Push The Limit With HOLGA : 9 Tips & Tricks

28/05/2009

Holga, Photography


Holga PUSH THE LIMIT

1. Visualisasikan kreativitas dan imajinasi anda

Tuangkan ekspresi dan imajinasi anda sebelum memotret dengan Holga dengan menentukan:

- Bagaimana format gambar yang akan disajikan?

Tentukan format ini sebelum kita memasang film, karena pada saat film sudah dipasang di dalam kamera, mask format gambar tidak dapat diganti.

Format 6×6

Format 6×4.5

Format 35mm + Sprocket Hole*

atau tanpa Mask.

Komparasi Format Film

- Menggunakan jenis film apa? Negatif Colour, BW atau Positif (Slide)…

Jenis Film

Hasil gambar yang kita peroleh sangatlah ditentukan oleh ketiga media film diatas, karena pada dasarnya masing2 film memiliki karakteristik yang berbeda. Hal tersebut menuntut kita untuk lebih jeli dan bijak dalam menggunakan film jenis mana yang tepat untuk objek tertentu, seperti pada situasi ketika memotret “human interest” maka film BW dirasa lebih serasi dan ekspresif untuk digunakan, lantas bukan nya menjadi haram jika kita menggunakan negatif/slide di situasi tersebut.

Namun jika hasrat kita ingin lebih menonjolkan keunikan “false color” dari proses lab “X-Pro” atau “Cross Processing” cobalah slide, selain menonjolkan warna-warna yang tidak lazim, slide juga membuktikan ketajaman gambar yang superb. Cobalah berbagai macam slide dari brand yang berbeda untuk mendapatkan “false colour” yang berbeda pula.

- Light leak…??

3326675156_6bb02434b8_m

Light leak adalah suatu keadaan kesalahan (gagal) dimana film ter-ekspose cahaya yang tidak seharusnya terjadi, yang mana light leak di Holga adalah manifestasi nyata dari jeleknya konstruksi body kamera sehingga masih memiliki celah untuk cahaya masuk dan mengenai bidang film. Umumnya light leak muncul di Holga masa produksi lama sebelum tahun 2002, untuk kualitas Holga produksi sekarang ini masih banyak diperdebatkan oleh para pengguna-nya. Perlu diingat proses unloading film dari Holga harus lebih teliti dan hati2 karena jika ada sedikit kesalahan, film juga dapat ter-ekspose cahaya alias terbakar.

Seperti yang diungkapkan sebelumnya light leak pada awalnya adalah “kesalahan”, namun pengguna Holga pada umumnya menganggap light leak adalah efek “sakral” yang menambah nilai estetis dari Holga.Bagi saya pribadi, saya lebih memilih absen nya light leak dalam foto-foto yang di hasilkan ketika menggunakan Holga, toleransi light leak bagi saya sebatas gambar “occasional” semata.

Bagaimana dengan anda??

2. Kenali Cahaya dan Gunakan ISO Film Yang Tepat

Setelah kita berada di spot pemotretran, lalu kita sudah memperkirakan objek apa saja yang bakal direkam dan sebelum kita “jeprat sana, jepret sini”, kita sebaiknya mengenali dan menganalisa intensitas cahaya di sekitaran spot tersebut. Lalu, tentukanlah ISO film yang tepat untuk digunakan sehingga bisa meminimalisir kesalahan baik itu foto yang under-exposed atau over-exposed. Sebaiknya di Holga untuk all-day shooting menggunakan ISO 400 sebagai solusi “mencari aman”.

3. Pemasangan Film 120

Setting Film Counter Window Holga 120

Pastikan sekali lagi sebelum memajukan film ke angka “1”, jika film sudah terpasang dengan benar, apakah ujung film sudah terkait kencang dengan spool film (sebelah kanan). Putar beberapa “klik” dan pastikan film maju dengan lurus dan sejajar dan di posisi tengah mask, usahakan agar lembar film tidak terlalu kendur ketika diputar. Lihat kembali counter window apakah sudah di preset yang tepat.


4. Jangan Lupa Melepas Lens Cap

Hal yang terlihat sangat simple namun berakibat cukup fatal, ketika kita lupa melepas lens cap (tutup lensa) di Holga. Kenapa? Karena viewfinder yang ada pada Holga tidak WYISWYG, pada saat mengintip di viewfinder kita masih mendapatkan citra walaupun lensa masih tertutup, berbeda dengan medium SLR yang konsep viewfinder nya TTL (Through The Lens).

Pernah saya alami kejadian konyol tersebut, hampir 8 frame saya ambil dengan kondisi lensa tertutup dengan lens cap. Untung saja saya segera menyadari-nya.. mau-tidak-mau saya harus re-compose frame yang telah saya ambil sebelumnya.


5. Pastikan Zona Fokus Berada di Preset Yang Benar

Fokus adalah saah satu hal yang krusial dalam proses pengambilan gambar, Holga tidak mempunyai fungsi untuk menentukan titik fokus yang umumnya kita temui pada format SLR AF, melainkan Holga memiliki fungsi pengaturan fokus menggunakan “zona jarak” yang terletak di ring lensa. Sebaiknya disarankan kita mulai untuk “berhitung” jarak antara kamera dengan objek yang akan kita foto, dan terkadang kita lupa untuk memutar ring fokus di preset yang tepat ketika memotret objek dengan jarak yang berbeda, keteledoran itu yang menyebabkan hasil foto menjadi kurang tajam (out of focus). Berikut skema jarak fokus ideal pada masing-masing preset.

Jarak Zona Fokus  Holga 120

6. Pastikan Aperture Yang Sesuai

Setting Mode Aperture Holga 120

Kombinasikan fungsi aperture Holga dengan ISO film dan shutter speed yang akan dipakai untuk menghasilkan eksposure yang tepat. Simple-nya, aperture Holga ada 2 tipe bukaan, f/8 (Cloudy) dan f/11 (Sunny). Gunakan fungsi bukaan f/8 (Cloudy) jika memotret dalam keadaan “under shade”, dan f/11 (Sunny) jika matahari cerah bersinar. Disarankan jika menggunakan mode BULB, untuk merekam “light trail” cobalah set aperture di f/11, agar mendapatkan speed yang sedikit lebih lama. Bandingkan juga hasil ketajaman gambar dari kedua aperture tersebut, cek disini.


7. Pemilihan Objek yang Selektif

anak

Pilihlah objek fotografi yang dapat me-representasikan imajinasi, maksud serta pesan yang anda akan sampaikan kepada audience. Jargon “don’t think, just shoot” diharapkan jangan sampai disalah-artikan, sehingga kita dalam memotret cenderung asal-asalan terutama dalam memilih objek. Objek yang dirasa perlu dan pantas untuk di-potret, potret..!! tapi kalau tidak perlu dan tidak pantas… lantas buat apa kita harus mensia-siakan film?


8. Komposisi dan Angle yang Tepat

fsd

Pemilihan objek yang selektif sebaiknya disertai dengan eksekusi dengan penentuan komposisi dan angle yang tepat. Umumnya, foto yang nyaman untuk dinikmati itu dikarenakan unsur komposisi yang OK!, baik itu dari penempatan objek, permainan garis, perspektif, warna, dll. Lalu, ingin foto tampil lebih UNIK? Cobalah angle yang berbeda, low angle; high angle atau terserah sesuai imajinasi anda? Tapi sebelum kita mencoba untuk mendobrak patokan/rules yang telah ada, sebaiknya kita mengetahui dan mempelajari-nya terlebih dahulu, sehingga pada akhirnya kita tidak salah kaprah.

9. Pelajari Viewfinder

Bagi sebagian pengguna Holga 120, mereka tidak terlalu memperdulikan fungsi viewfinder dikarenakan fungsi viewfinder yang tidak terlalu akurat dalam menyampaikan citra. Tetapi itu semua seharusnya menjadi hal yang sepele jika kita berniat untuk lebih meng-analisa, dikarenakan posisi viewfinder Holga berada di sebelah kiri lensa maka jika kita memposisikan objek di “CENTER” dari hasil intipan viewfinder, sebetulnya objek tersebut posisi-nya cenderung lebih ke “KIRI” (± 10% dari cakupan viewfinder). Jadi pertimbangkan kembali untuk mengkomposisikan kembali frame tersebut sedikit ke-arah kanan (± 10% dari cakupan viewfinder).

Meditor planto perficio!!
Practice Makes Perfect!!

About these ads
, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Subscribe

Subscribe to our RSS feed and social profiles to receive updates.

233 Comments on “Push The Limit With HOLGA : 9 Tips & Tricks”

  1. ahu Says:

    wow keren kk, sangat ngebantu walo saya pake diana
    :p

    eh kmaren pake iso 400 walo motret ditempat cerah ttp grainy
    kenapa yak? boleh minta list film yg beredar di indonesia ngga
    (yg gampang dicari)

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      makasih udah mampir….

      emang karakter film ISO 400 itu cukup “grainy”
      semakin ISO tinggi, maka hasil foto nya semakin grainy,
      kalo grain di BW itu disebut “art”
      bagi sebgaian besar pengguna BW film..

      emang kmren waktu moto pake film apa??
      mm… kalo list nya saya ga punya bro..
      paling pasaran seh yg standar2 aja… kaya ektacolor, chrome, t-max, dll
      hehe!!

      “noise is defect, grain is art”

      Reply

  2. andy Says:

    wuihh bang bagoes2 pic-nya….bikin lumer dech

    Reply

  3. richard nf Says:

    mantab foto” pengantarnya…informatif banget buat holga’s user ataupun yg baru tertarik dengan holga…

    Reply

  4. maya Says:

    gilaaa keren parah..menurut kamu lebih bagus hasil dari diana,holga atau colorsplash?? apa keistimewaannya? soalnya kalau aku liat hasil cetakannya ngga beda jauh

    Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      Hi Maya!
      trims udah mampir…
      kalo HOLGA n DIANA keduanya sama2 bagus..
      cuman sedikt berbeda dari karakteristik lensa dan reproduksi gambarnya, dan diana lebih lengkap secara fungsi (baik itu pemilihan aperture, tersedianya lensa tambahan, dan pinhole). Tapi entah kenapa saya lebih menyukai HOLGA dibandingkan dengan DIANA. ^_^
      coba bandingkan hasil gambar kedua-nya di FLICKR, cukup banyak foto2 luar biasa dihasilkan dari kedua kamera diatas…

      Kalau dengan colorsplash, itu cukup berbeda jauh…
      IMHO, konsep colorsplash lebih ke arah betul2 “FUN”. dibandingkan dengan HOLGA atau DIANA.
      uniknya colorsplash hanya mengandalkan FLASH warna. Sedangkan HOLGA dan DIANA pun bisa difungsikan seperti itu juga kalau mau.

      Perbedaan hasil cetak akan terasa bila dicetak dengan asumsi diatas 12R, HOLGA dan DIANA akan menghasilkan gambar lebih baik dibandingkan dengan colorsplash, karena perbedaan medium film 120 (HOLGA dan DIANA), medium film 35mm (colorsplash).. Kalau dicetak ukuran kecil, hasilnya sama2 tajam.

      semoga membantu… dan ditunggu hasil foto dari kamera baru nya ya… ^_^

      thx!

      Reply

  5. maya Says:

    ohh gtu kalo aku liat HOLGA & DIANA itu hasilnya sekilas sama ky SLR yaa? jadi kalo mau kesan artistik antara holga & diana yaa? film yg dimaksud itu roll bukan?

    Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      Hi Maya!

      Mungkin lebih tepatnya Holga dan Diana masuk kategori MEDIUM FORMAT bukan SLR, mengingat jenis FILM yang digunakan-nya itu ukuran besar 120mm, untuk lebih jelasnya klik link “120mm” di artikel HOLGA: A Brief Introduction. Kalau kita melihat dari segi hasil, Holga dan Diana cukup jauh berbeda terutama dari segi ketajaman dan reproduksi warna serta keakuratan fokus, itu semua dikarenakan HOLGA dan Diana termasuk salah satu dari banyak jenis kamera “low-fi” atau lebih dikenal dengan TOY CAMERA.

      Holga & Diana lebih identik dengan karakter khas seperti vignetting, mis-fokus, light-leak, dll yang seringkali di-korelasikan dengan “NILAI ESTETIS” atau ARTISTIK spt yang Maya maksud. Perlu diingat medium lain spt SLR atau brand lain pun, dapat dijadikan alat untuk ber-eksperimen secara ARTISTIK, itu semua tergantung motivasi dan tujuan fotografer serta cara pandang seseorang meng-apresiasi sebuah foto.

      Betul, yang saya maksud itu FILM ROLL,
      kalau film format 120mm menggunakan SPOOL dan film 35mm (menggunakan cartridge).

      Semoga Membantu…

      thx!

