir igo smua tuh :beer:
06/07/2009 at 01:08
trims chad!!
itu IGo oriental…
06/07/2009 at 11:58
Pernah foto2 di sini dan klenteng ini merupkan salah satu bangunan bersejarah di kota Bandung. Tulisannya lebih lengkap dari posting yang pernah dimuat di blog saya. Bagus foto2nya, punya makna seiring isi tulisan. Good Job Sir !
06/07/2009 at 12:08
trims Om Toni udah mampir…
justru artikel ini bisa jadi berkat posting Om yang sebelumnya, saya jadi terinspirasi… hehehe!!
semoga artikel ini sedikit melengkapi apa yang pernah om tulis atau postingan kawan2 lainnya…
soalnya setau saya hanya sedikit sekali sumber yang tersedia di internet.. mau tidak mau saya coba mewawancara pengurus vihara xie tian gong.
trims!
11/01/2010 at 04:58
Terima kasih, tulisannya membantu banget buat tugas saya. Kemaren waktu k viharanya, ga tanya2 ke pengurusnya sih, jadi taunya cuma segitu. Abis pengurusnya keliatan judes…^^
Thx ya
11/01/2010 at 10:29
Hi Julia!
trims udah mampir di weblog Koelitinta..
wah sayang sekali..
padahal mereka cukup ramah juga ko…
hanya saja pengurusnya terlihat pendiam…
kita nya yg harus aktif..
03/05/2011 at 00:00
thx bgt buat info ttg kelenteng ini……infonya cukup ngebantuin tugas saya.
Dari kemaren saya bolak balik ke kelenteng ini buat nanya2 seputar tentang kelenteng tp kagak pernah ketemu sama pengurus kelenteng, cuma ketemu ada tukang ngurusin hio, tukang bangunan n pengemis di depan doank…
jd cuma sempet foto2 doank ^^
14/05/2011 at 18:26
sip! silakan dipakai kalau berguna… trims!
23/01/2012 at 01:17
Membaca tulisan ini seakan2 saya berada dalam kelenteng tersebut. Betul2 narasa dan deskripsi yang berkualitas.