      Reply

  6. finesa Says:

    utk holga cara memasukkan hasil cetakan gambarnya ke komputer bagaimana?? dengan dicetakkan terlebih dahulu lalu di scan / pakai usb seperti digital?
    thanks before =)

    Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      Hi Finesa!!
      umumnya yang motret itu ga DICETAK tapi cuman sampe proses DEVELOPING (CUCI) saja…
      langsung di scan NEGATIFNYA (FILM)… dengan menggunakan scanner khusus film tentunya…
      lalu… setelah di scan, output gambar umumnya akan ber-ekstensi JPEG… jadi tinggal dipindahin ke USB saja..

      semoga membantu!

      Reply

  7. finesa Says:

    wah..semua lomo seperti itu yaa? saya kira dapat dengan mudah sperti kamera digital layaknya hanya tinggal colokkan ke usb..by the way thx ya informasinya

    Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      yup!! bukan lomo saja, tapi kamera yang menggunakan media film,
      dan sebagian besar dari mereka yang menggunakan, memilih proses scanning.

      sama2 Finesa!!
      thx!

      Reply

  8. vyvy Says:

    wah berarti agak repot ya proses utk memamerkan hasil karya kita..by the way adek saya mau beli holga nii.. holga itu ada jenis jenis nya ngga ya?

    Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      Hi Vyvy!!
      Saya rasa tidak terlalu repot ko, hanya dibutuhkan kesabaran saja, kesabaran dalam menunggu proses cuci + scann.
      Memang dibandingkan dengan format DIGITAL, kamera ini jaduh lebih “repot”. Tapi bagi saya, kepuasan memotret lebih penting dibandingkan dengan urusan repot atau tidak.
      Yup! Holga itu cukup banyak varian-nya… untuk lebih jelas silakan klik link ini http://koelitinta.wordpress.com/2009/05/28/holga-a-brief-introduction/
      disana saya sudah coba merangkum jenis2 varian Holga berikut sedikit penjelasan mengenai kamera tersebut.

      Umumnya di Indonesia yang sering dijumpai adalah
      Holga 120 (format film 120mm) > Holga 120CFN, Holga FN, Holga GN dan Holga GCFN
      dan untuk format film 35mm (Holga 135 dan Holga 135BC).

      Mungkin bisa di cek ke Lomonesia atau FJB kaskus, cukup banyak seller disana yg menjual dengan harga cukup bersaing.

      trims!

      Reply

  9. vyvy Says:

    kalau utk pemula sebaiknya yg tipe apa? yg saya bingung mengapa harga2 satu sama lain kadang berbeda sgt jauh padahal dari segi barang mereka sama sama baru (bukan 2nd)
    trims yaa telah membantu saya ^o^

    Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      Hi Vyvy!
      Sebenernya untuk tipe HOLGA Seri 120 (GN, CFN, GCFN, FN) dari segi fungsi tidak berbeda..
      hanya tite GCFN dan CFN memiliki flash built-in.. sedangkan yang lain tidak memiliki.
      kalau saya menganjurkan untuk membeli tipe Holga 120GN, karena memiliki lensa konstruksi “glass”
      yg menghasilkan gambar sedikit lebih tajam dibandingkan dengan tipe yang lain,
      selain itu flash/blitz external dapat dipasangkan
      di HOT SHOE yg tersedia.

      semoga membantu…

      trims!!

      Reply

  10. vyvy Says:

    konstruksi glass? kalau 120CFN warna flashnya di dalam yaa?

    Reply

  11. sita Says:

    nice blog kawan!
    blog nya terkenal yaa byk yg komentarin *,*
    bukannya yg paling bgus jenis 120 cfn ya?
    flash multicolour sehingga kamera tsb tidak perlu berganti flash kan?
    btw “grainy” itu apa ya???
    thanks before kawan

    Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      Hi Sita…

      Trims udah mampir ke sini…
      Mungkin setiap orang (holga user) mempunyai pendapat yang berbeda, tergantung dari kebutuhan dan motivasi apa yang membawa mereka untuk memotret serta sampai jatuh plihan kamernya pada Holga 120GN/CFN/GCFN/dll…
      Memang secara kelengkapan fungsi Holga 120CFN lebih “mumpuni” dan lebih lengkap dibandingkan dengan Holga 120GN, karena CFN/GCFN dilengkapi dengan asesoris BUILT-IN MULTICOLOUR FLASH sehingga kita ga usah ribet2 lagi nyari flash external/tambahan seperti pada Holga 120GN.

      Tetapi dibalik semua itu ada kekurangan yg cukup SIGNIFIKAN, ketika kita dalam kondisi memotret LOW-LIGHT (kurang cahaya) yang pastinya kita membutuhkan bantuan FLASH, maka asesoris BUILT-IN FLASH CFN ga bisa “berbuat” banyak..
      dikarenakan jarak dan pancaran efektif dari flash nya relatif kecil (lihat panduan flash guide number). Lalu, flash built in tidak bisa di-bounce (dipantulkan).. alhasil jika kita memotret terutama bagian wajah… akan OVER EXPOSURE alias gambar terlalu terang dan kehilangan detail…

      Flash multicolour bisa saja “diakali” sebetulnya walaupun ketika kita menggunakan flash external..
      tempelkan saja PLASTIK MIKA (sampul jilid) yang bening dengan berbagai macam warna…
      di dpn lampu flash ketika memotret….
      hasilnya kurang lebih bakal sama ko… ^_^
      Solusi murah ketika kita ingin ber-eksperimen..

      GN serta GCFN memiliki hasil gambar yg sedikit
      lebih tajam dan reproduksi warna yg juga sedikit lebih akurat dibandingkan dengan CFN, dll…
      karena konstruksi lensa terbuat dari glass…

      Memiliki HOT-SHOE (adaptor tempat memasang flash) >> lebih fleksibel dalam menggunakan flash…

      ____________________________________________

      GRAIN

      Grain itu muncul ketika kita develop film BW.
      Negatif BW terdiri dari susunan butir Perak (Silver Halide)
      yang berukuran mikro.
      Susunan daripada Perak Halida inilah yg
      muncul sebagai grain akibat dari residu developing film, jika foto diperbesar.
      Semakin tinggi sensitivitas film (ISO semakin besar),
      maka semakin besar pula ukuran butir2x perak halida (GRAIN),
      karena itu grainnya semakin mudah untuk di-identifikasi pada sebuah gambar.

      Proses film dengan chemical yang kurang bagus
      juga menentukan tingkat “grainy” nya sebuah foto.
      Sama hal nya dengan film BW expired dengan waktu cukup
      lama dan penyimpanan-nya yang kurang teliti akan menambah kepekatan GRAIN.
      Pushing ISO film juga berperan dalam menentukan kepekatan GRAIN dalam gambar.

      Bedakan GRAIN dengan Noise

      Walaupun NOISE bisa dikatakan sama dengan GRAIN,
      sama2 cacat, namun NOISE dari setiap gambar berbeda2 hasilnya,
      terngantung sensor kamera tersebut. Di lain sisi,
      GRAIN bisa dikatakan sama dan konstan muncul-nya di setiap gambar
      yang dipengaruhi ISO dan brand serta jenis filmnya.

      Trims!
      Semoga membantu!

      Reply

  12. finesa Says:

    “Tentukan format ini sebelum kita memasang film, karena pada saat film sudah dipasang di dalam kamera, mask format gambar tidak dapat diganti”

    semua holga berlaku seperti ini? atau hanya 120GN?
    atau ada satu jenis holga yg bisa semua format?

    Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      itu untuk semua HOLGA, jadi kita menentukan format baik itu 6×6, 6×4.5 atau
      35mm (sprocket hole) sebelum film dipasang kedalam kamera…
      dan mask nya tdk dpt diganti…

      trims!

      Reply

  13. niariniyuniarti Says:

    Hai, Sandy.
    Gue mo nanya agak melenceng dikit boleh yah..:)
    Tadi pagi gue coba masang sendiri (masih newbie nih) fuji film iso 400 120mm, tapi kok setelah gue puter2 ga ada angkanya yah?? cuma ada garis2, tanda panah, trus titik2 padahal udah gue putar cukup banyak. Guenya yang salah pasang, atau emang begitu yah? Mohon bantuannya…huhuhuu…
    thx b4

    Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      Hi Nia!!

      Hihii!! boleh2 silakan… ga masalah ^_^
      Memang film 120 itu puter nya cukup banyak n agak lama…
      kalau belum tahu pelan2 aja dulu…
      sesudah tanda panah, titik, lalu angka…
      dari angka ke angka selanjutnya pakai titik2 juga kalau ga salah, itu FUJI NPS ya??

      jadi… bukan salah pasang, tetapi memang begitu..
      yang harus diperhatikan adalah jendela counter filmnya sudah betul?

      trims!

      Reply

  14. dharmawidhi Says:

    permisi mas sandy..maw ikut nanya soal garain di negatif film.

    sebenarnay ada perbedaan gak antara grain di film 120 sama di 35mm…??
    misal perbesaran negatifnya pake scanner
    kan film 120 lebih luas sehingga nilai perbesaranya lebih sedikit daripada 35mm yang lebih kecil (misal sama-sama dicetak 10R)..

    pertanyaan ini muncul karena asumsi saya grain akan lebih kelihatan bila dicetak lebih besar..apa benr??

    trus pada proses film BW apa saja yag perlu diperhatikan biar meminimalisir grain itu…

    makasih sebelumnya..maaf banyak tanya…

    Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      Sejujurnya dalam hal proses developing BW, saya masih tergolong kurang jam terbang dan pengalaman.
      jadi saya coba membantu apa yang sejauh ini saya tahu.

      Grain pada dasarnya baik itu dalam format 120 atau 35mm sama saja, karena GRAIN terkait pada kecepatan film (film speed) ISO Film.
      semakin besar ISO Film (semakin peka thdp cahaya), semakin tinggi tingkat grain-nya

      Apakah yang anda maksudkan itu GRAIN berasal dari:
      1. Negatif BW yg telah di develop?
      2. Hasil scan dari negatif BW?
      3. Hasil cetak enlarger?
      4. Hasil cetak digital printing on photo paper?

      Jika kita berbicara:
      1. Negatif BW yg telah di develop?

      Grain terkait dengan waktu developing negatif tersebut.
      Semakin lama waktu develop (PUSH), maka negatif akan semakin tinggi kontrasnya,
      akan semakin terlihat jelas GRAIN dikarenakan ukuran yg membesar.
      Pemilihan jenis DEVELOPER juga mempengaruhi struktur GRAIN.
      Contoh: Developer Microdol-X cenderung memperhalus dan melembutkan grain dalam foto, sedangkan developer RODINAL memaksimalkan ketajaman sebuah gambar yg juga berakibat “tajam” nya grain pada sebuah gambar. Ketidak telitian dalam kontrol waktu developing, atau obat develop yg jelek/rusak mengakibatkan grain tampak “kurang bagus”.

      2. Hasil scan dari negatif BW

      Jika kita bicara hasil scanner dari negatif yg telah di develop.
      Maka pertanyaan nya adalah,
      seberapa tajam scanner nya?
      brp resolusi dpi/lpi nya sewaktu scanning?
      setting scanner tersebut? unsharp atau tidak, dll
      karakter scanner tersebut?
      belum lagi fenomena “grain aliasing”

      3. Hasil cetak enlarger

      jenis kertas apa yang kita gunakan?
      seberapa besar kita akan mencetak?
      betul apa yg anda ungkapkan, semakin besar print size, maka grain semakin visible (tapi print size biasanya disesuaikan dengan jarak pandang kita)
      “For this reason, there is no single quantitative measure of noise.The visibility of grain depends on viewing magnification”

      4. Hasil cetak digital printing on photo paper?

      Setelah di scan otomatis output format yg biasa kita dpatkan adalah JPEG/TIFF
      lalu, apakah kita melakukan post-process lagi?
      levelling, adjusting brightness & contrast?
      jika iya.. mungkin saja penampakan grain bisa sedikit berubah.
      Lalu seberapa besar kompresi yang kita lakukan dalam output format tsb?

      Tentu saja sedikit banyak hal diatas cukup berpengaruh dalam konteks GRAIN.

      Link yg cukup membantu:
      http://www.photoscientia.co.uk/Grain.htm#whatis
      http://www.normankoren.com/Tutorials/MTF8.html
      http://www.kodak.com/global/en/professional/support/techPubs/e58/e58.pdf
      http://en.wikipedia.org/wiki/Film_grain

      trims!
      maaf tidak bisa membantu terlalu banyak…

      Reply

  15. firman Says:

    mas sandy..
    mw tanya dong..
    kalo mw dapetin film 120m iso 400 dimana sih?
    dan merek apa?
    soalnya selama ini pake iso 160 cahayanya suka under gt..
    kurang tajam..
    thx mas,,

    Reply

  16. firman Says:

    trus kalo mw nge load film 35mm mesti di kamar gelap ya mas?
    ato kayak nge load film 120 biasa aja?

    Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      ga harus selalu di kamar gelap ketika load film 35mm
      palingan dikorbankan saja 2-3frame dalam 1 roll
      , tapi sewaktu unload (mengeluarkan film) harus di kamar gelap,
      paling tidak jika punya “changing bag” film bisa dikeluarkan di dalam changing bag tsb.

      trims!

      Reply

  17. dharmawidhi Says:

    terimakasih jawabanya cukup menjelaskn mas sandy…
    linknya juga cukup membantu kok.

    Reply

  18. firman Says:

    wah,makasih banyak ya mas sandy..
    kapan2 mesti les privat ni..
    hhe..
    trus kalo mw ngitung filmya gimana mas sandy?
    kan gak ada pengukurnya tu kalo di diana?
    thx before mas..

    Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      hehehe… sama2 bro!!
      kalo mau ngitung filmnya itu…
      dengan cara itungan KLIK serta TURN
      kalau KLIK, kita coba putar knob pemutar film nya “klik” per “klik”
      sedangkan TURN menggunakan putaran 1 (putaran) 1/2 putaran 3/4 Putaran, dst…

      saya sendiri lebih memilih tipe KLIK…
      http://www.squarefrog.co.uk/holga-techniques-35mm.html
      coba cek di site itu… ada panduan yang dapat di save…

      semoga membantu!
      trims!

      Reply

  19. firman Says:

    oke deh mas..
    ke tkp dulu..
    hehe..

    Reply

  20. intaaaan Says:

    he saya intan, saya mau tanya kalo mau nyetak holga yang tipe film nya 120 tuh tergantung tempat nya atau bisa dimana aja? terus kalo kelebihan holga yang tipe film nya 120 sama yang 35 apa ya? makasih ya:)

    Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      Hi Intan…

      yup… tergantung tempatnya untuk mencetak langsung dari NEGATIF,
      tapi kalau cetak dengan DIGITAL PHOTO PRINT sepertinya lebih mudah…

      yang jelas HOLGA 120 itu menggunakan media film format 120mm, film format yang lebih besar dibandingkan dengan 35mm.
      Kalau saya sendiri lebih suka dengan format medium 120mm, karena bisa menggunakan mode pengambilan 6×6 (square).
      tidak seperti film biasa.

      trims!

      Reply

  21. firman Says:

    mas sandy,mw nanya lagi dong..
    kalo mw bikin ir, beli filternya dimana ya?
    trus ukurannya gimana yg cocok buat diana?
    jenis2 filternya apa aja ya mas?
    makasih banyak nih..

    Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      filter IR yang pas di DIANA saya kurang tau…
      yg jelas filter IR biasanya banyak dijual di PASAR BARU JKT atau JPC KEMANG
      kalau udah ketemu filternya, trus filmnya sudah ready?
      mengingat harga filter yg ga terlalu murah dan film IR pun di Indonesia cukup langka…
      nah.. si mas sendiri ga ngasih tau ama saya domisili dimana, jadi bingung dech… hihihihi!!
      kalau mo beli bisa coba Hoya R72 atau Cokin P007, ukurannya untuk DIANA, saya kurang tau mas..
      mungkin bisa langsung cari referensi di web2 yg menyediakan info berikut speks lengkap dari diana..

      mungkin seharusnya jenis2 filter ga berbeda jauh antara brand yg satu dengan yg lain, hanya saja
      umumnya filter ada yg ULIR (RING) dan ada yg menggunakan HOLDER lagi.. spt Cokin & Tian Ya.
      dan untuk IR biasanya pake yg ULIR, kalau kasusnya di diana/holga, kayanya membutuhkan “step up” ring…
      tergantung dari seberapa besar ukuran ring lensa diana..

      semoga membantu..
      nb: coba cari referensi lagi di web luar… jarang diana memakai IR, umumnya Holga, karena lebih mudah memodifikasi dudukan filternya..

      trims!

      Reply

  22. firman Says:

    oohh gitu yah mas..
    say tinggalnya di jakarta mas sandy..
    saya udah liat foto2 mas di flickr,keren banget..
    hehe..
    kemaren udah beli film ir,ternyata baru tau itu mesti pake filter..
    hehe..
    JPC Kemang tu yg deket aksara ya mas?

    Reply

  23. nainings Says:

    wah. ternyata susah-susah gampang yah megang lomo.
    baru aja tertarik sama holga tapi langsung hopeless pas tau ada “rules”-nya juga. hehe
    ak pgn banget holga GCFN..

    mas sandy, ak aga bingung nih. klo film yg d pke tu semacam film di tustel gitu kan yah? beda atau sama? kira-kira bisa dibeli dimana selain di kaskus klo di sekitar DIY? klo di jakarta di heyfolks (mayestik) ada kan yah?
    klo di tustel kan kita kenalnya film dg isi 24,48 gitu mas, klo di film yg buat lomo ini bisa jepret berapa kali?

    terus yg bisa scan / cuci-cetak tuh di mana aja?
    aduh. maaf ya mas, masih meraba-raba nihh. hehe
    thanks a bunch

    Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      yup… pada dasarnya LOMOGRAPHY bukanlah suatu tandingan PHOTOGRAPHY yang terbebas dari “RULES”.
      LOMOGRAPHY adalah “the marketing ways” untuk menjual produk kamera dari pabrikan lomo.
      Tentu saja yang namanya kamera berikut fungsi2 nya digunakan dengan bbrp RULES…
      Inilah yang banyak di salah-kaprahkan oleh para calon pembeli dan peminat lomo,
      walaupun ada jargon “DON’T THINK JUST SHOOT” tetapi… seberapa besar persentase yang mengikuti dengan patuh kargon tersebut menghasilkan foto bagus dan berhasil?

      lebih banyak-nya tidak berhasil, seperti banyak teman2 lainnya yg mengalami kasus serupa..

      HOPELESS?? tentu saja harus dihindari…

      Holga 120GCFN menggunakan medium film 120 (medium format) cukup berbeda dibandingkan dengan film yg umum kita temui sperti SUPERIA, dll itu (film 35mm)
      DIY, saya kurang tahu persisnya dimana, coba cari di toko2 yg menjual kamera (bukan lab foto seperti fuji, dll), biasanya masih bisa ditemui “film 120″.
      Jika film seperti superia menggunakan “cartridge”, maka film 120 menggunakan “spool”. (bisa dilihat dari link di post ini).

      heyfolks salah satu penjual, tetapi harganya cukup mahal jika dibandingkan dengan pasar (malah sangat mahal), kalau di jakarta coba cari di PASAR BARU, biasanya untuk film 120 saya membeli di CAPA STORE baik itu untuk colour, slide, dan BW.

      Seperti yang sudah saya ungkapkan dalam POST “Holga Push The Limit”, film 120 bisa digunakan untuk 12 Frame (12x) jika menggunakan masking 6×6, dan 16 frame jika menggunakan masking 6×4.5.

      yang bisa cuci? masih cukup banyak apalagi untuk NEGATIF (FILM) Colour, untuk slide sudah jarang tapi bisa dicoba cross process, untuk BW juga masih dapat ditemui..
      posisi nya dimana nech?

      trims!

      Reply

  24. niny Says:

    Hy,, mo nanya,, kmaren kan br bli holga 135BC,, trus pas d cetak byk yg blank gt,, knapa yahh??
    Trus masa foto d cuaca yg cerah tp hsilx gelap bgt…
    Foto malam ku blum ada yg bhasil nehh,, pdhl udh pke external flash,, jd bingungg,, d bantuin yahh,, makasih sblumnyaaa….

    Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      hi!

      dilihat dari masalahnya , bisa saja film (negatif)-nya kebakar atau kekurangan cahaya karena tidak menggunakan setting aperture (sunny / cloudy) yg tepat…
      mungkin bisa menunjukkan hasilnya gmn? kalau ada taruh link nya aja disini. oce?

      untuk kasus foto malam dan sudah menggunakan external flash…
      itu memotret apa? karena flash mempunyai jarak ideal bagi sorotan lampunya…
      jika digunakan jarak dekat sepertinya ga ada masalah…
      tidak berhasil-nya seperti apa? bisa lihat fotonya? trims!

      Reply

  25. tina Says:

    gw tina…
    meski manggil apa ni, bang, om ata akang sandy =)

    gw baru aja order Holga, g tw holga apa…
    dengan harga gope…
    kmahalan ga ya?

    gw baru ni dalam dunia perlomoan…..
    trus baca artikel lu ada rasa penasaran ma takut buat make holga…

    takut gw ga bisa makenye,,,
    trus gmna dong bang????

    Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      panggil sandy aja non….
      mmm.. dengan 500rb mendapatkan holga..
      asih terbilang standar… tergantung tipe-nya sech…

      penasaran… harus itu, justru hal itu yg membuat kita terpacu membuat foto bagus…
      dan semuanya kembali pada motivasi masing2 orang dalam menekuni fotografi.

      takut ga bisa make-nya?
      holga adalah kamera yg simple dalam artian fungsi, ga seribet SLR..
      kita bisa menggunakan holga karena terbiasa,
      gagal adalah hal yang sangat sangat wajar dalam mempelajari fotografi..
      kenapa harus takut?

      justru itu kita sebaiknya mempelajari dasar2 bagaimana menggunakan kamera,
      sebelum menggunakan kamera (holga).. sebelum jeprat sana jepret sini,
      kenali dulu kamera dan pengetahuan dasar fotografi…
      dengan mempelajari step itu, smoga saja hasil nya tidak asal2an…

      kalau masih gaga? coba lagi, pelajari kegagalan itu dari mana datangnya…
      masih juga gagal? masih juga pelajari lagi…
      tapi semua kembali kepada motivasi, kalo cepet putus asa, buat apa beli kamera?

      trims!

      Reply

  26. tina Says:

    hahahaaaaa….
    ya juga c,,,,

    ribetnya adalah gw sedikit moody =(
    mmmm
    ntar kalo holga na udah dateng,
    jgn bosen ya kalo sering2 gw tanya…

    thanx sandy….

    Reply

  27. nainings Says:

    mas sandy thanks ya.
    by the way, klo mo beli holga yang harganya “ngebayar” bgt dimana yah? klo di pasar baru tu, jual kameranya juga kan yah? ga cuma roll film aja, mas?

    domisili jakarta, tapi bberapa taun ini bolak=balik jogja. maklum kuliah d sono. :P

    Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      mmm… sepertinya harus beli lewat e-bay… kalo ga salah holga 120Gn sekitar 300rb include ongkir ke indonesia.
      ga non… di pasar baru cuman jual film nya doank..
      jarang yg jual holga dengan harga yg cukup bersaing…

      trims!

      Reply

  28. nainings Says:

    yyyaa.. sayang banget.
    o pke e-buy yah?

    kl d jakarta jarang jadinya mahal.. pdhl kualitas tipe holga-nya msh d bawah yg glass. :(

    aduh. bnr2 jadi kepikiran ni.. hehe

    Reply

  29. firman Says:

    waduh,udah makin rame lapaknya mas sandy..
    hehe..
    mas,aku punya foto2 ni, pengen minta komen..
    ngirimnya kemana ya?

    Reply

  30. firman Says:

    siap…
    segera meluncur bos..

    Reply

  31. firman Says:

    gimana komentarnya mas?
    *btw,gw enaknya manggil apaan nih?

    Reply

  32. firman Says:

    udah gw krim lg san..
    coba di cek deh..
    hehe..

    Reply

  33. firman Says:

    wah,makasi banyak ni..
    lumayan nambah ilmunya,jadi malu gw..
    heehhe…
    san,ada referensi situs2 tentang teknik dasar fotografi gt gak?
    gw masi buta banget nih..

    Reply

  34. firman Says:

    san,mendingan mana antara 120gn ama 120gfn?
    itu flashnya kalo gak dipake bisa dicabutkan?

    Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      kalo gw sech mendingan pilih 120GN bos….
      flashnya bisa ganti2… soalnya ada HOT-SHOE buat flash external
      bisa disesuaikan ama kebutuhan kita, jadi lebih fleksibel tentunya.
      flashnya bisa diganti ama yg lebih kuat…

      kalo 120GFN…
      itu flashnya built-in langsung ama body nya…
      jadi ga bisa dilepas..
      dan ga punya slot HOT-SHOE
      buat flash external…

      Reply

  35. oetjheellangela Says:

    nice info gan..
    ane newbie soalnya..hehe..
    ane lagi bingung memilih antara diana f+ atw holga GCFN..
    qra2 agan2 berminat bantu ga ya?
    ada yg pny hsl jepret holga ini ga ya?

    trims..

    Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      Hi!

      sorry baru dibalas… :)
      mmm… mendingan coba kunjungi holgablog.com
      ada komparasi head-to-head antara holga dengan diana,
      hasil GCFN dengan GN ga sangat mirip..
      karena sama2 menggunakan lensa gelas…

      kalo lebih suka tonal yg dreamy..
      coba ambil diana…
      ^_^

      pada dasar nya kedua kamera tsb..
      sama2 bagus..
      tergantung selera kita lebih menuju kemana…
      gitu lho…

      semoga membantu :)

      thanks!

      Reply

  36. indah Says:

    mau tanya donkk.
    aku kemarin abis beli isi film holga tp cuma ada yga negatif 120mm.
    kalo mau beli yg slide[positif] atau BW beli di mana yah di daerah jakarta susah bgt cari yang positif

    Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      hi!

      cukup banyak ko…
      di pasar baru..
      coba datangi CAPA STORE..
      disana masih banyak jual slide…
      terakhir beli 2 bulan kemarin, masih ada fuji provia, kodak ektachrome, fuji velvia.

      selamat hunting film!

      Reply

  37. eko Says:

    baru beli hoga 120cfn

    mau tanya kang…
    kl pake film 120,
    gimana tentuin frame selanjutnya, ada tandakah di film? (kl slr kan di kokang) takutnya saat menggulung tidak pas…

    dengan flash internal..
    berapa jarak paling dekat untuk mengcapture 1 orng, 3 orng, bnyk orng dan pemandangan??

    thanks..

    Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      hi eko!!

      untuk menentukan frame
      selanjutnya tinggal di puter aja tuh..
      pelan2… ada panduan panah2 atau titik2…
      di counter window nya muncul angka2 dari lembar belakang film yg menunjukkan framenya…

      untuk flash internalnya harus dilihat GN nya brp..
      saya rasa untuk pemandangan dengan jarak yg cukup jauh, flash tidak ada guna nya…

      thanks!

      smoga membantu!

      Reply

  38. rocky Says:

    kang mau nanya, kalo tempat nyci negatif+scan buat holga 120 di bandung dimana ya yg recomended?
    trus kalo mau nyari film 120mm di bandung dimana ya?
    nuhun kang

    Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      mungkin bro bisa ke Seni Abadi di jln. wastukencana…
      hasilnya cukup bagus…
      hanya bisa colour…

      kalo cuci BW mungkin coba di nasir foto jln. tamansari…

      mendapatkan film 120mm di bandung bisa dicoba kunjungi KAMAL di jalan braga..

      semoga membantu!

      thanks!

      Reply

  39. eko Says:

    terimakasih…
    hmm..
    tanya lagi nih…
    apakah ada tutorial yang bagus untuk pemakaian film 35mm pada holga beserta penentuan framenya?

    pada beberapa tutorial yang saya baca, untuk menggulung film yang telah habis harus di ruangan yang “completly darkness”..
    nah, tentu saya kesulitan sebagai anak kos…
    ga punya lab sendiri. Apakah bisa dilakukan sendiri dengan aman? bagaimana caranya?

    mohon pencerahan om :)

    Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      hi bos!!

      mungkin bisa coba kunjungi http://www.squarefrog.co.uk
      disana banyak sekali info dan tutorial ttg Holga…

      mungkin bos bisa membeli “changing bag” untuk mengatasi film tereskpose chaya
      sewaktu mengeluarkan dan me-roll back ke dalam canister…

      changing bag kalo di jkt bisa dicari di daerah pasar baru.. coba datangi aneka/capa store..

      thanks!
      semoga membantu!

      Reply

  40. eko Says:

    wah saya di YK om…
    bnggu mau carinya dimmn…
    thanks infonya om..
    sungguh berguna..

    Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      hehehe..
      coba kunjungi klastic aja.. di kaskus…
      sapa tau dpt info ttgg yg jual film di YK

      setau saya di FJB kaskus juga banyak yg jual film 120mm..

      thanks juga udah berkunjung ke sini… ^_^

      Reply

  41. citra Says:

    wah, pencerahan bgt nih buat gw yang baru mau memasuki dunia lomo hehe, hmm rencanannya mau beli holga cfn, tp setelah tau flash built in nya krg berguna, apa lebih bagus holga cn aja ya? kalo holga cn itu berarti flash nya beli lg kah? satu lagi nih, ada saran tmpt beli holga yang hrganya murah meriah ga? sy domisili dijkt..thx b4 !

    Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      hi!!

      mmm..
      semua kembali pada orang yg mo beli sech, ada yg lebih suka CFN, GN, GCFN, dll
      kalo saya lebih ke arah fungsionalitas dri kamera tsb,
      kalo kaya CFN ato GCFN walaupun memiliki keunggulan flash built-in, kalo ga terlalu fungsional lantas buat apa?

      mendingan ambil GN lalu cari flash external yg murmer, kaya brand ACHIEVER, dll.
      kalo yg jual HOLGA GN emang jarang, soalnya GN setau saya, ga diproduksi oleh pabrikan LSI (Lomography)
      coba bisa cari di e-bay ato kaskus… http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2481439
      salah satu link nya…

      masih banyak juga yg jual…
      pinter2 cari harga yg sedikit miring aja… ^_^

      semoga membantu!
      thanks!

      Reply

  42. citra Says:

    sori, mksd gw holga 120gn ..

    Reply

  43. citra Says:

    waah thanks banget nih masukannya.., link nya juga berguna banget..thanks lagi ah :D !

    Reply

  44. zebby augita Says:

    wahhh, makasih bgt infonya… aku punya holga kado ultah dr tmn2, tp gak tw cw pakenya. ini bermanfaat bgt..
    tapii…… aku masukin roll film yg bener aja gak tw gmn crnya, jd gak bs lanjut ke step2 yg kmu ajarin. gmn donkk??

    Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      hi zebby!

      btw… pake film format apa?
      120mm (yang besar) atau pake format 35mm (yg ukuran kecil) soalnya itu berbeda satu dengan yg lainnya..
      dalam hal cara pemasangan…

      thanks!

      Reply

  45. norman Says:

    bos klo mau tau holga kita ready to shoot gmana sih??
    pas udah disetel ke angka 1, terus kita mesti gmana?

    pengguna baru holga nih…

    Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      hi bosss… ^_^

      sorry baru di bales nech… ^_^

      kalo kta mau tau HOLGA sudah ready ato belon…
      ketika kita menggulung film sampai angka 1 >>
      langsung jepret aja, pastikan lens cap dibuka, aperture sudah di setting, dan pastikan mode pemotretan
      di N ato B…

      lalu… setelah itu baru gulung lagi sampai angka 2…
      ato jika mau MX ya jangan digulung dulu film nya… ^_^

      smoga membantu!

      thanks!

      Reply

  46. norman Says:

    mau tanya lagi mode pemotretan N atao B itu fungsinya apa sich? trus bedanya apa?

    Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      kalo mode N (Normal) menggunakan shutter speed 1/100″
      kalo mode B (Bulb) itu mode pemotretan dengan shutter speed yang diatur oleh kita durasi nya…

      biasanya untuk mendapatkan efek light trail, dll digunakan mode bulb dengan bantuan tripod.

      smoga membantu…

      thanks!

      Reply

  47. phantasmgoria Says:

    hai bos sandy, gua pengguna diana nih, dan pake 35 back juga.
    gua udah ngulik setaunan ini dan lagi sebel bgt ama parallax error karna berasa jadi ga bisa komposisi, belom lagi efek zoom karna pake 35 back.. ada website serupa yang bisa push diana to the limit ga ya kayak gini. hehehehe.. artikelnya keren, sangat membantu :)

    Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      untuk diana saya kurang eksplore… ^_^
      karena saya lebih fokus pada HOLGA saja..
      mungkin bisa join klastic.. n disana banyak master2 diana…

      thanks!

      Reply

  48. reza Says:

    Halo mas sandi.
    Mau nanya nanya tntg holga nih.
    Saya bru beli dan pnya masalah dalam masang film.
    Mau nanya kalau klo pake film 120,
    gimana tentuin frame selanjutnya, ada cara lain gag selain melihat di jendela merah ?
    Soalnya angka angka nya gag keliatan di jendela merah holga saya.
    Thanks :)

    Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      Hi Reza!

      thanks udah mampir di blog koelitinta..
      sorry banget baru bisa bales msg nya..

      semoga masih bisa membantu…

      pake film apa tuh?
      ga ada cara lain selain melihat di jendela merah tsb..
      kalo pake film 35 masih ada cara lainnya…
      karena menggunakan hitungan klik..

      thanks!

      Reply

  49. nana Says:

    om/mas/kak sandy, aku baru mw coba beli holga nih, klo yg film 120 susah gak sih nyarinya? soalnya klo lewat kaskus gt agak ribet..
    klo susah aku mungkin mw beli yg 35 aja..
    trus klo mw bwt jd ada efek vintage gt trgantung filmnya atau settingan kameranya sih?
    baru bgt nih di dunia perfotografian kaya gini, ga ngerti sama skali, hehe..

    Reply

    • nana Says:

      maksudnya vignette bukan vintage -__-
      baru sadar klo salah ketik..

      Reply

    • Sandy Wijaya Says:

      hi nana!

      sorry banget baru bales msg nya…

      film 120 memang lebih susah untuk dicari jika dibandingka film format 35mm..
      btw.. posisi nya dimana?

      kalo di bdg.. masih bisa dicari di KAMAL, SENI ABADI, dll

      kalo di JKT bisa dicari di PASAR BARU >> CAPA STORE, ANEKA, dll

      efek vignetting itu karena cacat dari konstruksi lensa..
      kalo di holga bisa ada vignette kalo pake film 120mm di format 6×6 nya…

      smoga membantu..

      thanks!

      Reply

      • nana Says:

        posisi aku di tangerang, makanya takut gak ada yg jual klo di sini, hehe..
        tp kok waktu itu aku pernah liat hasil foto dr 135 bc jg ada vignettenya ya? emang klo pake film 35 ada vignettenya jg gak sih?

      • thesaintdevil Says:

        Hi nana!
        Sorry baru dibales msg nya..
        Kalo Holga 135BC konstruksi lensanya sudah dibuat sedemikian rupa agar mengeluarkan efek vignette di kondisi cahaya tertentu…
        jadi yg harus diperhatikan adalah kondisi cahaya ketika memotret. Jenis film dengan setting kamera tidak ada pengaruh dengan efek vignette..

        thanks!

  50. soul14 Says:

    gw baru dibelliin lomo ma cewe gw..yg holga….

    gw g ngerti pakenya..

    mo tnya nih…

    klo filmnya udah abis,apa blitzna msh bsa idup g?,,
    kmren g bsa..
    cma mo tnya…….

    Reply

  51. nafatali Says:

    hi..hello…I’m bout to buy a holga..masih mencoba-coba mencari beberapa referensi untuk membeli secara online dan yang bener2 nyampe barangnya mas. :D mmm…saya masih bingung masalah film nya sih, karena posisi saya kan di medan, tuh film’nya yang dipake film buat kamera manual biasa kan mas? ato emang film khusus buat lomo’? kalo khusus saya yang gawat! mau cari kemanaaa?? hahaha…reply me by mail ya mas..mungkin bisa kasih saya referensi juga buat buy online yang bisa dipercaya.. :) ty

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      Hi!

      Mungkin bro bisa coba langsung cek ke FORUM JUAL BELI >> CAMERA >> Di Kaskus..
      banyak temen2 disana yg jual produk HOLGA non LOMOGRAPHY.
      Film nya secara general sama dengan film pada umumnya.
      Hanya saja HOLGA tipe 120 format film nya yg berbeda yaitu 120mm (medium format)

      Untuk di Medan sendiri saya kurang tau keberadaan film 120mm nya gmn,
      tapi saya rasa untuk film tidak terlalu jadi masalah juga.

      Saya copas juga komen ini ke email ya…

      thanks!

      Reply

  52. qittii Says:

    hiii ^^ !!
    mau nanya2 tentang holga nih…
    nyambung dr komen ys sblmnya (nana), pertanyaan aku persisi kea gitu,
    aku jg di tangerang, trus takutnya kalo mw nyari film yg 120mm susa, jadi aku mutusin buat beli holga 135bc….
    bisa tolong dijelaskan ga kekurangan sm keunggulan antara holga gfcn sm 135bc?
    oh iya, trus perbedaan yg paling signifikan antara film 120mm sama yg 35 apa ya?
    trus pertanyaanku sama kek nana di atas, kalo yg 35mm ada vignettenya ga ya?
    dan aku masih newbie, baru mau make lomo, kira2 kl aku mutusin buat beli holga 135bc sesuai ga? atau kalo bisa, minta rekomendasi tentang lomo yg cocok buat newbie kek aku …
    trims yaaa…maap kalo panjang..hehe ^^

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      Hi!

      Thank udah mampir di weblog Koeli Tinta..
      Begini..
      Pada dasarnya memang film 120mm populasi-nya lebih jarang dibandingkan dengan film 35mm,
      Namun tidak sebgitu parahnya sampe ga ada…
      Jakarta apalagi disana film 120mm di Pasar Baru masih banyak yg jualan..

      Kalo di tangerang sendiri, saya kurang tau dimana persis nya jualan film.
      Kalo sis suka browsing KASKUS, disana banyak yg jualan juga..
      Kalo berminat bisa gabung ama KLASTIC >> komunitas kamera plastic n toy cam..
      http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1252064

      Perbedaan paling signifikan itu ukuran film nya spt yg udah saya jelaskan di postingan ini..
      kalo film 35mm ukurannya 36x24mm.. (3:2) kalo film 120mm itu bisa format 6×6 alias SQUARE Format dan Format 6×4.5 (3:2) untuk persegi panjangnya

      Kalo saya pribadi lebih menyukai format 6×6 (Square) dibandingkan format 35mm..
      Sebetulnya dua2 nya sama aja tuh, fungsi nya ga ada yg berbeda antara GCFN dengan 135BC
      hanya saja 135BC lensa nya dikonstruksi sedemikian rupa agar meghasilkan efek vignette yg berlebih..

      Kalo film 35mm dipasang di Holga 120… efek vignette nya nyaris tidak ada…
      kalo film 35mm dipasang di Holga 1335BC >> kemungkinan besar akan ada vignette…

      toy camera ato low fi camera ga ada hubungannya sama status newbi ato ga..
      soalnya setau saya…
      fungsi dasarnya sama aja..
      kita harus belajar dasar fotografi.
      Hanya saja pada kasus toy camera… fungsi penggunaan lebih mudah..
      jadi Holga 135BC sesuai atau tidak… bagi saya sesuai2 saja…

      balik lagi ke motivasi awal dari sis sendiri…
      lalu… tidak lupa mslh selera…
      karena holga 120 dengan holga 135 atau dengan diana misalnya…
      3 tiga kamera itu memiliki karakteristik yg berbeda…
      so… tergantung selera, suka/tidak suka…

      smoga membantu…

      thanks!

      Kalo saya pribadi lebih menyukai format ini

      Reply

      • qittii Says:

        hmm……gitu… ^^
        wah trims ya infonya sangat membantu lohh..
        keknya udah mantep nih beli gcfn 120mm…
        anyway, saya liat2 di atas ternyata banyak istilah2 yang saya belom ngerti hehe
        mohon bantuannya yaa kalo saya ga ngerti, nanya2 di sini boleh kann??
        trims!

      • thesaintdevil Says:

        Silakan non…
        kalo ada yg krg dimengerti..
        ajukan pertanyaan disini boleh ko… ^_^

  53. itang Says:

    halo sandy, saya suka blognya
    sangat membantu nih dalam lomo-berlomo

    mo nanya tentang berbagai macam lensa holga (saat ini saya pakai holga 135bc): wide lens, tele lens, set of close-up lenses, dan set of macro lenses; apa sandy jg menggunakan lens kit holga tersebut? kalo iya bisa share beli dimana dan perkiraan harganya nggak?
    trs kalo scan hasil foto dmn?karena kalo tempat scan saya yg biasanya (di lab2 foto fuji dst) suka potong fotonya nggak kira2 (karena pakai diana mini, jadi bnyk gambar yg overlap, shg mereka bingung mau potong dmn), akhirnya bnyk foto yg nggak bagus hasilnya. mungkin bisa dishare yg daerah jakpus

    terima kasih banyak sandy, semoga blognya terus update

    Reply

  54. Ivan Says:

    hai bro sandy. nice blog anyway :)
    saya mau tanya nih bro, saya pengguna holga juga (gcfn).
    perbedaan fungsi gcfn sama gn apa ya ?
    karena tadinya sama mau beli gn saja, tapi saya kira gn dan gcfn perbedaannya hanya di built-in flash saja. apakah benar begitu apa ada perbedaan fungsi ya bro sandy ? lalu saya mau tanya juga, menyimpan film di freezer membuat film saya “basah”, jadi apakah harus dijemur ? kalau dijemur saya takut malah membuat film terbakar. kemudian, changing bag itu apa ya bro ? saya bingung, setiap roll film yg saya gunakan pasti ada yg terbakar, entah karena apa, padahal saya load dan unload film di tempat yg cukup gelap.

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      Hi Bro Ivan…
      thanks kunjungan nya ke blog koelitinta…

      Pada dasarnya semua Holga tipe 120 memiliki kesamaan dlm setiap fungsinya, termasuk itu shutter speed, aperture, dll
      kesemuanya memiliki fungsi yg sama.
      Hanya saja pada kasus ini Holga 120GN tidak memiliki BUILT-IN FLASH layaknya Holga 120GCFN, namun itu semua bisa diatasi
      dengan dipasangnya FLASH EXTERNAL pada HOT-SHOE yang tersedia di Holga 120GN.
      Sayangnya kelengkapan standar HOLGA 120GCFN tidak disertai dengan HOT-SHOE, jadi flash mau tidak mau hanya mengandalkan built-in nya saja.

      Biasanya saya ketika menyimpan roll film di kulkas, saya masukkan ke dalam tupperware, ketika roll film tersebut hendak dipakai,
      sebaiknya didiamkan dulu sejenak.. untuk menghilangkan embun yang muncul ketika dikeluarkan.

      Changing bag itu spt ini http://www.bhphotovideo.com/c/buy/Changing-Bags/ci/786/N/4294542822

      Mungkin karena proses penggulungan nya yg tidak benar sehingga roll film setelah habis menjadi sedikit menggelembung dibagian tengahnya..
      jadi cahaya masih bisa masuk mengenai negatif. Umumnya Holga memiliki “penyakit” spt itu.. karena knop penggulungan film nya tidak rata..
      jadi ketika LOADING film harus dipastikan jika film sudah rata gulungannya…

      smoga membantu… :)

      Reply

      • Ivan Says:

        oke deh bro Sandy, terimakasih atas pencerahannya.
        saya berencana untuk membeli holga GN nih, hehehe.
        flash external merk apa ya bro yg bagus ? dan di daerah Jakarta, dimana tempat yg menjual flash external ? kira-kira harganya berapa ya bro ?

      • thesaintdevil Says:

        heheh..
        sip2… ditunggu share foto dari GN nya ya… ^_^

        flash external mungkin bro bisa coba beli yg dapat difungsikan “tilt & shift” agar dapat di bounce cahaya nya…
        untuk sekelas holga, flash external bisa coba beli flash merk ACHIEVER, AMITY, dll…
        harga berkisar 100-300rb… (second) kalo di jakarta bisa coba cari di PASAR BARU, JEMBATAN HITAM..

      • Ivan Says:

        wah, kalo yang baru mahal ya bro flashnya ? soalnya takut kualitasnya udah ga oke kalo beli second..
        oke deh bro nanti kalau sudah ada hasil fotonya saya share dimari :)

  55. maher Says:

    halo bang sandy…
    to the point aja nih.. baru berkecimpungan dalam LOMOgraphy.
    saya mengambil holga GCFN erus udah saya modif jadi 35mm.. nah cara ngitung dari frame ke frame gimana yah?
    suka tubruk2an

    terus gunanya kita selotip intipan belakang apaan?

    mohon bantuannya

    Reply

  56. shella Says:

    Hayy mas shandy .. Aku lagi bingung nih mau beli lomo 120GCFN atau beli jelly lens yang bisa dipasang di kamera handphone ,, aku sempet kepikiran pengen beli yang jelly lens, soalnya lenih mudah upload ke komputer, ga perlu di scan segala..nahh,, kira kira mendingan yang mana yah ?maklum, masih ‘buta’ tentang lomo,hehe
    Makasih yahh

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      Hi Shella…
      thanks udah mampir di Koelitinta..

      mmm…
      Sepertinya sangat irelevan jika membandingkan HOLGA dengan Jelly Lens..
      Jelly lens bukan kamera.. tetapi hanya sebuah alat membantu untuk menghasilkan gambar yg unik.. THATS ALL!
      sedangkan..

      Holga adalah kamera…
      lebih banyak proses eksperimen yg dihasilkan oleh kreativitas kita untuk menghasilkan sebuah gambar…
      jadi betul… tidak semudah jelly lens dari segi proses nya..

      namun..
      tinjau kembali motivasi shella sendiri..
      maunya itu apa? cuman pingin gambar unik tanpa pusing mslh fotografi dan proses, dll nya?? pilih jelly lens..
      kalo masih mau ribet dengan urusan fotografi…
      cobalah ambil holga ato kamera lainnya…

      smoga membantu..

      thanks!

      Reply

  57. duan Says:

    mas…
    klo flash yg buat holga 135 bc bisa dipake buat holga gn g ya?
    hbis itu klo di bandung dpt flashnya kira” dmana ya mas?
    mohon infonya yah…
    newbie nih…
    oia,emang klo holga gcfn,flashnya g terlalu kepake ya?
    bingung nih antara gn atw gcfn…
    makasih mas…

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      Hi duan….

      Flash untuk kamera HOLGA bisa meggunakan flash dengan berbagai macam merk..
      kecuali flash untuk KONICA MINOLTA… itu jenis hot-shoe nya berbeda…
      semuanya balik lagi ama kebutuhan..
      mau yg tilt/shift ato ga…
      ga usah yang terlalu hi-tech..
      merk ACHIEVER, Yashica juga ga jadi soal…

      Jadi flash Holga 135 bias dipasangkan di Holga 120GN
      untuk di bandung..
      bias dicari di jalan ABC..
      banyak kamera loak..
      cari second lebih baik drpd beli baru… ga woth it..

      mmm…
      kalo bagi kebutuhan saya.. HOLGA 120GCFN ga terlalu kepake..
      malah bikin ribet..
      flash nya dengan GN (guide number) kecil…
      ga efisien.. tapi harga bisa beda jauh dengan GN..

      memang hanya sesekali saja flash dibutuhkan..
      tetapi kalo flash bawaan tidak maksimal..
      lantas buat apa juga ada..?

      bingung antara GN/GCFN?
      semua kembali sama budget dan kebutuhan..

      holga 120GN + flash (standar kaya achiever) ga bakalan semahal holga 120GCFN..

      smoga membantu… ^_^

      Reply

  58. duan Says:

    makasih banyak mas infonya…
    sangat membantu menentukan pilihan…
    nti saya share” lgy ama mas yah,jgn bosan”…
    sukses terus

    Reply

  59. odie Says:

    mas sandy mau nanya nih..
    kalo jenis2 flash buat holga gn ada apa aja yah?
    dari yang biasa ampe yang filter color atau apapun lah,bingung nih kayanya ada banyak bgt nama2nya,,hahaha
    tolong dijelasin,hehe thnx =D

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      Flash untuk kamera HOLGA bisa meggunakan flash dengan berbagai macam merk..
      kecuali flash untuk KONICA MINOLTA… itu jenis hot-shoe nya berbeda…
      semuanya balik lagi ama kebutuhan..
      mau yg tilt/shift ato ga…
      ga usah yang terlalu hi-tech..
      merk ACHIEVER, Yashica juga ga jadi soal…

      kalau untuk filter colour bisa aja diakali sendiri dengan menggunakan mika yang ditempel di dpn flash nya…

      smoga membantu…

      Reply

  60. santos Says:

    salam kenal mas…
    saya holga nubie nih…
    roll pertama saya load pake fuji 160s, kok hasilnya banyak yang gelap ya mas??
    padahal apperture udah di set ke cloudy krn emang waktu motret itu jam stengah 6 sore..
    trus nyobain multiple exposure kok gambar pertamanya ga tebel ya?? malah cenderung ilang ketiban ama gambar yg berikutnya??
    minta tipsnya ya mas..
    thanx..
    oiya ini link flickrnya..http://www.flickr.com/photos/29100464@N07/

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      Hi Febby…

      jika melihat hasil2 foto di flickr n klastic…
      saya simpulkan memang foto2 tsb UNDER EXPOSED..

      kenapa??
      ISO 160 dengan aperture f/8 (cloudy) tidak sesuai dengan kondisi cahaya pada waktu febby memotret..
      dengan kata lain konidisi terlalu gelap dan ISO kurang tinggi…
      mungkin bisa coba ISO 400 atau lebih sebagai solusi termudah..
      jika objek nya dekat bisa pakai flash..

      atau jika mau ribet… coba pelajari (Exposure Value) EV table..
      sebuah panduan penggunaan ISO, Speed dan Diafragma dalam kondisi cahaya tertentu…
      bisa saja menggunakan mode BULB asalkan kita tahu patokan brp lama speed yg diperlukan untuk membuat foto yg tampil NORMAL.
      nah disitu diperlukan panduan dari EV table..

      untuk MX..
      saya rasa perbandingan kontras antara frame yang pertama dengan yg kedua harus cukup berbeda..
      sehingga satu dengan yang lain bisa “pas”…

      semoga membantu…

      Reply

  61. indra Says:

    gan,mendingan holga 120,135,diana mini,apa diana f+?
    ane bingung mau milih mana..
    mohon bantuannya..
    thx

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      Hi indra…

      Sebelumnya kita harus membedakan
      kamera dengan medium 120mm dan 35mm…

      nah disitu baru kita memilih tipe kamera yang paling cocok dengan selera & minat kita…

      120mm
      Holga 120mm & Diana F+

      35mm
      Holga 135 & Diana Mini

      Masing2 kamera memiliki keunggulan dibandingkan satu dengan yang lainnya,
      sepertinya kurang serasi jika kita membandingkan 120mm dengan 35mm..
      alangkah lebih baik jika membandingkan kamera satu dengan yang lain di dalam 1 medium..

      Intinya…
      semua kembali pada selera & budget kita…
      Holga 120 dengan Diana F+ ???
      coba bro indra selidiki lagi perbandingan hasil yang diinginkan…
      terkadang jika ingit betul2 “dreamy” pilih kamera DIANA…

      kamera holga secara kasar dapat dikatakan lebih murah dibandingkan
      dengan DIANA yang ditambah dengan asesoris yang begitu banyak pilihannya…

      sudahkah bro indra mengetahui spek dari masing2 kamera??

      kenapa saya meilih holga dibandingkan dengan diana??
      karena saya lebih suka hasil yang tajam dari Holga 120GN dibandingkan seri holga/diana yang lainnya…
      selain daripada itu.. selera saya yang mungkin cukup sulit untuk dijabarkan dengan kata2…

      saran saya, coba pelan2 bro indra… kenali masing2 ciri khas dari kamera yang akan dipilih…
      andaikan saya mennyarankan HOLGA sebagai kamera pilihan, dan pada kenyataanya bro tidak cocok.. lantas buat apa..?

      smoga membantu…

      Reply

  62. fels Says:

    mau tanyaa donkk :)
    baru mau belajar pake holga CFN120, tapi bingung cara ngitung roll film nya..
    boleh bantu ngajarin cara ngitung roll nya gak?
    takutnya fotonya jadi ketumpuk..
    thanks..

    Reply

  63. endress Says:

    mas mau nanya nih, saya punya holga 135 bc.

    1. buat holga 135bc cara nentuin format foto nya gmn? trus MASK maksudnya apa?
    2. kalo mw beli film nya berarti pilihannya negatif colour,BW atau Positif y mas?
    3. maksudnya cross process tuh gmn mas? jadiin slide film ke bentuk negatif film y? di bandung dmn y mas bisa cross process?
    4. harga 1 film kodak ektachrom asa 200 & elitechrome asa100 brp y mas?
    5. vignetting, pinhole, developer itu apa y mas?
    6. bedanya slide film dg film byasa ap y mas? kok jarang ada yg bisa scan slide film?
    7. klo pake film yg expired g ngaruh ke hasil y mas?
    8. filter tuh apa mas? trus byk jenis nya y? ada g buat holga 135bc?
    9. kalo mode B (Bulb) itu mode pemotretan dengan shutter speed yang diatur oleh kita durasi nya, maksudny gmn? trus ngaruh ke apanya?
    10. knapa harus nyimpen film di freezer?

    tduh byk bgt jadinya, mohon petunjuknya mas..

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      Hi!!
      Sorry baru bisa bales komen nya:

      1. Holga 135BC tidak mempunya fungsi penggantian mask, mask hanya di Holga 120 saja,
      guna nya masking itu untuk mengganti format pengambilan foto, ada yang 6×6 dan 6×4.5
      bisa dilihat perbandingan nya post ini.

      2. betul sekali… pemilihan jenis film tinggal disesuaikan dengan kebutuhan.
      3. cross process adalah teknik developing positif/slide yang seharunsnya menggunakan cairan E6 namun digantikan
      dengan menggunakan cariran C41 (biasa dipakai u/negatif) atau sebaliknya. Umumnya hampir semua lab cuci foto colour dapat melakukan cross process.

      4. wuaduh… untuk masalah harga saya kurang tau.. bisa langsung di ncek ke toko aja :) umumnya slide 35mm kodak berkisar diantara 35rb lebih (yang fresh).

      5. Bisa di cek disini: Vignetting: http://en.wikipedia.org/wiki/Vignetting, Pinhole: http://en.wikipedia.org/wiki/Pinhole_camera
      sedangkan developer itu adalah, obat/emulsi untuk cuci foto, cuci foto = developing.

      6. Beda nya slide dengan negative dapat dilihat disini: http://en.wikipedia.org/wiki/Photographic_slide
      hampir semua scanner flatbed atau yang drum dapat scanning slide.

      7. tergantung lama nya expired dan kualitas penyimpanan film tersebut. dpt berpengaruh ke tonal warna dan grain.
      8. Filter itu apa? dpt dilihat disini: http://en.wikipedia.org/wiki/Photographic_filter
      filter cukup banyak jenisnya, tergantung kebutuhannya untuk apa.
      buat holga 135BC ada filter nya… bisa yang menggunakan ring atau holder..
      lomography sendiri menjual filternya.

      9. Maksud dari mode BULB sudah bos jelaskan sendiri… :)
      jadi kita bisa atur lama nya bukaan shutter untuk mendapatkan efek tertentu, seperti “light trail” atau
      “slow speed”yang membuat halus pergerakan air terjun misalnya. Sudah jelas Bulb berpengaruh ke hasil…
      Contoh foto dengan mode bulb di holga:
      http://thesaintdevil.deviantart.com/art/Gedung-Merdeka-156020747

      10. Karena suhu terbaik untuk menjadga kualitas film terdapat pada suhu di kulkas… :)

      smoga membantu… :)

      Reply

  64. fels Says:

    pake 120mm
    tapi kan di frame counternya setelah angka 1, ada titik . , trus ada . . , itu udah keitung pindah ke foto berikutnya ato gimana?
    dari angka 1 ngga langsung ke angka 2..nah itunya yg bikin bingung.
    :p

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      yup..
      itu udah keiitung pindah frame..

      Frame 1 >> ambil foto terus puter knob nya ada … … … sampe ketemu angka 2 baru ambil frame lagi, dst..
      :)

      Reply

  65. vincent Says:

    hebat ne blog na.,

    mau tanya donk.,
    1. caranya ngitung roll di holga 135 bc gmn?
    2. holga 135 bc bisa di modif / ditambahin apa aja?

    thx.,

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      Hi Vincent!

      1. Holga 135 BC udah ada film counternya jadi bisa dilihat langsung frame ke frame nya… :)
      2. Holga 135 BC sejauh ini bisa ditambahkan asesoris flash, lensa wide & tele dan fisheye dan filter…
      umumnya holga 135BC bisa ditambahkan asesoris layaknya Holga 120mm..

      smoga membantu…

      Reply

  66. kheke Says:

    bagusan mana antara holga cfn apa gcfn ?
    makasih..lagi hunting holga nih :)
    repp please

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      Hi Kheke…
      sorry baru bisa balas… :)

      Antara CFN dengan GCFN, saya sendiri lebih memilih GCFN…
      perbedaannya hanya dari konstruksi CFN menggunakan lensa plastik sedangkan GCFN menggunakan lensa kaca..
      tentu saja dari segi ketajaman, SEDIKIT lebih tajam GCFN dibandingkan CFN…

      namun jika kheke lebih suka hasil pure holga plastic… lebih baik pilih CFN,
      karena hasilnya akan lebih soft dan tidak terlalu vibrant warna nya…

      dari segi fungsi baik GCFN dan CFN sama2 saja…

      So…
      intinya balik lagi ke selera…
      coba bandingkan hasil foto CFN dengan GCFN…

      Smoga membantu… ;)

      Reply

  67. kheke Says:

    tanya lagi bale kan? :)
    saya juga udah liad holga2 lainnya..
    ehmm..sekarang lebih tertarik sama holga GN..
    tapi GCFN juga bagus..
    kalo mw liad hasil foto kedua kamera itu dimana ya?
    makasih banyak :)

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      coba bandingin di FLICKR..
      http://www.flickr.com

      disana search aja holga 120GN
      lalu bandingin ama holga 120GCFN…

      saya rasa sech sama aja hasil dari kedua kamera tersebut…

      Reply

      • kheke Says:

        makasih banyak yaa :)
        ehm, kalo mz(em mas mas?piss), pilih yang mana?

      • thesaintdevil Says:

        Kalo saya sech pilih Holga 120GNn lbih fleksibel dipakenya, harganya lbih murah :)

      • kheke Says:

        iya..
        tapi kalo tanpa flash, hasil fotonya masih bagus apa kurang maksimal?
        kan flashnya mahal :P

      • thesaintdevil Says:

        tergantung mau motret apa non…
        kan ga selalu setiap motret harus pake flash…

        itu sech cuman opini pribadi saya… lebih baik GN…
        karena saya membutuhkan tipikal flash yang lebih baik daripada flash built in HOLGA.

        saya rasa tipikal flash HOLGA 120GCFN memiliki GN (guide number) yang sangat kecil..
        jadi pake flash itu juga percuma… hanya bsia jarak dekat saja…

        nah… balik lagi ama kebutuhan pemotretan non spt apa..?

        flash external banyak murah…
        100rban juga ada..
        50rb juga banyak… :)

  68. kheke Says:

    q baru pemula :)
    hehe..n tertarik sama holga

    adakah yg semurah itu?
    dmna ya belinya?q tinggal di malang nih..

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      mmm…
      banyak ko non…
      di tukang kamera bekas..
      biasanya di loak2 gitu…

      wuaduh..
      kalo di malang gw ga tau dech harus beli kemana… hehehehe!!

      Reply

      • kheke Says:

        ehmm..sayang sekali..
        di toko loak ya..
        bleh2..
        mz ad album fotonya mz yg pake holga gn? :)
        pengen liad

      • thesaintdevil Says:

        iya non..
        banyaknya di toko loak tuh..
        tapi kalo mau cari simplenya…
        knp ga coba GCFN aja…
        toh hasil ga bakal berbeda jauh tuh… :)

        kalo mo liat gallery..
        silakan berkunjung ke sini
        http://www.thesaintdevil.deviantart.com

        lihat di dlm gallery nya..
        lmyn banyak juga foto holga dah di upload disana..

        ada YM/MSN?
        biar lebih enak ngobrolnya… ;)

  69. kheke Says:

    oke,,ni lagi buka..
    udah kepincut eang GN nihh..
    ada ym..tp jrang dipake..adanya fb mz..
    add me..
    kheke sugka hujan-hujand :)
    thx before

    Reply

  70. kheke Says:

    udah q add mz :)
    hoho…

    Reply

  71. santos Says:

    setelah nyoba holga beberapa kali dengan film fuji baik asa 160 maupun 400, kok warnanya pucat ya mas?? padahal fotonya udah di cahaya matahari, udah dicoba juga dengan setting apperture cloudy maupun sunny, tapi kok warnanya ga keluar ya mas?? kira2 kenapa ya??

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      Yang dimaksud dgn warna yg pucat itu spt apa? Bisa liat foto2nya..? Thanks!!

      Reply

      • thesaintdevil Says:

        Hi Feb!

        Setelah melihat foto2 yg diberikan disini saya berkesimpulan, jika:

        Simple nya…
        Beberapa Foto tersebut OE (over exposure)..
        ISO yang digunakan untuk kondisi cahaya spt dalam foto tersebut terlalu tinggi..
        dapat dilihat pada (EV) EXPOSURE VALUE table 1 dan 2, silakan cek disini: http://en.wikipedia.org/wiki/Exposure_value

        Untuk kedepannya agar tidak salah kaprah menggunakan ISO film,
        lebih baik sedikit mempelajari EV Table..
        Karena Holga cukup simple dalam hal fungsi pemilihan diafragma (f/8) dan shutter speed.. (1/100′)
        jadi EV table penggunaanya cukup mudah.

        Cara menggunakan EV Table, saya berikan contoh spt ini:

        Foto UNTITLED 7 >>
        Kondisi cahaya tersebut dapat saya kategorikan ke dalam kategori “Lighting Condition” di EV 13 (Tabel 2)
        yaitu kondisi cahaya dengan
        “Typical scene, cloudy bright (no shadows)”

        Lalu lihat Tabel 1

        Cari kolom tabel dengan EV 13 yang mempunyai kombinasi exposure mendekati IDEAL
        untuk kondisi cahaya “Typical scene, cloudy bright (no shadows)” yaitu pada:
        f/8 dan 1/125′ serta f/11 1/60′ jika menggunakan film ISO 100

        Karena bos Febby Santos menggunakan ISO 400 pada saat
        pemotretan dengan kondisi cahaya “Typical scene, cloudy bright (no shadows)” (EV 13)
        maka patokan exposure f/8 dan 1/125′ serta f/11 1/60′ pada ISO 100 dinaikan “2 STOP”

        2 STOP >>>
        ISO 100 + 1 STOP = ISO 200
        ISO 200 + 1 STOP = ISO 400
        Maka dari ISO 100 ke 400 naik 2 STOP.

        Ideal EXPOSURE pada ISO 400
        f/8 dan 1/500′ serta f/11 dan 1/250′

        Jadi sudah cukup jelas..
        untuk mendapatkan foto yang nyaris akurat dari segi exposurenya (tidak over atau under),
        maka Holga dengan pilihan diafragma yang terbatas pada f/8 dan f/11 dengan fixed shutter speed 1/100′
        tidak mampu mengimbangi sensitivitas FILM ISO 400 terhadap cahaya…

        Secara logika bukaan diafragma HOLGA pada 1/100′
        lebih lama dibandingkan bukaan yang seharusnya di set pada 1/500′ atau 1/250′
        semakin lama diafragma terbuka semakin banyak cahaya yang masuk bukan?
        hal tersebut yang menyebabkan OE (over exposure) dan sebaliknya jika UE (under exposure).

        Lantas kenapa warna nya menjadi pucat??

        1. Over exposure menyebabkan “colour shifting” atau pergeseran warna tentunya.. (walaupun dalam kuantitas kecil)
        2. Faktor scanning yang kurang benar dapat menggeser histogram dari negatif.. baik itu dilihat dari
        brightness, contrast, ketajaman serta keakuratan warna, color cast, dsb.
        Proses scanning dengan scanner amateur terkadang “salah” membaca eksposure negatif yang UNDER dan OVER,
        sehingga acapkali memberikan dampak unwanted “colour cast”…

        Selain itu colour cast dapat muncul ketika proses developing, atau cuci film…
        terkadang campurang emulsi yang kurang tepat atau kurang bagus dapat mempengaruhi munculnya
        colour cast dlm sebuah foto.

        IMHO, dan saya lihat dlm hasil scanning foto2 nya bos Febby Santos kurang bagus…

        Pada foto UNTITLED 8 warna tidak banyak berubah..
        karena exposure sudah cukup tepat…
        ISO 400 cukup tepat digunakan ketika kondisi cahaya (under shade) dibawah pepohonan…

        Coba bandingkan warna KUNING pada foto UNTITLED 8
        lebih “KUNING” dibandingkan foto lainnya,
        colour cast yang cenderung “bluish” atau kebiru2an pada foto lain
        tidak terlalu siginifikan pada foto UNTITLED 8.

        Kalau masih bingung…
        bisa kontak di
        YM: djisamsoe2006
        MSN: sandywijaya007@Hotmail.com

        atau email di
        sandywijaya86@gmail.com

        Smoga membantu… :)

      • santos Says:

        wow..jawaban yg sangat mahal bwat saya mas..terima kasih ya..

      • thesaintdevil Says:

        sama2 bos!
        email sudah dikirim bos..
        silakan di cek.. :)

      • santos Says:

        lalu yg ini mas kok gelap bgt ya?? padahal tengah hari bolong di teras rumah ga blkngin matahari pula jd ga mungkin backlight..film masih sama fuji nph 400, bukaan cloudy (f/8)
        http://i431.photobucket.com/albums/qq40/febbysantos/holga%20lomography/Untitled-4.jpg
        http://i431.photobucket.com/albums/qq40/febbysantos/holga%20lomography/Untitled-5.jpg

      • thesaintdevil Says:

        Sepertinya “tengah hari bolong” jam 12 sampe jam 2 siang mungkin?
        apakah matahari langsung mengenai objek?
        blon tentu…

        Teras dapat saya kategorikan UNDER SHADE..
        dengan perkiraan EV 6-9 (ISO 100)
        coba bos lihat kembali tabel nya..
        dengan ditambah 2 stop..
        jadi EV 8-11 (ISO 400)

        apakah speed 1/100 bisa mengakomodir kebutuhan eksposure yang IDEAL??

        tentunya dengan bantuan flash/blitz (yang dapat di bounce) sangat membantu
        ketika membuat foto spt ini…

        tanpa flash yang di bounce..
        arah datang cahaya bakal sangat “harsh” atau kasar/terlalu berlebih…
        dan cenderung OE di ISO 400..

        kalau dapat di bounce..
        arah datang cahaya lebih menyebar… :)

        smoga membantu… :)

  72. odie Says:

    mas sandy,kalo jenis2 (merek2) film ngaruh ke hasilnya ga sih? kaya ketajaman, warna ato apa pun lah.. kalo ngaruh merek yang bagus apa yah? trus dapetinnya gampang ga? heho xD

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      Hi Odie…

      Untuk merk2 film tentunya memiliki karakter khas masing2…
      seperti film negatif kodak yang identik dengan tonal warna yang “warm”
      sedangkan film negatif fuji lebih menghasilkan tonal yang “cool”

      namun sejauh saya memotret HOLGA menggunakan kedua merk film,
      bisa dikatakan perbedaannya tidak dapat dilihat. Berbeda ketika saya memotret
      dengan kamera SLR, saya dapat meilhat perbedaan karakter warna pada kedua merk film tersebut.

      Reproduksi warna selain dipengaruhi oleh film tentunya dipengaruhi oleh KUALITAS LENSA.
      dengan kualitas lensa yang buruk maka reproduksi warna pun tidak akan bagus dan akurat…

      Jika bicara ketajaman, maka selain (lagi2) KUALITAS LENSA
      kita harus mengkaitkan dengan ISO serta GRAIN dari film tersebut..
      semakin tinggi ISO, semakin tinggi pula intensitas grain pada gambar dan begitu sebaliknya…

      Pada dasarnya semua merk juga bagus dan memiliki karakternya masing2..
      tentunya dengan harga yang lebih mahal memiliki kelebihannya… :)

      smoga membantu… :)

      Reply

  73. endress Says:

    maksudnya diafragma (f/8) dan shutter speed.. (1/100′) APA mas?

    di holga 135 BC ngaruh ya kita tahan berapa lama shutter nya?

    THX mas

    Reply

  74. dharmawidhi Says:

    permisi…
    mau nanya agak OOT dikit…
    diatas sempet dibahas tentang scanning jadi muncul pertanyaan ini.. :

    ngaruh gak kalo kita nycan film yang kontras warnanya berbeda misal: film yang warnanya cenderung banyakan merah dengan film yang banyakan ijonya bersamaan dengan scaner flatbed??

    trimaskasih sebelumnya
    blog ini banyak banget membantu.

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      hi! :)

      tentunya lampu scanner akan menyesuaikan dengan kondisi negatif/positif yang hendak di scan…
      karena scanning nya ga secara simultan.. namun per frame… :)
      jadi nampaknya ga ada masalah tuh…

      smoga membantu..

      Reply

  75. handoko Says:

    mas punya foto parangtritis dari tahun 70an tidak

    Reply

  76. julio Says:

    Very informative.

    Kalo sy mau process/develop 120 e6 film, dimana ya @ jakarta?

    Kalo di adorama terakhir g ke situ, hasilnya kurang bagus. Slide g ada bekas banyak fingerprint gitu, jadinya kalo di scan mesti post process photoshop.

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      hi julio!

      thanks dah mampir di koelitinta…
      untuk tempat proses e6 di jkt..
      sudah sangat jarang..

      di adorama sebetulnya untuk scanning cukup baik..
      jadi mungkin lain kali bisa diberitahukan pada operatornya
      supaya lebih berhati2 dlm proses scanning… :)

      smoga membantu…

      Reply

  77. taufik hidayat Says:

    maaf ya mas .,.,
    saya mohon pencerahanya.,.,.
    saya mau beli kamera bingung??
    diana mini atau holga 135 bc + flash?

    trs kl mo beli langsung tempatnya ada dimana?
    selain di mayestik.,.,
    karna saya udah trauma dgn buy online.,.,
    lokasi saya di jakarta.,.,

    mohon maaf dan terimakasih

    please reply

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      Hi taufik!
      sorry baru sempat balas komennya… :)

      Diantara kedua kamera tersebut saya lebih memilih Diana Mini..
      karena fungsi dan penggunaannya bisa lebih fleksibel…

      sedangkan holga 135bc hanya unggul dari segi munculnya vignette yg lebih terasa..
      namun semua kembali kepada kebutuhan dan selera… :)

      umumnya di Lomo Embassy atau mayestik…
      tapi kalau mau beli online, coba di kaskus aja…
      banyak yg recomennded seller tuh… :)
      dan harganya pasti jauuhhh lebih murah…

      smoga membantu..

      thanks!

      Reply

  78. adib Says:

    mas,kalo buat pemula holga135 BC & Flash cocok gak yaa?terus harganya terjangkau apa enggak?terus kelebihan atau kekurangannya apa yaa?maaf yaa banyak tanya soalnya newbie banget di dunia toycam

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      Hi Adib!
      trims dah mampir di Koelitinta…

      1. Holga 135BC cocok atau tidak, kembali kepada kebutuhan dan selera… :)
      harganya terjangkau atau tidak juga kembali sama kantong masing2… :)

      2. Kelebihan nya? kalau memutuskan menggunakan format film 35mm, maka film tersebut lebih mudah dicari dibandingkan film 120mm
      kalau kekurangannya? saya masih bingung menjawab dlm hal ini, karena tidak ada pembanding nya… heheheheh!
      saya rasa toy camera seperti Holga 135, 120, diana, dsb… tidak memiliki kontrol fungsi secanggih kamera format SLR…

      smoga membantu… :)

      Reply

  79. chris Says:

    bung,
    mw nanya nh tentang penggunaan flash 15 B
    klo dalam kondisi seperti apa kita menggunakan flash tsb dan jarak standart dalam penggunaan flash tersebut

    trus klo menggunakan flash itu mode dlm posisi sunny/cloudy thx!
    ditunggu reply secepatnya.. heheh

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      Hi Chris…!
      Sorry baru bisa bales komennya disini… :)

      1. Penggunaan flash sudah jelas ketika kita memotret dalam kondisi kurang cahaya, alias low-light condition…
      flash bisa2 saja digunakan dalam kondisi pemotretan dengan subjek yang membelakangi matahari… :)
      bisa disebut juga teknik fill-in flash… :) cuman harus berhati2 mengatur ourput kekuatan flash nya…

      2. Jarak standar penggunaan flash itu diluhat dari GN (guide number) nya…
      dalam hal ini 1flash holga 15b memiliki GN 15, GN adalah rumusan jarak x dengan f-number…
      jarak ideal? sepertinya bisa dilihat dari EXPOSURE INDEX yang umumnya tertera di bagian belakang flash…

      Untuk Holga 15b sendiri saya belum pernah menggunakan…
      karena saya rasa saya lebih membutuhkan flash yang dapat di-bounce… :)
      karena pasti lebih fleksibel dan juga pengaturan output nya dpt diatur..

      Kalau saya selalu menggunakan sunny untuk penggunaan flash… :)

      smoga membantu!

      Reply

  80. adiet Says:

    mas sya bru punya holga 135 bc blm ngrti cra makenya .
    klo mau dapetin hasil vignette gmn?
    ad trik2 khusus gk? thanks (^^,)

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      hi adiet… :)
      pake holga bc ga terlalu sulit saya rasa…
      yg ga ngerti itu cara apa nya?

      dapetin vignetting itu ketika cahaya yang masuk melalaui lensa cukup banyak,
      jadi motretnya paling enak waktu siang hari… :)

      BC = black corner… pasti udah dapet vigennting seharusnya… :)
      trik2 khusus..
      yang jelas buat dpt foto bagus…
      pelajari dasar2 fotografi, lalu kenali kamera yg bos pake dan sering2 motret… :)

      smoga membantu…

      Reply

  81. adiet Says:

    thanks bgt mas jawbnya .
    jawbnya sangat membantu ,:))
    oia 1 lg mas ,klo mnrut mas film yg bagus buat holga 135 bc yg tipe ap n asa nya brp ? n klo mau tau film itu udh abs dilihat dmn ?
    terima kasih sebelumnya :) ) maaf banyk nnya . heheh

    Reply

  82. chris Says:

    boss saya datang lg nh dengan pertanyaan yg lain hehehe…
    kok klo photo diindoor(kondisi cahaya dari lampu) ga ada yg jadi y?? apa karena kurang cahaya atw butuh flash atw lagi asa nya kurang karena sy make asa 200… thx bgt nh sebelumnya!
    sama satu lg nh, jarak pemakaian flash juga tergantung asa film nya juga y… contohnya ini nh http://www.facebook.com/photo.php?pid=30765494&l=b3478d66fd&id=1221810963 holga 135bc with flash, film lucky asa 200 kok burem yah??

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      hi boss…
      sorry2 agak telat nih balesnya….
      heheheh!
      maklum baru turun gunung..
      di-atas sana ga ada sinyal…

      Foto indoor ga ada yg jadi pic nya…
      1. Sudah jelas cahaya kurang
      2. Bisa menggunakan flash dengan GN yg besar atau,
      3. Menggunakan ISO yang tinggi…
      4. ISO 200 seharusnya cukup kalau flash dengan GN yg besar… :)

      GN dipengaruhi juga oleh ISO film yang digunakan…
      misalnya dengan bukaan f/8 di 1/100″ dan ISO 100 dengan jarak ideal flash adalah 2 meter
      maka jika menggunakan f/8 di 1/100″ dan ISO 200 maka jarak ideal nya akan lebih jauh dripada 2 meter…

      kalau gambar buram berarti belum tepat menggunakan zona fokusing dari holga… :)
      kalo tepat pasti betul2 tajam… :)
      seperti ini… :)
      http://thesaintdevil.deviantart.com/art/Juliea-145136979?q=gallery%3Athesaintdevil%2F10840799&qo=32

      smoga membantu… :)

      Reply

  83. chris Says:

    wah makasih byk nh boss…
    gpp nunggu lama yg penting ilmu nambah lg :D

    Oh iy flash yg sy pake Holga 15B dan kyknya flashnya kurang “sinkron” dengan kamera holga 135bc saya kalau dipake dijarak lbh dari 2mtr… CMIIW THx b4!

    Reply

  84. reni Says:

    hey jawab dunk pertanyaan saya !!!
    udh mati kah penghuni blog ini ?? damn shitt !!

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      Wew… kasar amat bahasa nya…?
      ck ck ck… masa gaya bahasa-nya kaya gitu sih…
      tattuuuttt…..

      blon mati ko…
      kalo udah mati, ga bisa bikin reply donk…
      btw… pertanyaan anda yang mana yang belum saya jawab? perasaan blon ada komen apa2 di post ini semingu terakhir… :)

      hati2… mulutmu harimau mu…

      Reply

      • thesaintdevil Says:

        o ya… perlu diingat…
        blog ini bukan Google, Yahoo, atau search engine lainnya..
        dmna ketika anda meng-input pertanyaan lantas muncul jawaban seketika itu juga… :)

        kalo memang anda menganggap blog ini sebagai search engine, salah besar…
        kenapa anda ga menggunakan yahoo atau google saja sekalian?

  85. tam Says:

    mas mau nanya nih..ane mau beli kamera..tapi lagi bimbang antara holga atau diana..masukannya plis :D

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      Hi!
      Sebenernya, antara holga dengan diana basic nya sama saja ko..
      Hanya saja fungsi kontrol aperture di diana lebih banyak dibandingkan holga.
      Untuk tipe holga tertentu seperti 120GN, hasil jauh lebih tajam dibandingkan diana.. :)

      Pada dasarnya kembali ke selera masing2 dan tentu-nya budget juga…
      Selera disini dlm hal, ketajaman gambar, hasil yang diperoleh, serta bentuk dan style kamera.
      Kalo holga lebih simple, diana lebih retro..

      Kalau saya disuruh memilih, maka holga pilihan saya.. :)
      Untuk perbandingan hasil, coba cek holgablog.co. Atau search di flickr.. :)

      Smoga membantu..

      Reply

  86. reni Says:

    hahaha

    Reply

  87. tam Says:

    thx masukannya mas.. btw, punya recommended spot buat nyuci 110mm ga? saya punya babyholga nih..tapi bingung mau nyuci dimana :D

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      Sepertinya sudah sangat jarang n langka…
      Malahan setau saya di bandung sudah tidak ada lab yang menerima develop film 110…
      Entah kalau di jakarta… :)

      Reply

    • ridwanfals Says:

      maaf mas,bkn maksud lancang,cuma pngen sdkt mmbntu.. d nasir foto masih bisa kyknya,yg dket unisba bandung tuh… :D

      Reply

  88. gita Says:

    mas saya mau nanya nih. saya pingin pake film 35mm ke Diana F+, nah kan seperti yg mas blg di atas itu pake turn atau click gitu.. saya agak2 ga ngerti maass.. hehehe maklum newbie nih :P
    jadi kita harus ngitungin suara klik putarannya itu ya? apa gimana?
    saya udh buka squarefrog.co.uk nya, jd maksudnya pas nge load film, saya harus muterin sampe 42click? terus setelah itu kl mau exposure ke-1, muter sebanyak 35 click dst, gitu ya?

    mohon pencerahannya ya mas :D
    thanks before

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      Hi Gita….
      Betul sekali apa yg udah dijelasin ama gita… :)
      Jadi intinya “klik” itu dengan mendengarkan sekaligus menghitung suara klik dari knob pemutar film…
      kalau “turns” berarti kita menghitung jumlah putaran dalam hitungan 1x putaran penuh, 1/2, 3/4 atau 1 3/4 misalnya… :)

      Untuk DIANA f+ saya tidak mengerti hitungan pasti nya,
      bisa dicoba untuk mencari referensi lain, soalnya takutnya berebeda… :)

      Smoga membantu… :)

      Reply

  89. tam Says:

    oke.. babyholga = jadi pajangan sekarang.. haha.. thx infonya mas..

    Reply

  90. katya Says:

    halo kak sandy, aku baru aja beli holga 35bc. Nah, aneh nih.. masa aku gak bisa buka rear doornya buat masukin film? Apa aku yang salah dan bego masa buka rear door aja gabisa, apa emang kameranya yang aneh?

    Kan takut kebawa emosi ga bisa dibuka, ada tombolnya itu kan yg ditarik (lupa namanya), udah ditarik berkali2 tapi ga juga kebuka rear doornya. Kalo pake cara kasar nanti malah rusak dong, kak?

    gimana? tolooong.

    Reply

  91. pidut Says:

    cara ngitung brp klick klo pk film 35 gmn sh?

    Reply

  92. putu Says:

    wah, mas..
    gak usah nanya udah langsung kejawab sama jawaban2 di atas :)
    dulu saya penikmat hasil lomo, sekarang baru mencoba ikut mempelajari sambil bereksperimen..
    jangan nolak ya mas kalo ntar saya banyak nanya.. :D

    Reply

  93. niken Says:

    salam kenal sandy . . . !!!
    aq ada rencana beli lomo,pengenny si holga ato plg gag supersampler.
    tp aq jd takut beli,aq belum pernah pake kamera manual.
    Jadi masih newbi bgt kalo soal fotografi.
    PMinta sarannya ya?

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      Lebih baik holga…
      kalau supersampler, sepertinya bakal lebih bosan…
      karena format pengambilannya saya rasa monoton… :)

      smoga membantu… :)

      Reply

  94. nita Says:

    hi.. salam kenal..

    saya tertarik dengan holga, bener2 baruuu bget
    yang ingin saya tanya,, waktu pas baca d kaskus ada seller yg jual kamera holga mikro 110 warna..
    maksudnya apa yaa? mohon penjelasannya
    thx

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      Hi nita! :)

      Holga 110 itu Kamera Holga dengan format film 110
      untuk lebih jelas mengenai format film 110mm
      bisa dilihat di link dibawah:
      http://en.wikipedia.org/wiki/110_film

      Pada dasarnya sama saja dengan Holga lainnya, hanya saja filmnya yg berbeda…
      di Indonesia sendiri skrg ini makin sulit mencari film 110 dan tempat untuk develop film nya…

      smoga membantu..

      trims!

      Reply

  95. nita Says:

    o gitu yaa..
    kalau di jakarta sendiri di daerah mana ya buat cari filmnya?
    oke, makasi banget infonyaa ^^

    Reply

  96. ria Says:

    hai kk sandy, salam kenal ;)

    aku baru banget ni megang holga nya, kurang pahan gimana cara pake nya dan guna dari bagian-bagian holga nya. yang aku punya holga 120gn. tolong jelasin dengan rinci dong ;)

    Reply

  97. wahyuni Says:

    saya baru suka sama polaroid..pngen bli bngung holga 120 ato 135 ya??minta sarannya..trs makenya gmna??itu lngsung jdi ftonya pas hbis dfto ato gmna??trs holga sama instaxnya fujifilm bagusan yang mana???

    Reply

  98. ajeengg Says:

    mas sandi saya pengguna baru holga nii,tp saya kurang paham hhe saya buka blognya yg koelitinta ttep gga ngerti hhe.. mau nnya klo holga 120 cfn itu pake film yg mna ? mksii

    Reply

  99. satria ganeza Says:

    kang , tolong di pendapatnya ma foto saya doonk . http://www.fotografer.net/isi/galeri/?searchid=2&katacari=382832 . disitu baru ada 3 foto yg di upload yg menuruk saya paling bagus mala kritiknya paling dikit . perlu kritik dan saran yg membangun ni kang :) mau message d FN ribet . hahaha
    ma di FB nih http://www.facebook.com/media/set/?set=a.264348993575822.75737.100000021702662
    nunggu karya holganya kang sandy nih . :D
    Oiya ma nanya klo nyari step up ring 46-52mm + adapter ring 52mm + filter holdernya dmana yah ? jangan ebay dh . gag punya paypal :p

    Reply

  100. putri atika Says:

    mas, saya mau nnya dnk
    saya rencana mau beli lomo, tapi msh newbie, nah baiknya beli yg holga ato diana ? klo yg aku baca komen2 mas diatas lbih nyaranin holga khn, tp aku pgnnya hasilnya lebih k retro n vintage dg hasil yg tajam n gk ribet serta memuaskan haha..
    jd lebih baik holga ato diana ?
    terima kasih sebelumnya, maaf bawel ya mas :D

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      pada dasarnya sama2 aja sih…. :)
      kalau saya lebih cocok sama holga…
      smua juga jika diliat dari fungsi kurang lebih sama ko… :)

      yang jelas holga jauh lebih murah dibandingkan dengan diana…

      Reply

  101. satria ganeza Says:

    makasi kang . klo flash yg murah tp gn nya gede apa yaa ? mending amity 820mz apa yn460 yaa kang? hehe

    Reply

  102. ajeengg Says:

    trus mas,,klo lomo tuh setiap kali jepret mesti kita puter sendri ya spoolnya..saya bingung nggunainnya nii mas..hhe mulainya mesti drmna gt.mksii maas

    Reply

  103. Dewi Lilianne Says:

    bang, newbie nih. baru kemarin pake holga tapi masih bingung cara pakenya. cara pake holga tuh sama aja kan sama pake kamera analog biasa? atau ada yang ngebedain?

    Reply

    • thesaintdevil Says:

      Analog nya kamera apa dulu nih?
      Kalo merujuk pada SLR analog,
      Prinsip kerja nya Holga sama aja kaya kamera analog, yang membedakan itu fungsi holga jauh lebih simple dibandingkan SLR Analog. :)

      Reply

  104. http://www.sydneytiles.net.au/ Says:

    I like the helpful information you provide in your articles. I’ll bookmark your blog and check again here frequently. I’m quite sure I will learn a lot of new stuff right here! Best of luck for the next!

    Reply

  105. Novi Says:

    halo…saya newbie ni ttg holga, sy br saja membeli holga 120 gcfn dan mau menanyakan penggunaan fungsi bulb mode, mohon bantuan nya

    Reply

  106. firmansyahngeblog Says:

    mas sandy : saya baru didunia lomo, saya pake La Sardina tetapi ketika di cetak pasti ada aja gambar yang buram kalo boleh tau itu pengaruh apa?
    2. apakah pengunaan flash pada kamera2 lomo itu pentng?

    Reply

  107. firmansyahngeblog Says:

    mas sandy : saya mengunakan kamera La Sardina, tetapi ketika dicetak pasti aja saja ambar yang buram, kalo blh tau itu apa penyebabnya? dan apakah pengunaan Flash pada kamera2 lomo itu penting?

    Reply

  108. anggie Says:

    asli keki berat ngeliat foto2 hsl jepretannya…btw, mau tanya.kamera holga 120 gn kan katanya bisa masuk flash apa aja kecuali minolta..nah minta saran dong bang kira2 untk flash yang berkualitas tapi terjangkau untuk holga 120 gn saya? oya kalo bisa sama link tempat jual online-nya yang di indonesia (kalo ada) thanks berat ya sebelumnya bang sandy

    Reply

  109. FaiZ Says:

    Kaka sandy saya mau nanya saya anak bandung mau beli holga yang cod atau
    Ada toko yg jual terus di bandung perkumpulan lomo dimana ikut gabung dong mau nanya2 tolling bantuannya

    Reply

  110. faiz Says:

    om sandy saya mau nanya saya ni anak bandung lain kali ketemu yah :D
    saya mau beli holga nih yang cod di bandung susah minta saran dong
    saya mau tahu ada komunitas toycam ga sih di bandung dimana kumpulnya sekalian mau sharing nih

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: