
1. Visualisasikan kreativitas dan imajinasi anda
Tuangkan ekspresi dan imajinasi anda sebelum memotret dengan Holga dengan menentukan:
- Bagaimana format gambar yang akan disajikan?
Tentukan format ini sebelum kita memasang film, karena pada saat film sudah dipasang di dalam kamera, mask format gambar tidak dapat diganti.
Format 6×6
Format 6×4.5
Format 35mm + Sprocket Hole*
atau tanpa Mask.

- Menggunakan jenis film apa? Negatif Colour, BW atau Positif (Slide)…

Hasil gambar yang kita peroleh sangatlah ditentukan oleh ketiga media film diatas, karena pada dasarnya masing2 film memiliki karakteristik yang berbeda. Hal tersebut menuntut kita untuk lebih jeli dan bijak dalam menggunakan film jenis mana yang tepat untuk objek tertentu, seperti pada situasi ketika memotret “human interest” maka film BW dirasa lebih serasi dan ekspresif untuk digunakan, lantas bukan nya menjadi haram jika kita menggunakan negatif/slide di situasi tersebut.
Namun jika hasrat kita ingin lebih menonjolkan keunikan “false color” dari proses lab “X-Pro” atau “Cross Processing” cobalah slide, selain menonjolkan warna-warna yang tidak lazim, slide juga membuktikan ketajaman gambar yang superb. Cobalah berbagai macam slide dari brand yang berbeda untuk mendapatkan “false colour” yang berbeda pula.
- Light leak…??

Light leak adalah suatu keadaan kesalahan (gagal) dimana film ter-ekspose cahaya yang tidak seharusnya terjadi, yang mana light leak di Holga adalah manifestasi nyata dari jeleknya konstruksi body kamera sehingga masih memiliki celah untuk cahaya masuk dan mengenai bidang film. Umumnya light leak muncul di Holga masa produksi lama sebelum tahun 2002, untuk kualitas Holga produksi sekarang ini masih banyak diperdebatkan oleh para pengguna-nya. Perlu diingat proses unloading film dari Holga harus lebih teliti dan hati2 karena jika ada sedikit kesalahan, film juga dapat ter-ekspose cahaya alias terbakar.
Seperti yang diungkapkan sebelumnya light leak pada awalnya adalah “kesalahan”, namun pengguna Holga pada umumnya menganggap light leak adalah efek “sakral” yang menambah nilai estetis dari Holga.Bagi saya pribadi, saya lebih memilih absen nya light leak dalam foto-foto yang di hasilkan ketika menggunakan Holga, toleransi light leak bagi saya sebatas gambar “occasional” semata.
Bagaimana dengan anda??
2. Kenali Cahaya dan Gunakan ISO Film Yang Tepat
Setelah kita berada di spot pemotretran, lalu kita sudah memperkirakan objek apa saja yang bakal direkam dan sebelum kita “jeprat sana, jepret sini”, kita sebaiknya mengenali dan menganalisa intensitas cahaya di sekitaran spot tersebut. Lalu, tentukanlah ISO film yang tepat untuk digunakan sehingga bisa meminimalisir kesalahan baik itu foto yang under-exposed atau over-exposed. Sebaiknya di Holga untuk all-day shooting menggunakan ISO 400 sebagai solusi “mencari aman”.
3. Pemasangan Film 120

Pastikan sekali lagi sebelum memajukan film ke angka “1”, jika film sudah terpasang dengan benar, apakah ujung film sudah terkait kencang dengan spool film (sebelah kanan). Putar beberapa “klik” dan pastikan film maju dengan lurus dan sejajar dan di posisi tengah mask, usahakan agar lembar film tidak terlalu kendur ketika diputar. Lihat kembali counter window apakah sudah di preset yang tepat.
4. Jangan Lupa Melepas Lens Cap
Hal yang terlihat sangat simple namun berakibat cukup fatal, ketika kita lupa melepas lens cap (tutup lensa) di Holga. Kenapa? Karena viewfinder yang ada pada Holga tidak WYISWYG, pada saat mengintip di viewfinder kita masih mendapatkan citra walaupun lensa masih tertutup, berbeda dengan medium SLR yang konsep viewfinder nya TTL (Through The Lens).
Pernah saya alami kejadian konyol tersebut, hampir 8 frame saya ambil dengan kondisi lensa tertutup dengan lens cap. Untung saja saya segera menyadari-nya.. mau-tidak-mau saya harus re-compose frame yang telah saya ambil sebelumnya.
5. Pastikan Zona Fokus Berada di Preset Yang Benar
Fokus adalah saah satu hal yang krusial dalam proses pengambilan gambar, Holga tidak mempunyai fungsi untuk menentukan titik fokus yang umumnya kita temui pada format SLR AF, melainkan Holga memiliki fungsi pengaturan fokus menggunakan “zona jarak” yang terletak di ring lensa. Sebaiknya disarankan kita mulai untuk “berhitung” jarak antara kamera dengan objek yang akan kita foto, dan terkadang kita lupa untuk memutar ring fokus di preset yang tepat ketika memotret objek dengan jarak yang berbeda, keteledoran itu yang menyebabkan hasil foto menjadi kurang tajam (out of focus). Berikut skema jarak fokus ideal pada masing-masing preset.

6. Pastikan Aperture Yang Sesuai

Kombinasikan fungsi aperture Holga dengan ISO film dan shutter speed yang akan dipakai untuk menghasilkan eksposure yang tepat. Simple-nya, aperture Holga ada 2 tipe bukaan, f/8 (Cloudy) dan f/11 (Sunny). Gunakan fungsi bukaan f/8 (Cloudy) jika memotret dalam keadaan “under shade”, dan f/11 (Sunny) jika matahari cerah bersinar. Disarankan jika menggunakan mode BULB, untuk merekam “light trail” cobalah set aperture di f/11, agar mendapatkan speed yang sedikit lebih lama. Bandingkan juga hasil ketajaman gambar dari kedua aperture tersebut, cek disini.
7. Pemilihan Objek yang Selektif

Pilihlah objek fotografi yang dapat me-representasikan imajinasi, maksud serta pesan yang anda akan sampaikan kepada audience. Jargon “don’t think, just shoot” diharapkan jangan sampai disalah-artikan, sehingga kita dalam memotret cenderung asal-asalan terutama dalam memilih objek. Objek yang dirasa perlu dan pantas untuk di-potret, potret..!! tapi kalau tidak perlu dan tidak pantas… lantas buat apa kita harus mensia-siakan film?
8. Komposisi dan Angle yang Tepat

Pemilihan objek yang selektif sebaiknya disertai dengan eksekusi dengan penentuan komposisi dan angle yang tepat. Umumnya, foto yang nyaman untuk dinikmati itu dikarenakan unsur komposisi yang OK!, baik itu dari penempatan objek, permainan garis, perspektif, warna, dll. Lalu, ingin foto tampil lebih UNIK? Cobalah angle yang berbeda, low angle; high angle atau terserah sesuai imajinasi anda? Tapi sebelum kita mencoba untuk mendobrak patokan/rules yang telah ada, sebaiknya kita mengetahui dan mempelajari-nya terlebih dahulu, sehingga pada akhirnya kita tidak salah kaprah.
9. Pelajari Viewfinder
Bagi sebagian pengguna Holga 120, mereka tidak terlalu memperdulikan fungsi viewfinder dikarenakan fungsi viewfinder yang tidak terlalu akurat dalam menyampaikan citra. Tetapi itu semua seharusnya menjadi hal yang sepele jika kita berniat untuk lebih meng-analisa, dikarenakan posisi viewfinder Holga berada di sebelah kiri lensa maka jika kita memposisikan objek di “CENTER” dari hasil intipan viewfinder, sebetulnya objek tersebut posisi-nya cenderung lebih ke “KIRI” (± 10% dari cakupan viewfinder). Jadi pertimbangkan kembali untuk mengkomposisikan kembali frame tersebut sedikit ke-arah kanan (± 10% dari cakupan viewfinder).
Meditor planto perficio!!
Practice Makes Perfect!!

















28/05/2009 at 20:45
wow keren kk, sangat ngebantu walo saya pake diana
:p
eh kmaren pake iso 400 walo motret ditempat cerah ttp grainy
kenapa yak? boleh minta list film yg beredar di indonesia ngga
(yg gampang dicari)
28/05/2009 at 20:51
makasih udah mampir….
emang karakter film ISO 400 itu cukup “grainy”
semakin ISO tinggi, maka hasil foto nya semakin grainy,
kalo grain di BW itu disebut “art”
bagi sebgaian besar pengguna BW film..
emang kmren waktu moto pake film apa??
mm… kalo list nya saya ga punya bro..
paling pasaran seh yg standar2 aja… kaya ektacolor, chrome, t-max, dll
hehe!!
“noise is defect, grain is art”
28/05/2009 at 21:54
wuihh bang bagoes2 pic-nya….bikin lumer dech
31/05/2009 at 18:47
wuahahah… dasar bedul2…
10/06/2009 at 17:49
mantab foto” pengantarnya…informatif banget buat holga’s user ataupun yg baru tertarik dengan holga…
10/06/2009 at 18:06
makasih bos udah mampir…
10/06/2009 at 19:27
gilaaa keren parah..menurut kamu lebih bagus hasil dari diana,holga atau colorsplash?? apa keistimewaannya? soalnya kalau aku liat hasil cetakannya ngga beda jauh
11/06/2009 at 10:28
Hi Maya!
trims udah mampir…
kalo HOLGA n DIANA keduanya sama2 bagus..
cuman sedikt berbeda dari karakteristik lensa dan reproduksi gambarnya, dan diana lebih lengkap secara fungsi (baik itu pemilihan aperture, tersedianya lensa tambahan, dan pinhole). Tapi entah kenapa saya lebih menyukai HOLGA dibandingkan dengan DIANA. ^_^
coba bandingkan hasil gambar kedua-nya di FLICKR, cukup banyak foto2 luar biasa dihasilkan dari kedua kamera diatas…
Kalau dengan colorsplash, itu cukup berbeda jauh…
IMHO, konsep colorsplash lebih ke arah betul2 “FUN”. dibandingkan dengan HOLGA atau DIANA.
uniknya colorsplash hanya mengandalkan FLASH warna. Sedangkan HOLGA dan DIANA pun bisa difungsikan seperti itu juga kalau mau.
Perbedaan hasil cetak akan terasa bila dicetak dengan asumsi diatas 12R, HOLGA dan DIANA akan menghasilkan gambar lebih baik dibandingkan dengan colorsplash, karena perbedaan medium film 120 (HOLGA dan DIANA), medium film 35mm (colorsplash).. Kalau dicetak ukuran kecil, hasilnya sama2 tajam.
semoga membantu… dan ditunggu hasil foto dari kamera baru nya ya… ^_^
thx!
11/06/2009 at 20:54
ohh gtu kalo aku liat HOLGA & DIANA itu hasilnya sekilas sama ky SLR yaa? jadi kalo mau kesan artistik antara holga & diana yaa? film yg dimaksud itu roll bukan?
12/06/2009 at 09:06
Hi Maya!
Mungkin lebih tepatnya Holga dan Diana masuk kategori MEDIUM FORMAT bukan SLR, mengingat jenis FILM yang digunakan-nya itu ukuran besar 120mm, untuk lebih jelasnya klik link “120mm” di artikel HOLGA: A Brief Introduction. Kalau kita melihat dari segi hasil, Holga dan Diana cukup jauh berbeda terutama dari segi ketajaman dan reproduksi warna serta keakuratan fokus, itu semua dikarenakan HOLGA dan Diana termasuk salah satu dari banyak jenis kamera “low-fi” atau lebih dikenal dengan TOY CAMERA.
Holga & Diana lebih identik dengan karakter khas seperti vignetting, mis-fokus, light-leak, dll yang seringkali di-korelasikan dengan “NILAI ESTETIS” atau ARTISTIK spt yang Maya maksud. Perlu diingat medium lain spt SLR atau brand lain pun, dapat dijadikan alat untuk ber-eksperimen secara ARTISTIK, itu semua tergantung motivasi dan tujuan fotografer serta cara pandang seseorang meng-apresiasi sebuah foto.
Betul, yang saya maksud itu FILM ROLL,
kalau film format 120mm menggunakan SPOOL dan film 35mm (menggunakan cartridge).
Semoga Membantu…
thx!
27/06/2009 at 18:49
utk holga cara memasukkan hasil cetakan gambarnya ke komputer bagaimana?? dengan dicetakkan terlebih dahulu lalu di scan / pakai usb seperti digital?
thanks before =)
28/06/2009 at 00:10
Hi Finesa!!
umumnya yang motret itu ga DICETAK tapi cuman sampe proses DEVELOPING (CUCI) saja…
langsung di scan NEGATIFNYA (FILM)… dengan menggunakan scanner khusus film tentunya…
lalu… setelah di scan, output gambar umumnya akan ber-ekstensi JPEG… jadi tinggal dipindahin ke USB saja..
semoga membantu!
28/06/2009 at 14:15
wah..semua lomo seperti itu yaa? saya kira dapat dengan mudah sperti kamera digital layaknya hanya tinggal colokkan ke usb..by the way thx ya informasinya
28/06/2009 at 14:17
yup!! bukan lomo saja, tapi kamera yang menggunakan media film,
dan sebagian besar dari mereka yang menggunakan, memilih proses scanning.
sama2 Finesa!!
thx!
29/06/2009 at 12:42
wah berarti agak repot ya proses utk memamerkan hasil karya kita..by the way adek saya mau beli holga nii.. holga itu ada jenis jenis nya ngga ya?
29/06/2009 at 15:19
Hi Vyvy!!
Saya rasa tidak terlalu repot ko, hanya dibutuhkan kesabaran saja, kesabaran dalam menunggu proses cuci + scann.
Memang dibandingkan dengan format DIGITAL, kamera ini jaduh lebih “repot”. Tapi bagi saya, kepuasan memotret lebih penting dibandingkan dengan urusan repot atau tidak.
Yup! Holga itu cukup banyak varian-nya… untuk lebih jelas silakan klik link ini http://koelitinta.wordpress.com/2009/05/28/holga-a-brief-introduction/
disana saya sudah coba merangkum jenis2 varian Holga berikut sedikit penjelasan mengenai kamera tersebut.
Umumnya di Indonesia yang sering dijumpai adalah
Holga 120 (format film 120mm) > Holga 120CFN, Holga FN, Holga GN dan Holga GCFN
dan untuk format film 35mm (Holga 135 dan Holga 135BC).
Mungkin bisa di cek ke Lomonesia atau FJB kaskus, cukup banyak seller disana yg menjual dengan harga cukup bersaing.
trims!
01/07/2009 at 16:01
kalau utk pemula sebaiknya yg tipe apa? yg saya bingung mengapa harga2 satu sama lain kadang berbeda sgt jauh padahal dari segi barang mereka sama sama baru (bukan 2nd)
trims yaa telah membantu saya ^o^
02/07/2009 at 11:26
Hi Vyvy!
Sebenernya untuk tipe HOLGA Seri 120 (GN, CFN, GCFN, FN) dari segi fungsi tidak berbeda..
hanya tite GCFN dan CFN memiliki flash built-in.. sedangkan yang lain tidak memiliki.
kalau saya menganjurkan untuk membeli tipe Holga 120GN, karena memiliki lensa konstruksi “glass”
yg menghasilkan gambar sedikit lebih tajam dibandingkan dengan tipe yang lain,
selain itu flash/blitz external dapat dipasangkan
di HOT SHOE yg tersedia.
semoga membantu…
trims!!
02/07/2009 at 17:31
konstruksi glass? kalau 120CFN warna flashnya di dalam yaa?
02/07/2009 at 21:43
yup.. glass tapi jauh dari kesan bagus… ^_^
betul sekali… Holga 120CFN, punya fungsi bulit-in flash multicolour…
trims!
03/07/2009 at 11:53
nice blog kawan!
blog nya terkenal yaa byk yg komentarin *,*
bukannya yg paling bgus jenis 120 cfn ya?
flash multicolour sehingga kamera tsb tidak perlu berganti flash kan?
btw “grainy” itu apa ya???
thanks before kawan
03/07/2009 at 14:57
Hi Sita…
Trims udah mampir ke sini…
Mungkin setiap orang (holga user) mempunyai pendapat yang berbeda, tergantung dari kebutuhan dan motivasi apa yang membawa mereka untuk memotret serta sampai jatuh plihan kamernya pada Holga 120GN/CFN/GCFN/dll…
Memang secara kelengkapan fungsi Holga 120CFN lebih “mumpuni” dan lebih lengkap dibandingkan dengan Holga 120GN, karena CFN/GCFN dilengkapi dengan asesoris BUILT-IN MULTICOLOUR FLASH sehingga kita ga usah ribet2 lagi nyari flash external/tambahan seperti pada Holga 120GN.
Tetapi dibalik semua itu ada kekurangan yg cukup SIGNIFIKAN, ketika kita dalam kondisi memotret LOW-LIGHT (kurang cahaya) yang pastinya kita membutuhkan bantuan FLASH, maka asesoris BUILT-IN FLASH CFN ga bisa “berbuat” banyak..
dikarenakan jarak dan pancaran efektif dari flash nya relatif kecil (lihat panduan flash guide number). Lalu, flash built in tidak bisa di-bounce (dipantulkan).. alhasil jika kita memotret terutama bagian wajah… akan OVER EXPOSURE alias gambar terlalu terang dan kehilangan detail…
Flash multicolour bisa saja “diakali” sebetulnya walaupun ketika kita menggunakan flash external..
tempelkan saja PLASTIK MIKA (sampul jilid) yang bening dengan berbagai macam warna…
di dpn lampu flash ketika memotret….
hasilnya kurang lebih bakal sama ko… ^_^
Solusi murah ketika kita ingin ber-eksperimen..
GN serta GCFN memiliki hasil gambar yg sedikit
lebih tajam dan reproduksi warna yg juga sedikit lebih akurat dibandingkan dengan CFN, dll…
karena konstruksi lensa terbuat dari glass…
Memiliki HOT-SHOE (adaptor tempat memasang flash) >> lebih fleksibel dalam menggunakan flash…
____________________________________________
GRAIN
Grain itu muncul ketika kita develop film BW.
Negatif BW terdiri dari susunan butir Perak (Silver Halide)
yang berukuran mikro.
Susunan daripada Perak Halida inilah yg
muncul sebagai grain akibat dari residu developing film, jika foto diperbesar.
Semakin tinggi sensitivitas film (ISO semakin besar),
maka semakin besar pula ukuran butir2x perak halida (GRAIN),
karena itu grainnya semakin mudah untuk di-identifikasi pada sebuah gambar.
Proses film dengan chemical yang kurang bagus
juga menentukan tingkat “grainy” nya sebuah foto.
Sama hal nya dengan film BW expired dengan waktu cukup
lama dan penyimpanan-nya yang kurang teliti akan menambah kepekatan GRAIN.
Pushing ISO film juga berperan dalam menentukan kepekatan GRAIN dalam gambar.
Bedakan GRAIN dengan Noise
Walaupun NOISE bisa dikatakan sama dengan GRAIN,
sama2 cacat, namun NOISE dari setiap gambar berbeda2 hasilnya,
terngantung sensor kamera tersebut. Di lain sisi,
GRAIN bisa dikatakan sama dan konstan muncul-nya di setiap gambar
yang dipengaruhi ISO dan brand serta jenis filmnya.
Trims!
Semoga membantu!
04/07/2009 at 10:22
“Tentukan format ini sebelum kita memasang film, karena pada saat film sudah dipasang di dalam kamera, mask format gambar tidak dapat diganti”
semua holga berlaku seperti ini? atau hanya 120GN?
atau ada satu jenis holga yg bisa semua format?
04/07/2009 at 12:31
itu untuk semua HOLGA, jadi kita menentukan format baik itu 6×6, 6×4.5 atau
35mm (sprocket hole) sebelum film dipasang kedalam kamera…
dan mask nya tdk dpt diganti…
trims!
05/07/2009 at 13:03
Hai, Sandy.
Gue mo nanya agak melenceng dikit boleh yah..:)
Tadi pagi gue coba masang sendiri (masih newbie nih) fuji film iso 400 120mm, tapi kok setelah gue puter2 ga ada angkanya yah?? cuma ada garis2, tanda panah, trus titik2 padahal udah gue putar cukup banyak. Guenya yang salah pasang, atau emang begitu yah? Mohon bantuannya…huhuhuu…
thx b4
05/07/2009 at 15:47
Hi Nia!!
Hihii!! boleh2 silakan… ga masalah ^_^
Memang film 120 itu puter nya cukup banyak n agak lama…
kalau belum tahu pelan2 aja dulu…
sesudah tanda panah, titik, lalu angka…
dari angka ke angka selanjutnya pakai titik2 juga kalau ga salah, itu FUJI NPS ya??
jadi… bukan salah pasang, tetapi memang begitu..
yang harus diperhatikan adalah jendela counter filmnya sudah betul?
trims!
10/07/2009 at 19:22
permisi mas sandy..maw ikut nanya soal garain di negatif film.
sebenarnay ada perbedaan gak antara grain di film 120 sama di 35mm…??
misal perbesaran negatifnya pake scanner
kan film 120 lebih luas sehingga nilai perbesaranya lebih sedikit daripada 35mm yang lebih kecil (misal sama-sama dicetak 10R)..
pertanyaan ini muncul karena asumsi saya grain akan lebih kelihatan bila dicetak lebih besar..apa benr??
trus pada proses film BW apa saja yag perlu diperhatikan biar meminimalisir grain itu…
makasih sebelumnya..maaf banyak tanya…
10/07/2009 at 21:34
Sejujurnya dalam hal proses developing BW, saya masih tergolong kurang jam terbang dan pengalaman.
jadi saya coba membantu apa yang sejauh ini saya tahu.
Grain pada dasarnya baik itu dalam format 120 atau 35mm sama saja, karena GRAIN terkait pada kecepatan film (film speed) ISO Film.
semakin besar ISO Film (semakin peka thdp cahaya), semakin tinggi tingkat grain-nya
Apakah yang anda maksudkan itu GRAIN berasal dari:
1. Negatif BW yg telah di develop?
2. Hasil scan dari negatif BW?
3. Hasil cetak enlarger?
4. Hasil cetak digital printing on photo paper?
Jika kita berbicara:
1. Negatif BW yg telah di develop?
Grain terkait dengan waktu developing negatif tersebut.
Semakin lama waktu develop (PUSH), maka negatif akan semakin tinggi kontrasnya,
akan semakin terlihat jelas GRAIN dikarenakan ukuran yg membesar.
Pemilihan jenis DEVELOPER juga mempengaruhi struktur GRAIN.
Contoh: Developer Microdol-X cenderung memperhalus dan melembutkan grain dalam foto, sedangkan developer RODINAL memaksimalkan ketajaman sebuah gambar yg juga berakibat “tajam” nya grain pada sebuah gambar. Ketidak telitian dalam kontrol waktu developing, atau obat develop yg jelek/rusak mengakibatkan grain tampak “kurang bagus”.
2. Hasil scan dari negatif BW
Jika kita bicara hasil scanner dari negatif yg telah di develop.
Maka pertanyaan nya adalah,
seberapa tajam scanner nya?
brp resolusi dpi/lpi nya sewaktu scanning?
setting scanner tersebut? unsharp atau tidak, dll
karakter scanner tersebut?
belum lagi fenomena “grain aliasing”
3. Hasil cetak enlarger
jenis kertas apa yang kita gunakan?
seberapa besar kita akan mencetak?
betul apa yg anda ungkapkan, semakin besar print size, maka grain semakin visible (tapi print size biasanya disesuaikan dengan jarak pandang kita)
“For this reason, there is no single quantitative measure of noise.The visibility of grain depends on viewing magnification”
4. Hasil cetak digital printing on photo paper?
Setelah di scan otomatis output format yg biasa kita dpatkan adalah JPEG/TIFF
lalu, apakah kita melakukan post-process lagi?
levelling, adjusting brightness & contrast?
jika iya.. mungkin saja penampakan grain bisa sedikit berubah.
Lalu seberapa besar kompresi yang kita lakukan dalam output format tsb?
Tentu saja sedikit banyak hal diatas cukup berpengaruh dalam konteks GRAIN.
Link yg cukup membantu:
http://www.photoscientia.co.uk/Grain.htm#whatis
http://www.normankoren.com/Tutorials/MTF8.html
http://www.kodak.com/global/en/professional/support/techPubs/e58/e58.pdf
http://en.wikipedia.org/wiki/Film_grain
trims!
maaf tidak bisa membantu terlalu banyak…
11/07/2009 at 09:22
mas sandy..
mw tanya dong..
kalo mw dapetin film 120m iso 400 dimana sih?
dan merek apa?
soalnya selama ini pake iso 160 cahayanya suka under gt..
kurang tajam..
thx mas,,
11/07/2009 at 09:42
Hi Firman..
coba cari di FJB Kaskus, link disini:http://www.kaskus.us/forumdisplay.php?f=293
biasanya suka ada aja yg menjual film expired dengan berbagai macam tipe. Umumnya Fuji dengan varian Fuji Pro 400 atau Kodak dengan Portra 400.n Jika ingin lebih variattif coba cek di e-bay..
trims!
11/07/2009 at 09:45
atau film BW spt Fuji Neopan 400 dan Kodak T-MAX 400 masih suka ditemui di Pasar Baru (Jakarta), umumnya T-MAX 400 120mm dijual di harga 60rb/roll.
11/07/2009 at 09:47
trus kalo mw nge load film 35mm mesti di kamar gelap ya mas?
ato kayak nge load film 120 biasa aja?
11/07/2009 at 18:38
ga harus selalu di kamar gelap ketika load film 35mm
palingan dikorbankan saja 2-3frame dalam 1 roll
, tapi sewaktu unload (mengeluarkan film) harus di kamar gelap,
paling tidak jika punya “changing bag” film bisa dikeluarkan di dalam changing bag tsb.
trims!
12/07/2009 at 12:56
terimakasih jawabanya cukup menjelaskn mas sandy…
linknya juga cukup membantu kok.
12/07/2009 at 17:36
Sama2 bung!
Semoga membantu…
13/07/2009 at 19:19
wah,makasih banyak ya mas sandy..
kapan2 mesti les privat ni..
hhe..
trus kalo mw ngitung filmya gimana mas sandy?
kan gak ada pengukurnya tu kalo di diana?
thx before mas..
13/07/2009 at 19:25
hehehe… sama2 bro!!
kalo mau ngitung filmnya itu…
dengan cara itungan KLIK serta TURN
kalau KLIK, kita coba putar knob pemutar film nya “klik” per “klik”
sedangkan TURN menggunakan putaran 1 (putaran) 1/2 putaran 3/4 Putaran, dst…
saya sendiri lebih memilih tipe KLIK…
http://www.squarefrog.co.uk/holga-techniques-35mm.html
coba cek di site itu… ada panduan yang dapat di save…
semoga membantu!
trims!
13/07/2009 at 19:33
oke deh mas..
ke tkp dulu..
hehe..
14/07/2009 at 19:24
he saya intan, saya mau tanya kalo mau nyetak holga yang tipe film nya 120 tuh tergantung tempat nya atau bisa dimana aja? terus kalo kelebihan holga yang tipe film nya 120 sama yang 35 apa ya? makasih ya:)
15/07/2009 at 01:50
Hi Intan…
yup… tergantung tempatnya untuk mencetak langsung dari NEGATIF,
tapi kalau cetak dengan DIGITAL PHOTO PRINT sepertinya lebih mudah…
yang jelas HOLGA 120 itu menggunakan media film format 120mm, film format yang lebih besar dibandingkan dengan 35mm.
Kalau saya sendiri lebih suka dengan format medium 120mm, karena bisa menggunakan mode pengambilan 6×6 (square).
tidak seperti film biasa.
trims!
21/07/2009 at 20:45
mas sandy,mw nanya lagi dong..
kalo mw bikin ir, beli filternya dimana ya?
trus ukurannya gimana yg cocok buat diana?
jenis2 filternya apa aja ya mas?
makasih banyak nih..
22/07/2009 at 00:18
filter IR yang pas di DIANA saya kurang tau…
yg jelas filter IR biasanya banyak dijual di PASAR BARU JKT atau JPC KEMANG
kalau udah ketemu filternya, trus filmnya sudah ready?
mengingat harga filter yg ga terlalu murah dan film IR pun di Indonesia cukup langka…
nah.. si mas sendiri ga ngasih tau ama saya domisili dimana, jadi bingung dech… hihihihi!!
kalau mo beli bisa coba Hoya R72 atau Cokin P007, ukurannya untuk DIANA, saya kurang tau mas..
mungkin bisa langsung cari referensi di web2 yg menyediakan info berikut speks lengkap dari diana..
mungkin seharusnya jenis2 filter ga berbeda jauh antara brand yg satu dengan yg lain, hanya saja
umumnya filter ada yg ULIR (RING) dan ada yg menggunakan HOLDER lagi.. spt Cokin & Tian Ya.
dan untuk IR biasanya pake yg ULIR, kalau kasusnya di diana/holga, kayanya membutuhkan “step up” ring…
tergantung dari seberapa besar ukuran ring lensa diana..
semoga membantu..
nb: coba cari referensi lagi di web luar… jarang diana memakai IR, umumnya Holga, karena lebih mudah memodifikasi dudukan filternya..
trims!
22/07/2009 at 00:28
oohh gitu yah mas..
say tinggalnya di jakarta mas sandy..
saya udah liat foto2 mas di flickr,keren banget..
hehe..
kemaren udah beli film ir,ternyata baru tau itu mesti pake filter..
hehe..
JPC Kemang tu yg deket aksara ya mas?
22/07/2009 at 00:33
mantab!! kirain domisili di luar JKT… ^_^
trims boss… masih harus banyak belajar ini juga…
oww.. beli film IR apa nih? kodak HIE? apa ilford?
iya seharunya pake filter… paling minim SOLID RED, cuman tetep paling bagus pake filter khusus IR…
iya boss..
coba di cek aja langsung di site ini
http://www.jpckemang.com/category.php?cid=2987646203ee60b7f746f5&sid=158189487842832a078d387
udah langsung ke “filter section” tinggal pilih aja mau yg brand apa dengan ukuran ringnya sekalian… ^_^
oce?
27/07/2009 at 22:50
wah. ternyata susah-susah gampang yah megang lomo.
baru aja tertarik sama holga tapi langsung hopeless pas tau ada “rules”-nya juga. hehe
ak pgn banget holga GCFN..
mas sandy, ak aga bingung nih. klo film yg d pke tu semacam film di tustel gitu kan yah? beda atau sama? kira-kira bisa dibeli dimana selain di kaskus klo di sekitar DIY? klo di jakarta di heyfolks (mayestik) ada kan yah?
klo di tustel kan kita kenalnya film dg isi 24,48 gitu mas, klo di film yg buat lomo ini bisa jepret berapa kali?
terus yg bisa scan / cuci-cetak tuh di mana aja?
aduh. maaf ya mas, masih meraba-raba nihh. hehe
thanks a bunch
28/07/2009 at 20:34
yup… pada dasarnya LOMOGRAPHY bukanlah suatu tandingan PHOTOGRAPHY yang terbebas dari “RULES”.
LOMOGRAPHY adalah “the marketing ways” untuk menjual produk kamera dari pabrikan lomo.
Tentu saja yang namanya kamera berikut fungsi2 nya digunakan dengan bbrp RULES…
Inilah yang banyak di salah-kaprahkan oleh para calon pembeli dan peminat lomo,
walaupun ada jargon “DON’T THINK JUST SHOOT” tetapi… seberapa besar persentase yang mengikuti dengan patuh kargon tersebut menghasilkan foto bagus dan berhasil?
lebih banyak-nya tidak berhasil, seperti banyak teman2 lainnya yg mengalami kasus serupa..
HOPELESS?? tentu saja harus dihindari…
Holga 120GCFN menggunakan medium film 120 (medium format) cukup berbeda dibandingkan dengan film yg umum kita temui sperti SUPERIA, dll itu (film 35mm)
DIY, saya kurang tahu persisnya dimana, coba cari di toko2 yg menjual kamera (bukan lab foto seperti fuji, dll), biasanya masih bisa ditemui “film 120″.
Jika film seperti superia menggunakan “cartridge”, maka film 120 menggunakan “spool”. (bisa dilihat dari link di post ini).
heyfolks salah satu penjual, tetapi harganya cukup mahal jika dibandingkan dengan pasar (malah sangat mahal), kalau di jakarta coba cari di PASAR BARU, biasanya untuk film 120 saya membeli di CAPA STORE baik itu untuk colour, slide, dan BW.
Seperti yang sudah saya ungkapkan dalam POST “Holga Push The Limit”, film 120 bisa digunakan untuk 12 Frame (12x) jika menggunakan masking 6×6, dan 16 frame jika menggunakan masking 6×4.5.
yang bisa cuci? masih cukup banyak apalagi untuk NEGATIF (FILM) Colour, untuk slide sudah jarang tapi bisa dicoba cross process, untuk BW juga masih dapat ditemui..
posisi nya dimana nech?
trims!
28/07/2009 at 12:42
Hy,, mo nanya,, kmaren kan br bli holga 135BC,, trus pas d cetak byk yg blank gt,, knapa yahh??
Trus masa foto d cuaca yg cerah tp hsilx gelap bgt…
Foto malam ku blum ada yg bhasil nehh,, pdhl udh pke external flash,, jd bingungg,, d bantuin yahh,, makasih sblumnyaaa….
28/07/2009 at 20:24
hi!
dilihat dari masalahnya , bisa saja film (negatif)-nya kebakar atau kekurangan cahaya karena tidak menggunakan setting aperture (sunny / cloudy) yg tepat…
mungkin bisa menunjukkan hasilnya gmn? kalau ada taruh link nya aja disini. oce?
untuk kasus foto malam dan sudah menggunakan external flash…
itu memotret apa? karena flash mempunyai jarak ideal bagi sorotan lampunya…
jika digunakan jarak dekat sepertinya ga ada masalah…
tidak berhasil-nya seperti apa? bisa lihat fotonya? trims!
28/07/2009 at 20:03
gw tina…
meski manggil apa ni, bang, om ata akang sandy =)
gw baru aja order Holga, g tw holga apa…
dengan harga gope…
kmahalan ga ya?
gw baru ni dalam dunia perlomoan…..
trus baca artikel lu ada rasa penasaran ma takut buat make holga…
takut gw ga bisa makenye,,,
trus gmna dong bang????
28/07/2009 at 20:21
panggil sandy aja non….
mmm.. dengan 500rb mendapatkan holga..
asih terbilang standar… tergantung tipe-nya sech…
penasaran… harus itu, justru hal itu yg membuat kita terpacu membuat foto bagus…
dan semuanya kembali pada motivasi masing2 orang dalam menekuni fotografi.
takut ga bisa make-nya?
holga adalah kamera yg simple dalam artian fungsi, ga seribet SLR..
kita bisa menggunakan holga karena terbiasa,
gagal adalah hal yang sangat sangat wajar dalam mempelajari fotografi..
kenapa harus takut?
justru itu kita sebaiknya mempelajari dasar2 bagaimana menggunakan kamera,
sebelum menggunakan kamera (holga).. sebelum jeprat sana jepret sini,
kenali dulu kamera dan pengetahuan dasar fotografi…
dengan mempelajari step itu, smoga saja hasil nya tidak asal2an…
kalau masih gaga? coba lagi, pelajari kegagalan itu dari mana datangnya…
masih juga gagal? masih juga pelajari lagi…
tapi semua kembali kepada motivasi, kalo cepet putus asa, buat apa beli kamera?
trims!
28/07/2009 at 20:26
hahahaaaaa….
ya juga c,,,,
ribetnya adalah gw sedikit moody =(
mmmm
ntar kalo holga na udah dateng,
jgn bosen ya kalo sering2 gw tanya…
thanx sandy….
28/07/2009 at 20:35
Sep2… sharing aja hasil2nya… oce??
ditunggu ^_^
29/07/2009 at 16:25
mas sandy thanks ya.
by the way, klo mo beli holga yang harganya “ngebayar” bgt dimana yah? klo di pasar baru tu, jual kameranya juga kan yah? ga cuma roll film aja, mas?
domisili jakarta, tapi bberapa taun ini bolak=balik jogja. maklum kuliah d sono.
29/07/2009 at 16:51
mmm… sepertinya harus beli lewat e-bay… kalo ga salah holga 120Gn sekitar 300rb include ongkir ke indonesia.
ga non… di pasar baru cuman jual film nya doank..
jarang yg jual holga dengan harga yg cukup bersaing…
trims!
29/07/2009 at 17:07
yyyaa.. sayang banget.
o pke e-buy yah?
kl d jakarta jarang jadinya mahal.. pdhl kualitas tipe holga-nya msh d bawah yg glass.
aduh. bnr2 jadi kepikiran ni.. hehe
25/08/2009 at 19:41
waduh,udah makin rame lapaknya mas sandy..
hehe..
mas,aku punya foto2 ni, pengen minta komen..
ngirimnya kemana ya?
25/08/2009 at 19:45
kirim foto?
ke email saya aja…
sandywijaya007@hotmail.com
ok2??
foto apa tuh mas..?
ditunggu…
thanks!
25/08/2009 at 20:01
siap…
segera meluncur bos..
26/08/2009 at 13:15
gimana komentarnya mas?
*btw,gw enaknya manggil apaan nih?
26/08/2009 at 23:09
wah… justru itu… emailnya ga ada toh mas…
sandywijaya007@hotmail.com
bener kan??
coba kirim lagi aja boss…
thanks!
manggil sandy aja… ^_^
27/08/2009 at 17:00
udah gw krim lg san..
coba di cek deh..
hehe..
27/08/2009 at 22:07
sep2 boss… udah dibales lagi tuh..
hehehe!!
29/08/2009 at 12:30
wah,makasi banyak ni..
lumayan nambah ilmunya,jadi malu gw..
heehhe…
san,ada referensi situs2 tentang teknik dasar fotografi gt gak?
gw masi buta banget nih..
30/08/2009 at 12:50
sama2 bos….
heheh!!
kalo situs refrensi boleh coba wikipedia dulu deh… type photography…
trus coba situs FN (www.fotografer.net)
lanjut ke http://www.luminous-landscape.com
boleh juga dicoba http://www.kenrockwell.com
masih banyak yang laennya juga sech boss…
bisa sekalian googling aja langsung… ^_^
oce??
selamat belajar bos…
29/08/2009 at 22:54
san,mendingan mana antara 120gn ama 120gfn?
itu flashnya kalo gak dipake bisa dicabutkan?
30/08/2009 at 12:53
kalo gw sech mendingan pilih 120GN bos….
flashnya bisa ganti2… soalnya ada HOT-SHOE buat flash external
bisa disesuaikan ama kebutuhan kita, jadi lebih fleksibel tentunya.
flashnya bisa diganti ama yg lebih kuat…
kalo 120GFN…
itu flashnya built-in langsung ama body nya…
jadi ga bisa dilepas..
dan ga punya slot HOT-SHOE
buat flash external…
25/09/2009 at 12:16
nice info gan..
ane newbie soalnya..hehe..
ane lagi bingung memilih antara diana f+ atw holga GCFN..
qra2 agan2 berminat bantu ga ya?
ada yg pny hsl jepret holga ini ga ya?
trims..
30/09/2009 at 22:46
Hi!
sorry baru dibalas…
mmm… mendingan coba kunjungi holgablog.com
ada komparasi head-to-head antara holga dengan diana,
hasil GCFN dengan GN ga sangat mirip..
karena sama2 menggunakan lensa gelas…
kalo lebih suka tonal yg dreamy..
coba ambil diana…
^_^
pada dasar nya kedua kamera tsb..
sama2 bagus..
tergantung selera kita lebih menuju kemana…
gitu lho…
semoga membantu
thanks!
01/10/2009 at 23:19
mau tanya donkk.
aku kemarin abis beli isi film holga tp cuma ada yga negatif 120mm.
kalo mau beli yg slide[positif] atau BW beli di mana yah di daerah jakarta susah bgt cari yang positif
01/10/2009 at 23:53
hi!
cukup banyak ko…
di pasar baru..
coba datangi CAPA STORE..
disana masih banyak jual slide…
terakhir beli 2 bulan kemarin, masih ada fuji provia, kodak ektachrome, fuji velvia.
selamat hunting film!
05/10/2009 at 01:30
baru beli hoga 120cfn
mau tanya kang…
kl pake film 120,
gimana tentuin frame selanjutnya, ada tandakah di film? (kl slr kan di kokang) takutnya saat menggulung tidak pas…
dengan flash internal..
berapa jarak paling dekat untuk mengcapture 1 orng, 3 orng, bnyk orng dan pemandangan??
thanks..
06/10/2009 at 08:52
hi eko!!
untuk menentukan frame
selanjutnya tinggal di puter aja tuh..
pelan2… ada panduan panah2 atau titik2…
di counter window nya muncul angka2 dari lembar belakang film yg menunjukkan framenya…
untuk flash internalnya harus dilihat GN nya brp..
saya rasa untuk pemandangan dengan jarak yg cukup jauh, flash tidak ada guna nya…
thanks!
smoga membantu!
06/10/2009 at 22:33
kang mau nanya, kalo tempat nyci negatif+scan buat holga 120 di bandung dimana ya yg recomended?
trus kalo mau nyari film 120mm di bandung dimana ya?
nuhun kang
10/10/2009 at 14:06
mungkin bro bisa ke Seni Abadi di jln. wastukencana…
hasilnya cukup bagus…
hanya bisa colour…
kalo cuci BW mungkin coba di nasir foto jln. tamansari…
mendapatkan film 120mm di bandung bisa dicoba kunjungi KAMAL di jalan braga..
semoga membantu!
thanks!
06/10/2009 at 23:30
terimakasih…
hmm..
tanya lagi nih…
apakah ada tutorial yang bagus untuk pemakaian film 35mm pada holga beserta penentuan framenya?
pada beberapa tutorial yang saya baca, untuk menggulung film yang telah habis harus di ruangan yang “completly darkness”..
nah, tentu saya kesulitan sebagai anak kos…
ga punya lab sendiri. Apakah bisa dilakukan sendiri dengan aman? bagaimana caranya?
mohon pencerahan om
10/10/2009 at 14:08
hi bos!!
mungkin bisa coba kunjungi http://www.squarefrog.co.uk
disana banyak sekali info dan tutorial ttg Holga…
mungkin bos bisa membeli “changing bag” untuk mengatasi film tereskpose chaya
sewaktu mengeluarkan dan me-roll back ke dalam canister…
changing bag kalo di jkt bisa dicari di daerah pasar baru.. coba datangi aneka/capa store..
thanks!
semoga membantu!
14/10/2009 at 00:18
wah saya di YK om…
bnggu mau carinya dimmn…
thanks infonya om..
sungguh berguna..
14/10/2009 at 20:56
hehehe..
coba kunjungi klastic aja.. di kaskus…
sapa tau dpt info ttgg yg jual film di YK
setau saya di FJB kaskus juga banyak yg jual film 120mm..
thanks juga udah berkunjung ke sini… ^_^
14/10/2009 at 09:38
wah, pencerahan bgt nih buat gw yang baru mau memasuki dunia lomo hehe, hmm rencanannya mau beli holga cfn, tp setelah tau flash built in nya krg berguna, apa lebih bagus holga cn aja ya? kalo holga cn itu berarti flash nya beli lg kah? satu lagi nih, ada saran tmpt beli holga yang hrganya murah meriah ga? sy domisili dijkt..thx b4 !
14/10/2009 at 21:01
hi!!
mmm..
semua kembali pada orang yg mo beli sech, ada yg lebih suka CFN, GN, GCFN, dll
kalo saya lebih ke arah fungsionalitas dri kamera tsb,
kalo kaya CFN ato GCFN walaupun memiliki keunggulan flash built-in, kalo ga terlalu fungsional lantas buat apa?
mendingan ambil GN lalu cari flash external yg murmer, kaya brand ACHIEVER, dll.
kalo yg jual HOLGA GN emang jarang, soalnya GN setau saya, ga diproduksi oleh pabrikan LSI (Lomography)
coba bisa cari di e-bay ato kaskus… http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2481439
salah satu link nya…
masih banyak juga yg jual…
pinter2 cari harga yg sedikit miring aja… ^_^
semoga membantu!
thanks!
14/10/2009 at 09:40
sori, mksd gw holga 120gn ..
14/10/2009 at 21:49
waah thanks banget nih masukannya.., link nya juga berguna banget..thanks lagi ah
!
19/10/2009 at 10:58
sama2!
18/10/2009 at 19:08
wahhh, makasih bgt infonya… aku punya holga kado ultah dr tmn2, tp gak tw cw pakenya. ini bermanfaat bgt..
tapii…… aku masukin roll film yg bener aja gak tw gmn crnya, jd gak bs lanjut ke step2 yg kmu ajarin. gmn donkk??
19/10/2009 at 10:58
hi zebby!
btw… pake film format apa?
120mm (yang besar) atau pake format 35mm (yg ukuran kecil) soalnya itu berbeda satu dengan yg lainnya..
dalam hal cara pemasangan…
thanks!
29/10/2009 at 13:22
bos klo mau tau holga kita ready to shoot gmana sih??
pas udah disetel ke angka 1, terus kita mesti gmana?
pengguna baru holga nih…
05/11/2009 at 17:00
hi bosss… ^_^
sorry baru di bales nech… ^_^
kalo kta mau tau HOLGA sudah ready ato belon…
ketika kita menggulung film sampai angka 1 >>
langsung jepret aja, pastikan lens cap dibuka, aperture sudah di setting, dan pastikan mode pemotretan
di N ato B…
lalu… setelah itu baru gulung lagi sampai angka 2…
ato jika mau MX ya jangan digulung dulu film nya… ^_^
smoga membantu!
thanks!
06/11/2009 at 03:52
mau tanya lagi mode pemotretan N atao B itu fungsinya apa sich? trus bedanya apa?
06/11/2009 at 07:59
kalo mode N (Normal) menggunakan shutter speed 1/100″
kalo mode B (Bulb) itu mode pemotretan dengan shutter speed yang diatur oleh kita durasi nya…
biasanya untuk mendapatkan efek light trail, dll digunakan mode bulb dengan bantuan tripod.
smoga membantu…
thanks!
10/11/2009 at 10:47
hai bos sandy, gua pengguna diana nih, dan pake 35 back juga.
gua udah ngulik setaunan ini dan lagi sebel bgt ama parallax error karna berasa jadi ga bisa komposisi, belom lagi efek zoom karna pake 35 back.. ada website serupa yang bisa push diana to the limit ga ya kayak gini. hehehehe.. artikelnya keren, sangat membantu
29/11/2009 at 16:18
untuk diana saya kurang eksplore… ^_^
karena saya lebih fokus pada HOLGA saja..
mungkin bisa join klastic.. n disana banyak master2 diana…
thanks!
12/11/2009 at 23:59
Halo mas sandi.
Mau nanya nanya tntg holga nih.
Saya bru beli dan pnya masalah dalam masang film.
Mau nanya kalau klo pake film 120,
gimana tentuin frame selanjutnya, ada cara lain gag selain melihat di jendela merah ?
Soalnya angka angka nya gag keliatan di jendela merah holga saya.
Thanks
29/11/2009 at 16:17
Hi Reza!
thanks udah mampir di blog koelitinta..
sorry banget baru bisa bales msg nya..
semoga masih bisa membantu…
pake film apa tuh?
ga ada cara lain selain melihat di jendela merah tsb..
kalo pake film 35 masih ada cara lainnya…
karena menggunakan hitungan klik..
thanks!
21/11/2009 at 16:38
om/mas/kak sandy, aku baru mw coba beli holga nih, klo yg film 120 susah gak sih nyarinya? soalnya klo lewat kaskus gt agak ribet..
klo susah aku mungkin mw beli yg 35 aja..
trus klo mw bwt jd ada efek vintage gt trgantung filmnya atau settingan kameranya sih?
baru bgt nih di dunia perfotografian kaya gini, ga ngerti sama skali, hehe..
26/11/2009 at 23:29
maksudnya vignette bukan vintage -__-
baru sadar klo salah ketik..
29/11/2009 at 16:11
hi nana!
sorry banget baru bales msg nya…
film 120 memang lebih susah untuk dicari jika dibandingka film format 35mm..
btw.. posisi nya dimana?
kalo di bdg.. masih bisa dicari di KAMAL, SENI ABADI, dll
kalo di JKT bisa dicari di PASAR BARU >> CAPA STORE, ANEKA, dll
efek vignetting itu karena cacat dari konstruksi lensa..
kalo di holga bisa ada vignette kalo pake film 120mm di format 6×6 nya…
smoga membantu..
thanks!
07/12/2009 at 22:16
posisi aku di tangerang, makanya takut gak ada yg jual klo di sini, hehe..
tp kok waktu itu aku pernah liat hasil foto dr 135 bc jg ada vignettenya ya? emang klo pake film 35 ada vignettenya jg gak sih?
29/12/2009 at 21:41
Hi nana!
Sorry baru dibales msg nya..
Kalo Holga 135BC konstruksi lensanya sudah dibuat sedemikian rupa agar mengeluarkan efek vignette di kondisi cahaya tertentu…
jadi yg harus diperhatikan adalah kondisi cahaya ketika memotret. Jenis film dengan setting kamera tidak ada pengaruh dengan efek vignette..
thanks!
22/12/2009 at 15:02
gw baru dibelliin lomo ma cewe gw..yg holga….
gw g ngerti pakenya..
mo tnya nih…
klo filmnya udah abis,apa blitzna msh bsa idup g?,,
kmren g bsa..
cma mo tnya…….
25/12/2009 at 15:00
hi!!
Seharusnya bisa bos…
ga ada mslh dengan ada/tidaknya film dlm kamera…
flash masih dapat berfungsoi..
thanks!
25/12/2009 at 23:07
hi..hello…I’m bout to buy a holga..masih mencoba-coba mencari beberapa referensi untuk membeli secara online dan yang bener2 nyampe barangnya mas.
mmm…saya masih bingung masalah film nya sih, karena posisi saya kan di medan, tuh film’nya yang dipake film buat kamera manual biasa kan mas? ato emang film khusus buat lomo’? kalo khusus saya yang gawat! mau cari kemanaaa?? hahaha…reply me by mail ya mas..mungkin bisa kasih saya referensi juga buat buy online yang bisa dipercaya..
ty
29/12/2009 at 20:36
Hi!
Mungkin bro bisa coba langsung cek ke FORUM JUAL BELI >> CAMERA >> Di Kaskus..
banyak temen2 disana yg jual produk HOLGA non LOMOGRAPHY.
Film nya secara general sama dengan film pada umumnya.
Hanya saja HOLGA tipe 120 format film nya yg berbeda yaitu 120mm (medium format)
Untuk di Medan sendiri saya kurang tau keberadaan film 120mm nya gmn,
tapi saya rasa untuk film tidak terlalu jadi masalah juga.
Saya copas juga komen ini ke email ya…
thanks!
29/12/2009 at 17:20
hiii ^^ !!
mau nanya2 tentang holga nih…
nyambung dr komen ys sblmnya (nana), pertanyaan aku persisi kea gitu,
aku jg di tangerang, trus takutnya kalo mw nyari film yg 120mm susa, jadi aku mutusin buat beli holga 135bc….
bisa tolong dijelaskan ga kekurangan sm keunggulan antara holga gfcn sm 135bc?
oh iya, trus perbedaan yg paling signifikan antara film 120mm sama yg 35 apa ya?
trus pertanyaanku sama kek nana di atas, kalo yg 35mm ada vignettenya ga ya?
dan aku masih newbie, baru mau make lomo, kira2 kl aku mutusin buat beli holga 135bc sesuai ga? atau kalo bisa, minta rekomendasi tentang lomo yg cocok buat newbie kek aku …
trims yaaa…maap kalo panjang..hehe ^^
29/12/2009 at 21:39
Hi!
Thank udah mampir di weblog Koeli Tinta..
Begini..
Pada dasarnya memang film 120mm populasi-nya lebih jarang dibandingkan dengan film 35mm,
Namun tidak sebgitu parahnya sampe ga ada…
Jakarta apalagi disana film 120mm di Pasar Baru masih banyak yg jualan..
Kalo di tangerang sendiri, saya kurang tau dimana persis nya jualan film.
Kalo sis suka browsing KASKUS, disana banyak yg jualan juga..
Kalo berminat bisa gabung ama KLASTIC >> komunitas kamera plastic n toy cam..
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1252064
Perbedaan paling signifikan itu ukuran film nya spt yg udah saya jelaskan di postingan ini..
kalo film 35mm ukurannya 36x24mm.. (3:2) kalo film 120mm itu bisa format 6×6 alias SQUARE Format dan Format 6×4.5 (3:2) untuk persegi panjangnya
Kalo saya pribadi lebih menyukai format 6×6 (Square) dibandingkan format 35mm..
Sebetulnya dua2 nya sama aja tuh, fungsi nya ga ada yg berbeda antara GCFN dengan 135BC
hanya saja 135BC lensa nya dikonstruksi sedemikian rupa agar meghasilkan efek vignette yg berlebih..
Kalo film 35mm dipasang di Holga 120… efek vignette nya nyaris tidak ada…
kalo film 35mm dipasang di Holga 1335BC >> kemungkinan besar akan ada vignette…
toy camera ato low fi camera ga ada hubungannya sama status newbi ato ga..
soalnya setau saya…
fungsi dasarnya sama aja..
kita harus belajar dasar fotografi.
Hanya saja pada kasus toy camera… fungsi penggunaan lebih mudah..
jadi Holga 135BC sesuai atau tidak… bagi saya sesuai2 saja…
balik lagi ke motivasi awal dari sis sendiri…
lalu… tidak lupa mslh selera…
karena holga 120 dengan holga 135 atau dengan diana misalnya…
3 tiga kamera itu memiliki karakteristik yg berbeda…
so… tergantung selera, suka/tidak suka…
smoga membantu…
thanks!
Kalo saya pribadi lebih menyukai format ini
30/12/2009 at 18:25
hmm……gitu… ^^
wah trims ya infonya sangat membantu lohh..
keknya udah mantep nih beli gcfn 120mm…
anyway, saya liat2 di atas ternyata banyak istilah2 yang saya belom ngerti hehe
mohon bantuannya yaa kalo saya ga ngerti, nanya2 di sini boleh kann??
trims!
10/01/2010 at 15:11
Silakan non…
kalo ada yg krg dimengerti..
ajukan pertanyaan disini boleh ko… ^_^
30/12/2009 at 14:49
halo sandy, saya suka blognya
sangat membantu nih dalam lomo-berlomo
mo nanya tentang berbagai macam lensa holga (saat ini saya pakai holga 135bc): wide lens, tele lens, set of close-up lenses, dan set of macro lenses; apa sandy jg menggunakan lens kit holga tersebut? kalo iya bisa share beli dimana dan perkiraan harganya nggak?
trs kalo scan hasil foto dmn?karena kalo tempat scan saya yg biasanya (di lab2 foto fuji dst) suka potong fotonya nggak kira2 (karena pakai diana mini, jadi bnyk gambar yg overlap, shg mereka bingung mau potong dmn), akhirnya bnyk foto yg nggak bagus hasilnya. mungkin bisa dishare yg daerah jakpus
terima kasih banyak sandy, semoga blognya terus update
10/01/2010 at 15:54
hai bro sandy. nice blog anyway
saya mau tanya nih bro, saya pengguna holga juga (gcfn).
perbedaan fungsi gcfn sama gn apa ya ?
karena tadinya sama mau beli gn saja, tapi saya kira gn dan gcfn perbedaannya hanya di built-in flash saja. apakah benar begitu apa ada perbedaan fungsi ya bro sandy ? lalu saya mau tanya juga, menyimpan film di freezer membuat film saya “basah”, jadi apakah harus dijemur ? kalau dijemur saya takut malah membuat film terbakar. kemudian, changing bag itu apa ya bro ? saya bingung, setiap roll film yg saya gunakan pasti ada yg terbakar, entah karena apa, padahal saya load dan unload film di tempat yg cukup gelap.
10/01/2010 at 18:04
Hi Bro Ivan…
thanks kunjungan nya ke blog koelitinta…
Pada dasarnya semua Holga tipe 120 memiliki kesamaan dlm setiap fungsinya, termasuk itu shutter speed, aperture, dll
kesemuanya memiliki fungsi yg sama.
Hanya saja pada kasus ini Holga 120GN tidak memiliki BUILT-IN FLASH layaknya Holga 120GCFN, namun itu semua bisa diatasi
dengan dipasangnya FLASH EXTERNAL pada HOT-SHOE yang tersedia di Holga 120GN.
Sayangnya kelengkapan standar HOLGA 120GCFN tidak disertai dengan HOT-SHOE, jadi flash mau tidak mau hanya mengandalkan built-in nya saja.
Biasanya saya ketika menyimpan roll film di kulkas, saya masukkan ke dalam tupperware, ketika roll film tersebut hendak dipakai,
sebaiknya didiamkan dulu sejenak.. untuk menghilangkan embun yang muncul ketika dikeluarkan.
Changing bag itu spt ini http://www.bhphotovideo.com/c/buy/Changing-Bags/ci/786/N/4294542822
Mungkin karena proses penggulungan nya yg tidak benar sehingga roll film setelah habis menjadi sedikit menggelembung dibagian tengahnya..
jadi cahaya masih bisa masuk mengenai negatif. Umumnya Holga memiliki “penyakit” spt itu.. karena knop penggulungan film nya tidak rata..
jadi ketika LOADING film harus dipastikan jika film sudah rata gulungannya…
smoga membantu…
10/01/2010 at 22:01
oke deh bro Sandy, terimakasih atas pencerahannya.
saya berencana untuk membeli holga GN nih, hehehe.
flash external merk apa ya bro yg bagus ? dan di daerah Jakarta, dimana tempat yg menjual flash external ? kira-kira harganya berapa ya bro ?
11/01/2010 at 10:27
heheh..
sip2… ditunggu share foto dari GN nya ya… ^_^
flash external mungkin bro bisa coba beli yg dapat difungsikan “tilt & shift” agar dapat di bounce cahaya nya…
untuk sekelas holga, flash external bisa coba beli flash merk ACHIEVER, AMITY, dll…
harga berkisar 100-300rb… (second) kalo di jakarta bisa coba cari di PASAR BARU, JEMBATAN HITAM..
11/01/2010 at 16:34
wah, kalo yang baru mahal ya bro flashnya ? soalnya takut kualitasnya udah ga oke kalo beli second..
oke deh bro nanti kalau sudah ada hasil fotonya saya share dimari
03/02/2010 at 15:41
halo bang sandy…
to the point aja nih.. baru berkecimpungan dalam LOMOgraphy.
saya mengambil holga GCFN erus udah saya modif jadi 35mm.. nah cara ngitung dari frame ke frame gimana yah?
suka tubruk2an
terus gunanya kita selotip intipan belakang apaan?
mohon bantuannya
04/02/2010 at 23:17
Salam Kenal!!
trims udah mampir disini…
untuk menghitung frame ke frame dpr dilihat disini:
http://www.squarefrog.co.uk/holga-techniques-35mm.html
dapat menggunakan tipikal “click” atau “turns”/putaran
kita selotip bagian belakang agar cahaya tidak masuk mengenai film..
karena jika mengenai film maka film akan terbakar (light leak)
semoga membantu… ^_^
06/02/2010 at 20:27
Hayy mas shandy .. Aku lagi bingung nih mau beli lomo 120GCFN atau beli jelly lens yang bisa dipasang di kamera handphone ,, aku sempet kepikiran pengen beli yang jelly lens, soalnya lenih mudah upload ke komputer, ga perlu di scan segala..nahh,, kira kira mendingan yang mana yah ?maklum, masih ‘buta’ tentang lomo,hehe
Makasih yahh
07/02/2010 at 18:42
Hi Shella…
thanks udah mampir di Koelitinta..
mmm…
Sepertinya sangat irelevan jika membandingkan HOLGA dengan Jelly Lens..
Jelly lens bukan kamera.. tetapi hanya sebuah alat membantu untuk menghasilkan gambar yg unik.. THATS ALL!
sedangkan..
Holga adalah kamera…
lebih banyak proses eksperimen yg dihasilkan oleh kreativitas kita untuk menghasilkan sebuah gambar…
jadi betul… tidak semudah jelly lens dari segi proses nya..
namun..
tinjau kembali motivasi shella sendiri..
maunya itu apa? cuman pingin gambar unik tanpa pusing mslh fotografi dan proses, dll nya?? pilih jelly lens..
kalo masih mau ribet dengan urusan fotografi…
cobalah ambil holga ato kamera lainnya…
smoga membantu..
thanks!
14/02/2010 at 16:01
mas…
klo flash yg buat holga 135 bc bisa dipake buat holga gn g ya?
hbis itu klo di bandung dpt flashnya kira” dmana ya mas?
mohon infonya yah…
newbie nih…
oia,emang klo holga gcfn,flashnya g terlalu kepake ya?
bingung nih antara gn atw gcfn…
makasih mas…
15/02/2010 at 00:07
Hi duan….
Flash untuk kamera HOLGA bisa meggunakan flash dengan berbagai macam merk..
kecuali flash untuk KONICA MINOLTA… itu jenis hot-shoe nya berbeda…
semuanya balik lagi ama kebutuhan..
mau yg tilt/shift ato ga…
ga usah yang terlalu hi-tech..
merk ACHIEVER, Yashica juga ga jadi soal…
Jadi flash Holga 135 bias dipasangkan di Holga 120GN
untuk di bandung..
bias dicari di jalan ABC..
banyak kamera loak..
cari second lebih baik drpd beli baru… ga woth it..
mmm…
kalo bagi kebutuhan saya.. HOLGA 120GCFN ga terlalu kepake..
malah bikin ribet..
flash nya dengan GN (guide number) kecil…
ga efisien.. tapi harga bisa beda jauh dengan GN..
memang hanya sesekali saja flash dibutuhkan..
tetapi kalo flash bawaan tidak maksimal..
lantas buat apa juga ada..?
bingung antara GN/GCFN?
semua kembali sama budget dan kebutuhan..
holga 120GN + flash (standar kaya achiever) ga bakalan semahal holga 120GCFN..
smoga membantu… ^_^
15/02/2010 at 08:26
makasih banyak mas infonya…
sangat membantu menentukan pilihan…
nti saya share” lgy ama mas yah,jgn bosan”…
sukses terus
15/02/2010 at 10:18
Sama2 bro…
silakan kalo ada pertanyaan bisa diajukan disini…
sukses juga bro..
thanks!
26/02/2010 at 12:54
mas sandy mau nanya nih..
kalo jenis2 flash buat holga gn ada apa aja yah?
dari yang biasa ampe yang filter color atau apapun lah,bingung nih kayanya ada banyak bgt nama2nya,,hahaha
tolong dijelasin,hehe thnx =D
28/02/2010 at 17:28
Flash untuk kamera HOLGA bisa meggunakan flash dengan berbagai macam merk..
kecuali flash untuk KONICA MINOLTA… itu jenis hot-shoe nya berbeda…
semuanya balik lagi ama kebutuhan..
mau yg tilt/shift ato ga…
ga usah yang terlalu hi-tech..
merk ACHIEVER, Yashica juga ga jadi soal…
kalau untuk filter colour bisa aja diakali sendiri dengan menggunakan mika yang ditempel di dpn flash nya…
smoga membantu…
28/02/2010 at 14:54
salam kenal mas…
saya holga nubie nih…
roll pertama saya load pake fuji 160s, kok hasilnya banyak yang gelap ya mas??
padahal apperture udah di set ke cloudy krn emang waktu motret itu jam stengah 6 sore..
trus nyobain multiple exposure kok gambar pertamanya ga tebel ya?? malah cenderung ilang ketiban ama gambar yg berikutnya??
minta tipsnya ya mas..
thanx..
oiya ini link flickrnya..http://www.flickr.com/photos/29100464@N07/
28/02/2010 at 17:37
Hi Febby…
jika melihat hasil2 foto di flickr n klastic…
saya simpulkan memang foto2 tsb UNDER EXPOSED..
kenapa??
ISO 160 dengan aperture f/8 (cloudy) tidak sesuai dengan kondisi cahaya pada waktu febby memotret..
dengan kata lain konidisi terlalu gelap dan ISO kurang tinggi…
mungkin bisa coba ISO 400 atau lebih sebagai solusi termudah..
jika objek nya dekat bisa pakai flash..
atau jika mau ribet… coba pelajari (Exposure Value) EV table..
sebuah panduan penggunaan ISO, Speed dan Diafragma dalam kondisi cahaya tertentu…
bisa saja menggunakan mode BULB asalkan kita tahu patokan brp lama speed yg diperlukan untuk membuat foto yg tampil NORMAL.
nah disitu diperlukan panduan dari EV table..
untuk MX..
saya rasa perbandingan kontras antara frame yang pertama dengan yg kedua harus cukup berbeda..
sehingga satu dengan yang lain bisa “pas”…
semoga membantu…
02/03/2010 at 11:40
gan,mendingan holga 120,135,diana mini,apa diana f+?
ane bingung mau milih mana..
mohon bantuannya..
thx
02/03/2010 at 22:14
Hi indra…
Sebelumnya kita harus membedakan
kamera dengan medium 120mm dan 35mm…
nah disitu baru kita memilih tipe kamera yang paling cocok dengan selera & minat kita…
120mm
Holga 120mm & Diana F+
35mm
Holga 135 & Diana Mini
Masing2 kamera memiliki keunggulan dibandingkan satu dengan yang lainnya,
sepertinya kurang serasi jika kita membandingkan 120mm dengan 35mm..
alangkah lebih baik jika membandingkan kamera satu dengan yang lain di dalam 1 medium..
Intinya…
semua kembali pada selera & budget kita…
Holga 120 dengan Diana F+ ???
coba bro indra selidiki lagi perbandingan hasil yang diinginkan…
terkadang jika ingit betul2 “dreamy” pilih kamera DIANA…
kamera holga secara kasar dapat dikatakan lebih murah dibandingkan
dengan DIANA yang ditambah dengan asesoris yang begitu banyak pilihannya…
sudahkah bro indra mengetahui spek dari masing2 kamera??
kenapa saya meilih holga dibandingkan dengan diana??
karena saya lebih suka hasil yang tajam dari Holga 120GN dibandingkan seri holga/diana yang lainnya…
selain daripada itu.. selera saya yang mungkin cukup sulit untuk dijabarkan dengan kata2…
saran saya, coba pelan2 bro indra… kenali masing2 ciri khas dari kamera yang akan dipilih…
andaikan saya mennyarankan HOLGA sebagai kamera pilihan, dan pada kenyataanya bro tidak cocok.. lantas buat apa..?
smoga membantu…
04/03/2010 at 12:47
mau tanyaa donkk
baru mau belajar pake holga CFN120, tapi bingung cara ngitung roll film nya..
boleh bantu ngajarin cara ngitung roll nya gak?
takutnya fotonya jadi ketumpuk..
thanks..
04/03/2010 at 18:17
hi fels!
btw… pake roll film yang mana..? 120mm ato 35mm?
kalo 120mm ga usah diitung… tinggal ikutin patokan angka di frame counter nya..
kalo 35mm…
ada itungannya disini..
http://www.squarefrog.co.uk/holga-techniques-35mm.html
smoga membantu…
06/03/2010 at 23:45
mas mau nanya nih, saya punya holga 135 bc.
1. buat holga 135bc cara nentuin format foto nya gmn? trus MASK maksudnya apa?
2. kalo mw beli film nya berarti pilihannya negatif colour,BW atau Positif y mas?
3. maksudnya cross process tuh gmn mas? jadiin slide film ke bentuk negatif film y? di bandung dmn y mas bisa cross process?
4. harga 1 film kodak ektachrom asa 200 & elitechrome asa100 brp y mas?
5. vignetting, pinhole, developer itu apa y mas?
6. bedanya slide film dg film byasa ap y mas? kok jarang ada yg bisa scan slide film?
7. klo pake film yg expired g ngaruh ke hasil y mas?
8. filter tuh apa mas? trus byk jenis nya y? ada g buat holga 135bc?
9. kalo mode B (Bulb) itu mode pemotretan dengan shutter speed yang diatur oleh kita durasi nya, maksudny gmn? trus ngaruh ke apanya?
10. knapa harus nyimpen film di freezer?
tduh byk bgt jadinya, mohon petunjuknya mas..
14/03/2010 at 03:18
Hi!!
Sorry baru bisa bales komen nya:
1. Holga 135BC tidak mempunya fungsi penggantian mask, mask hanya di Holga 120 saja,
guna nya masking itu untuk mengganti format pengambilan foto, ada yang 6×6 dan 6×4.5
bisa dilihat perbandingan nya post ini.
2. betul sekali… pemilihan jenis film tinggal disesuaikan dengan kebutuhan.
3. cross process adalah teknik developing positif/slide yang seharunsnya menggunakan cairan E6 namun digantikan
dengan menggunakan cariran C41 (biasa dipakai u/negatif) atau sebaliknya. Umumnya hampir semua lab cuci foto colour dapat melakukan cross process.
4. wuaduh… untuk masalah harga saya kurang tau.. bisa langsung di ncek ke toko aja
umumnya slide 35mm kodak berkisar diantara 35rb lebih (yang fresh).
5. Bisa di cek disini: Vignetting: http://en.wikipedia.org/wiki/Vignetting, Pinhole: http://en.wikipedia.org/wiki/Pinhole_camera
sedangkan developer itu adalah, obat/emulsi untuk cuci foto, cuci foto = developing.
6. Beda nya slide dengan negative dapat dilihat disini: http://en.wikipedia.org/wiki/Photographic_slide
hampir semua scanner flatbed atau yang drum dapat scanning slide.
7. tergantung lama nya expired dan kualitas penyimpanan film tersebut. dpt berpengaruh ke tonal warna dan grain.
8. Filter itu apa? dpt dilihat disini: http://en.wikipedia.org/wiki/Photographic_filter
filter cukup banyak jenisnya, tergantung kebutuhannya untuk apa.
buat holga 135BC ada filter nya… bisa yang menggunakan ring atau holder..
lomography sendiri menjual filternya.
9. Maksud dari mode BULB sudah bos jelaskan sendiri…
jadi kita bisa atur lama nya bukaan shutter untuk mendapatkan efek tertentu, seperti “light trail” atau
“slow speed”yang membuat halus pergerakan air terjun misalnya. Sudah jelas Bulb berpengaruh ke hasil…
Contoh foto dengan mode bulb di holga:
http://thesaintdevil.deviantart.com/art/Gedung-Merdeka-156020747
10. Karena suhu terbaik untuk menjadga kualitas film terdapat pada suhu di kulkas…
smoga membantu…
01/04/2010 at 03:45
sangat2 membantu mas, thx bgt
mas tolong di comment yah ni gambar pake holga 135 BC slide film expired,
ni link nya:
http://www.facebook.com/#!/photo.php?pid=761932&id=1602891872
18/04/2010 at 18:11
menuju TKP boss…
18/04/2010 at 18:13
menuju TKP
sorry kelamaan komennya hahaha…
09/03/2010 at 16:23
pake 120mm
tapi kan di frame counternya setelah angka 1, ada titik . , trus ada . . , itu udah keitung pindah ke foto berikutnya ato gimana?
dari angka 1 ngga langsung ke angka 2..nah itunya yg bikin bingung.
:p
14/03/2010 at 02:57
yup..
itu udah keiitung pindah frame..
Frame 1 >> ambil foto terus puter knob nya ada … … … sampe ketemu angka 2 baru ambil frame lagi, dst..
16/03/2010 at 23:32
hebat ne blog na.,
mau tanya donk.,
1. caranya ngitung roll di holga 135 bc gmn?
2. holga 135 bc bisa di modif / ditambahin apa aja?
thx.,
20/03/2010 at 12:21
Hi Vincent!
1. Holga 135 BC udah ada film counternya jadi bisa dilihat langsung frame ke frame nya…
2. Holga 135 BC sejauh ini bisa ditambahkan asesoris flash, lensa wide & tele dan fisheye dan filter…
umumnya holga 135BC bisa ditambahkan asesoris layaknya Holga 120mm..
smoga membantu…
19/03/2010 at 21:14
bagusan mana antara holga cfn apa gcfn ?
makasih..lagi hunting holga nih
repp please
20/03/2010 at 11:55
Hi Kheke…
sorry baru bisa balas…
Antara CFN dengan GCFN, saya sendiri lebih memilih GCFN…
perbedaannya hanya dari konstruksi CFN menggunakan lensa plastik sedangkan GCFN menggunakan lensa kaca..
tentu saja dari segi ketajaman, SEDIKIT lebih tajam GCFN dibandingkan CFN…
namun jika kheke lebih suka hasil pure holga plastic… lebih baik pilih CFN,
karena hasilnya akan lebih soft dan tidak terlalu vibrant warna nya…
dari segi fungsi baik GCFN dan CFN sama2 saja…
So…
intinya balik lagi ke selera…
coba bandingkan hasil foto CFN dengan GCFN…
Smoga membantu…
21/03/2010 at 18:18
tanya lagi bale kan?
saya juga udah liad holga2 lainnya..
ehmm..sekarang lebih tertarik sama holga GN..
tapi GCFN juga bagus..
kalo mw liad hasil foto kedua kamera itu dimana ya?
makasih banyak
21/03/2010 at 18:28
coba bandingin di FLICKR..
http://www.flickr.com
disana search aja holga 120GN
lalu bandingin ama holga 120GCFN…
saya rasa sech sama aja hasil dari kedua kamera tersebut…
21/03/2010 at 19:39
makasih banyak yaa
ehm, kalo mz(em mas mas?piss), pilih yang mana?
21/03/2010 at 19:41
Kalo saya sech pilih Holga 120GNn lbih fleksibel dipakenya, harganya lbih murah
21/03/2010 at 20:37
iya..
tapi kalo tanpa flash, hasil fotonya masih bagus apa kurang maksimal?
kan flashnya mahal
21/03/2010 at 20:50
tergantung mau motret apa non…
kan ga selalu setiap motret harus pake flash…
itu sech cuman opini pribadi saya… lebih baik GN…
karena saya membutuhkan tipikal flash yang lebih baik daripada flash built in HOLGA.
saya rasa tipikal flash HOLGA 120GCFN memiliki GN (guide number) yang sangat kecil..
jadi pake flash itu juga percuma… hanya bsia jarak dekat saja…
nah… balik lagi ama kebutuhan pemotretan non spt apa..?
flash external banyak murah…
100rban juga ada..
50rb juga banyak…
21/03/2010 at 21:16
q baru pemula
hehe..n tertarik sama holga
adakah yg semurah itu?
dmna ya belinya?q tinggal di malang nih..
21/03/2010 at 22:03
mmm…
banyak ko non…
di tukang kamera bekas..
biasanya di loak2 gitu…
wuaduh..
kalo di malang gw ga tau dech harus beli kemana… hehehehe!!
21/03/2010 at 22:18
ehmm..sayang sekali..
di toko loak ya..
bleh2..
mz ad album fotonya mz yg pake holga gn?
pengen liad
21/03/2010 at 22:22
iya non..
banyaknya di toko loak tuh..
tapi kalo mau cari simplenya…
knp ga coba GCFN aja…
toh hasil ga bakal berbeda jauh tuh…
kalo mo liat gallery..
silakan berkunjung ke sini
http://www.thesaintdevil.deviantart.com
lihat di dlm gallery nya..
lmyn banyak juga foto holga dah di upload disana..
ada YM/MSN?
biar lebih enak ngobrolnya…
21/03/2010 at 22:27
oke,,ni lagi buka..
udah kepincut eang GN nihh..
ada ym..tp jrang dipake..adanya fb mz..
add me..
kheke sugka hujan-hujand
thx before
21/03/2010 at 22:31
ga ketemu tuh nama di FB nya
add aja di sandywijaya86@gmail.com
21/03/2010 at 22:35
udah q add mz
hoho…
24/03/2010 at 14:42
setelah nyoba holga beberapa kali dengan film fuji baik asa 160 maupun 400, kok warnanya pucat ya mas?? padahal fotonya udah di cahaya matahari, udah dicoba juga dengan setting apperture cloudy maupun sunny, tapi kok warnanya ga keluar ya mas?? kira2 kenapa ya??
24/03/2010 at 16:33
Yang dimaksud dgn warna yg pucat itu spt apa? Bisa liat foto2nya..? Thanks!!
25/03/2010 at 18:09
ini mas yg saya bilang kok pucat ya warnanya??
http://i431.photobucket.com/albums/qq40/febbysantos/holga%20lomography/Untitled-2.jpg
http://i431.photobucket.com/albums/qq40/febbysantos/holga%20lomography/Untitled-3.jpg
http://i431.photobucket.com/albums/qq40/febbysantos/holga%20lomography/Untitled-7.jpg
http://i431.photobucket.com/albums/qq40/febbysantos/holga%20lomography/Untitled-8.jpg
http://i431.photobucket.com/albums/qq40/febbysantos/holga%20lomography/Untitled-9.jpg
biru langitnya ga keluar padahal lagi biru2nya tuh langit..
hijau daunnya ga ngejreng..begitu pula kuningnya…
knp ya?? apa ada yg salah pas ngescan?? filmnya fuji nph 400 masih fresh ampe 2012..
thx ya mas..
25/03/2010 at 22:56
Hi Feb!
Setelah melihat foto2 yg diberikan disini saya berkesimpulan, jika:
Simple nya…
Beberapa Foto tersebut OE (over exposure)..
ISO yang digunakan untuk kondisi cahaya spt dalam foto tersebut terlalu tinggi..
dapat dilihat pada (EV) EXPOSURE VALUE table 1 dan 2, silakan cek disini: http://en.wikipedia.org/wiki/Exposure_value
Untuk kedepannya agar tidak salah kaprah menggunakan ISO film,
lebih baik sedikit mempelajari EV Table..
Karena Holga cukup simple dalam hal fungsi pemilihan diafragma (f/8) dan shutter speed.. (1/100′)
jadi EV table penggunaanya cukup mudah.
Cara menggunakan EV Table, saya berikan contoh spt ini:
Foto UNTITLED 7 >>
Kondisi cahaya tersebut dapat saya kategorikan ke dalam kategori “Lighting Condition” di EV 13 (Tabel 2)
yaitu kondisi cahaya dengan “Typical scene, cloudy bright (no shadows)”
Lalu lihat Tabel 1
Cari kolom tabel dengan EV 13 yang mempunyai kombinasi exposure mendekati IDEAL
untuk kondisi cahaya “Typical scene, cloudy bright (no shadows)” yaitu pada:
f/8 dan 1/125′ serta f/11 1/60′ jika menggunakan film ISO 100
Karena bos Febby Santos menggunakan ISO 400 pada saat
pemotretan dengan kondisi cahaya “Typical scene, cloudy bright (no shadows)” (EV 13)
maka patokan exposure f/8 dan 1/125′ serta f/11 1/60′ pada ISO 100 dinaikan “2 STOP”
2 STOP >>>
ISO 100 + 1 STOP = ISO 200
ISO 200 + 1 STOP = ISO 400
Maka dari ISO 100 ke 400 naik 2 STOP.
Ideal EXPOSURE pada ISO 400
f/8 dan 1/500′ serta f/11 dan 1/250′
Jadi sudah cukup jelas..
untuk mendapatkan foto yang nyaris akurat dari segi exposurenya (tidak over atau under),
maka Holga dengan pilihan diafragma yang terbatas pada f/8 dan f/11 dengan fixed shutter speed 1/100′
tidak mampu mengimbangi sensitivitas FILM ISO 400 terhadap cahaya…
Secara logika bukaan diafragma HOLGA pada 1/100′
lebih lama dibandingkan bukaan yang seharusnya di set pada 1/500′ atau 1/250′
semakin lama diafragma terbuka semakin banyak cahaya yang masuk bukan?
hal tersebut yang menyebabkan OE (over exposure) dan sebaliknya jika UE (under exposure).
Lantas kenapa warna nya menjadi pucat??
1. Over exposure menyebabkan “colour shifting” atau pergeseran warna tentunya.. (walaupun dalam kuantitas kecil)
2. Faktor scanning yang kurang benar dapat menggeser histogram dari negatif.. baik itu dilihat dari
brightness, contrast, ketajaman serta keakuratan warna, color cast, dsb.
Proses scanning dengan scanner amateur terkadang “salah” membaca eksposure negatif yang UNDER dan OVER,
sehingga acapkali memberikan dampak unwanted “colour cast”…
Selain itu colour cast dapat muncul ketika proses developing, atau cuci film…
terkadang campurang emulsi yang kurang tepat atau kurang bagus dapat mempengaruhi munculnya
colour cast dlm sebuah foto.
IMHO, dan saya lihat dlm hasil scanning foto2 nya bos Febby Santos kurang bagus…
Pada foto UNTITLED 8 warna tidak banyak berubah..
karena exposure sudah cukup tepat…
ISO 400 cukup tepat digunakan ketika kondisi cahaya (under shade) dibawah pepohonan…
Coba bandingkan warna KUNING pada foto UNTITLED 8
lebih “KUNING” dibandingkan foto lainnya,
colour cast yang cenderung “bluish” atau kebiru2an pada foto lain
tidak terlalu siginifikan pada foto UNTITLED 8.
Kalau masih bingung…
bisa kontak di
YM: djisamsoe2006
MSN: sandywijaya007@Hotmail.com
atau email di
sandywijaya86@gmail.com
Smoga membantu…
27/03/2010 at 05:12
wow..jawaban yg sangat mahal bwat saya mas..terima kasih ya..
28/03/2010 at 12:38
sama2 bos!
email sudah dikirim bos..
silakan di cek..
25/03/2010 at 18:27
lalu yg ini mas kok gelap bgt ya?? padahal tengah hari bolong di teras rumah ga blkngin matahari pula jd ga mungkin backlight..film masih sama fuji nph 400, bukaan cloudy (f/8)
http://i431.photobucket.com/albums/qq40/febbysantos/holga%20lomography/Untitled-4.jpg
http://i431.photobucket.com/albums/qq40/febbysantos/holga%20lomography/Untitled-5.jpg
25/03/2010 at 23:18
Sepertinya “tengah hari bolong” jam 12 sampe jam 2 siang mungkin?
apakah matahari langsung mengenai objek?
blon tentu…
Teras dapat saya kategorikan UNDER SHADE..
dengan perkiraan EV 6-9 (ISO 100)
coba bos lihat kembali tabel nya..
dengan ditambah 2 stop..
jadi EV 8-11 (ISO 400)
apakah speed 1/100 bisa mengakomodir kebutuhan eksposure yang IDEAL??
tentunya dengan bantuan flash/blitz (yang dapat di bounce) sangat membantu
ketika membuat foto spt ini…
tanpa flash yang di bounce..
arah datang cahaya bakal sangat “harsh” atau kasar/terlalu berlebih…
dan cenderung OE di ISO 400..
kalau dapat di bounce..
arah datang cahaya lebih menyebar…
smoga membantu…
26/03/2010 at 15:42
mas sandy,kalo jenis2 (merek2) film ngaruh ke hasilnya ga sih? kaya ketajaman, warna ato apa pun lah.. kalo ngaruh merek yang bagus apa yah? trus dapetinnya gampang ga? heho xD
28/03/2010 at 12:37
Hi Odie…
Untuk merk2 film tentunya memiliki karakter khas masing2…
seperti film negatif kodak yang identik dengan tonal warna yang “warm”
sedangkan film negatif fuji lebih menghasilkan tonal yang “cool”
namun sejauh saya memotret HOLGA menggunakan kedua merk film,
bisa dikatakan perbedaannya tidak dapat dilihat. Berbeda ketika saya memotret
dengan kamera SLR, saya dapat meilhat perbedaan karakter warna pada kedua merk film tersebut.
Reproduksi warna selain dipengaruhi oleh film tentunya dipengaruhi oleh KUALITAS LENSA.
dengan kualitas lensa yang buruk maka reproduksi warna pun tidak akan bagus dan akurat…
Jika bicara ketajaman, maka selain (lagi2) KUALITAS LENSA
kita harus mengkaitkan dengan ISO serta GRAIN dari film tersebut..
semakin tinggi ISO, semakin tinggi pula intensitas grain pada gambar dan begitu sebaliknya…
Pada dasarnya semua merk juga bagus dan memiliki karakternya masing2..
tentunya dengan harga yang lebih mahal memiliki kelebihannya…
smoga membantu…
16/04/2010 at 02:17
maksudnya diafragma (f/8) dan shutter speed.. (1/100′) APA mas?
di holga 135 BC ngaruh ya kita tahan berapa lama shutter nya?
THX mas
18/04/2010 at 18:11
buat motret apa dulu nih bro?
yang bro maksud dengan pertanyaan tsb apa ya?
maaf, saya kurang paham dengan tulisan bro..
thanks!
29/04/2010 at 15:58
permisi…
mau nanya agak OOT dikit…
diatas sempet dibahas tentang scanning jadi muncul pertanyaan ini.. :
ngaruh gak kalo kita nycan film yang kontras warnanya berbeda misal: film yang warnanya cenderung banyakan merah dengan film yang banyakan ijonya bersamaan dengan scaner flatbed??
trimaskasih sebelumnya
blog ini banyak banget membantu.
05/05/2010 at 20:00
hi!
tentunya lampu scanner akan menyesuaikan dengan kondisi negatif/positif yang hendak di scan…
karena scanning nya ga secara simultan.. namun per frame…
jadi nampaknya ga ada masalah tuh…
smoga membantu..
05/05/2010 at 00:34
mas punya foto parangtritis dari tahun 70an tidak
05/05/2010 at 19:59
sorry mas…
kalo dari taun 70 ga punya…
kalo awal 2000 – skrg masih ada…
17/05/2010 at 21:21
Very informative.
Kalo sy mau process/develop 120 e6 film, dimana ya @ jakarta?
Kalo di adorama terakhir g ke situ, hasilnya kurang bagus. Slide g ada bekas banyak fingerprint gitu, jadinya kalo di scan mesti post process photoshop.
23/05/2010 at 16:59
hi julio!
thanks dah mampir di koelitinta…
untuk tempat proses e6 di jkt..
sudah sangat jarang..
di adorama sebetulnya untuk scanning cukup baik..
jadi mungkin lain kali bisa diberitahukan pada operatornya
supaya lebih berhati2 dlm proses scanning…
smoga membantu…
07/07/2010 at 12:41
maaf ya mas .,.,
saya mohon pencerahanya.,.,.
saya mau beli kamera bingung??
diana mini atau holga 135 bc + flash?
trs kl mo beli langsung tempatnya ada dimana?
selain di mayestik.,.,
karna saya udah trauma dgn buy online.,.,
lokasi saya di jakarta.,.,
mohon maaf dan terimakasih
please reply
21/07/2010 at 18:16
Hi taufik!
sorry baru sempat balas komennya…
Diantara kedua kamera tersebut saya lebih memilih Diana Mini..
karena fungsi dan penggunaannya bisa lebih fleksibel…
sedangkan holga 135bc hanya unggul dari segi munculnya vignette yg lebih terasa..
namun semua kembali kepada kebutuhan dan selera…
umumnya di Lomo Embassy atau mayestik…
tapi kalau mau beli online, coba di kaskus aja…
banyak yg recomennded seller tuh…
dan harganya pasti jauuhhh lebih murah…
smoga membantu..
thanks!
10/07/2010 at 09:39
mas,kalo buat pemula holga135 BC & Flash cocok gak yaa?terus harganya terjangkau apa enggak?terus kelebihan atau kekurangannya apa yaa?maaf yaa banyak tanya soalnya newbie banget di dunia toycam
21/07/2010 at 18:13
Hi Adib!
trims dah mampir di Koelitinta…
1. Holga 135BC cocok atau tidak, kembali kepada kebutuhan dan selera…
harganya terjangkau atau tidak juga kembali sama kantong masing2…
2. Kelebihan nya? kalau memutuskan menggunakan format film 35mm, maka film tersebut lebih mudah dicari dibandingkan film 120mm
kalau kekurangannya? saya masih bingung menjawab dlm hal ini, karena tidak ada pembanding nya… heheheheh!
saya rasa toy camera seperti Holga 135, 120, diana, dsb… tidak memiliki kontrol fungsi secanggih kamera format SLR…
smoga membantu…
17/07/2010 at 10:19
bung,
mw nanya nh tentang penggunaan flash 15 B
klo dalam kondisi seperti apa kita menggunakan flash tsb dan jarak standart dalam penggunaan flash tersebut
trus klo menggunakan flash itu mode dlm posisi sunny/cloudy thx!
ditunggu reply secepatnya.. heheh
21/07/2010 at 18:09
Hi Chris…!
Sorry baru bisa bales komennya disini…
1. Penggunaan flash sudah jelas ketika kita memotret dalam kondisi kurang cahaya, alias low-light condition…
cuman harus berhati2 mengatur ourput kekuatan flash nya…
flash bisa2 saja digunakan dalam kondisi pemotretan dengan subjek yang membelakangi matahari…
bisa disebut juga teknik fill-in flash…
2. Jarak standar penggunaan flash itu diluhat dari GN (guide number) nya…
dalam hal ini 1flash holga 15b memiliki GN 15, GN adalah rumusan jarak x dengan f-number…
jarak ideal? sepertinya bisa dilihat dari EXPOSURE INDEX yang umumnya tertera di bagian belakang flash…
Untuk Holga 15b sendiri saya belum pernah menggunakan…
karena saya rasa saya lebih membutuhkan flash yang dapat di-bounce…
karena pasti lebih fleksibel dan juga pengaturan output nya dpt diatur..
Kalau saya selalu menggunakan sunny untuk penggunaan flash…
smoga membantu!
21/07/2010 at 18:57
wah makasih bgt bang ilmu bertambah, satu lg nh…
klo malam hari menggunakan flash berarti apperture tetap d sunny tapi mode berada di Normal/Bulb??…
dan klo ingin menangkap objek yg bergerak menggunakan flash katanya menggunakan mode Bulb apakah itu benar…
sukses selalu bwt Blognya! mantep nh
21/07/2010 at 22:35
Sama2 boss…

Kalau saya tetap di sunny…
Kalo pake mode BULB, objek yang bergerak spt orang, dsb bakal blur donk…
seharusnya tetap menggunakan mode NORMAL…
Mode bulb umumnya digunakan ketika memotret spt ini:
http://thesaintdevil.deviantart.com/art/Gedung-Merdeka-156020747?q=gallery%3Athesaintdevil%2F10794427&qo=77
http://thesaintdevil.deviantart.com/art/Sunset-in-Pangumbahan-142889782?q=gallery%3Athesaintdevil%2F10794427&qo=126
http://thesaintdevil.deviantart.com/art/Cikaso-Waterfall-142889198?q=gallery%3Athesaintdevil%2F10794427&qo=127
atau mode bulb digunakan dengan bantuan tripod sehingga gambar yg dihasilkan tidak akan “goyang”
Bulb digunakan untuk mendapatkan bbrp efek tertentu seperti merekam ligh trail
kendaraan atau membuat aliran air terlihat sangat halus…
seperti pada foto diatas…
Flash pada dasarnya membuat objek menjadi “freeze” tapi sejauh mana jangkauan jarak flash tersebut,
dan brp speed dari flash tersebut untuk membuat objek “freeze”? Tentu saja semua ada perhitungannya…
dan saya rasa walaupun flash yang digunakan high-end namun kemampuan KONTROL FUNSGI HOLGA tidak SOPHISTICATED.
Perlu diketahui, sangat2 jarang sekali saya menggunakan flash untuk HOLGA…
entah kenapa saya tidak terlalu menyukai ambiance foto yang dihasilkan ketika menggunakan flash di HOLGA.
Smoga membantu…
23/07/2010 at 01:34
mas sya bru punya holga 135 bc blm ngrti cra makenya .
klo mau dapetin hasil vignette gmn?
ad trik2 khusus gk? thanks (^^,)
23/07/2010 at 12:32
hi adiet…
pake holga bc ga terlalu sulit saya rasa…
yg ga ngerti itu cara apa nya?
dapetin vignetting itu ketika cahaya yang masuk melalaui lensa cukup banyak,
jadi motretnya paling enak waktu siang hari…
BC = black corner… pasti udah dapet vigennting seharusnya…
trik2 khusus..
yang jelas buat dpt foto bagus…
pelajari dasar2 fotografi, lalu kenali kamera yg bos pake dan sering2 motret…
smoga membantu…
24/07/2010 at 02:28
thanks bgt mas jawbnya .
) maaf banyk nnya . heheh
jawbnya sangat membantu ,:))
oia 1 lg mas ,klo mnrut mas film yg bagus buat holga 135 bc yg tipe ap n asa nya brp ? n klo mau tau film itu udh abs dilihat dmn ?
terima kasih sebelumnya
03/08/2010 at 18:57
boss saya datang lg nh dengan pertanyaan yg lain hehehe…
kok klo photo diindoor(kondisi cahaya dari lampu) ga ada yg jadi y?? apa karena kurang cahaya atw butuh flash atw lagi asa nya kurang karena sy make asa 200… thx bgt nh sebelumnya!
sama satu lg nh, jarak pemakaian flash juga tergantung asa film nya juga y… contohnya ini nh http://www.facebook.com/photo.php?pid=30765494&l=b3478d66fd&id=1221810963 holga 135bc with flash, film lucky asa 200 kok burem yah??
05/08/2010 at 22:25
hi boss…
sorry2 agak telat nih balesnya….
heheheh!
maklum baru turun gunung..
di-atas sana ga ada sinyal…
Foto indoor ga ada yg jadi pic nya…
1. Sudah jelas cahaya kurang
2. Bisa menggunakan flash dengan GN yg besar atau,
3. Menggunakan ISO yang tinggi…
4. ISO 200 seharusnya cukup kalau flash dengan GN yg besar…
GN dipengaruhi juga oleh ISO film yang digunakan…
misalnya dengan bukaan f/8 di 1/100″ dan ISO 100 dengan jarak ideal flash adalah 2 meter
maka jika menggunakan f/8 di 1/100″ dan ISO 200 maka jarak ideal nya akan lebih jauh dripada 2 meter…
kalau gambar buram berarti belum tepat menggunakan zona fokusing dari holga…


kalo tepat pasti betul2 tajam…
seperti ini…
http://thesaintdevil.deviantart.com/art/Juliea-145136979?q=gallery%3Athesaintdevil%2F10840799&qo=32
smoga membantu…
06/08/2010 at 09:20
wah makasih byk nh boss…
gpp nunggu lama yg penting ilmu nambah lg
Oh iy flash yg sy pake Holga 15B dan kyknya flashnya kurang “sinkron” dengan kamera holga 135bc saya kalau dipake dijarak lbh dari 2mtr… CMIIW THx b4!
06/08/2010 at 20:37
wew….
kurang sinkron gmn tuh bos?
28/08/2010 at 23:41
hey jawab dunk pertanyaan saya !!!
udh mati kah penghuni blog ini ?? damn shitt !!
29/08/2010 at 20:47
Wew… kasar amat bahasa nya…?
ck ck ck… masa gaya bahasa-nya kaya gitu sih…
tattuuuttt…..
blon mati ko…
kalo udah mati, ga bisa bikin reply donk…
btw… pertanyaan anda yang mana yang belum saya jawab? perasaan blon ada komen apa2 di post ini semingu terakhir…
hati2… mulutmu harimau mu…
29/08/2010 at 21:18
o ya… perlu diingat…
blog ini bukan Google, Yahoo, atau search engine lainnya..
dmna ketika anda meng-input pertanyaan lantas muncul jawaban seketika itu juga…
kalo memang anda menganggap blog ini sebagai search engine, salah besar…
kenapa anda ga menggunakan yahoo atau google saja sekalian?
31/08/2010 at 19:01
mas mau nanya nih..ane mau beli kamera..tapi lagi bimbang antara holga atau diana..masukannya plis
01/09/2010 at 09:12
Hi!
Sebenernya, antara holga dengan diana basic nya sama saja ko..
Hanya saja fungsi kontrol aperture di diana lebih banyak dibandingkan holga.
Untuk tipe holga tertentu seperti 120GN, hasil jauh lebih tajam dibandingkan diana..
Pada dasarnya kembali ke selera masing2 dan tentu-nya budget juga…
Selera disini dlm hal, ketajaman gambar, hasil yang diperoleh, serta bentuk dan style kamera.
Kalo holga lebih simple, diana lebih retro..
Kalau saya disuruh memilih, maka holga pilihan saya..
Untuk perbandingan hasil, coba cek holgablog.co. Atau search di flickr..
Smoga membantu..
01/09/2010 at 00:59
hahaha
01/09/2010 at 09:07
02/09/2010 at 23:29
thx masukannya mas.. btw, punya recommended spot buat nyuci 110mm ga? saya punya babyholga nih..tapi bingung mau nyuci dimana
03/09/2010 at 07:34
Sepertinya sudah sangat jarang n langka…
Malahan setau saya di bandung sudah tidak ada lab yang menerima develop film 110…
Entah kalau di jakarta…
13/02/2011 at 03:50
maaf mas,bkn maksud lancang,cuma pngen sdkt mmbntu.. d nasir foto masih bisa kyknya,yg dket unisba bandung tuh…
03/09/2010 at 10:32
mas saya mau nanya nih. saya pingin pake film 35mm ke Diana F+, nah kan seperti yg mas blg di atas itu pake turn atau click gitu.. saya agak2 ga ngerti maass.. hehehe maklum newbie nih
jadi kita harus ngitungin suara klik putarannya itu ya? apa gimana?
saya udh buka squarefrog.co.uk nya, jd maksudnya pas nge load film, saya harus muterin sampe 42click? terus setelah itu kl mau exposure ke-1, muter sebanyak 35 click dst, gitu ya?
mohon pencerahannya ya mas
thanks before
04/09/2010 at 21:53
Hi Gita….
Betul sekali apa yg udah dijelasin ama gita…
Jadi intinya “klik” itu dengan mendengarkan sekaligus menghitung suara klik dari knob pemutar film…
kalau “turns” berarti kita menghitung jumlah putaran dalam hitungan 1x putaran penuh, 1/2, 3/4 atau 1 3/4 misalnya…
Untuk DIANA f+ saya tidak mengerti hitungan pasti nya,
bisa dicoba untuk mencari referensi lain, soalnya takutnya berebeda…
Smoga membantu…
03/09/2010 at 12:43
oke.. babyholga = jadi pajangan sekarang.. haha.. thx infonya mas..
04/09/2010 at 21:54
sama2 boss..
15/09/2010 at 18:40
halo kak sandy, aku baru aja beli holga 35bc. Nah, aneh nih.. masa aku gak bisa buka rear doornya buat masukin film? Apa aku yang salah dan bego masa buka rear door aja gabisa, apa emang kameranya yang aneh?
Kan takut kebawa emosi ga bisa dibuka, ada tombolnya itu kan yg ditarik (lupa namanya), udah ditarik berkali2 tapi ga juga kebuka rear doornya. Kalo pake cara kasar nanti malah rusak dong, kak?
gimana? tolooong.
18/09/2010 at 22:18
Beli dmn tuh?
Coba bawa lagi aja ke tembat beli nya…
Memang konstruksi toycamera itu cukup buruk…
14/10/2010 at 16:21
cara ngitung brp klick klo pk film 35 gmn sh?
31/10/2010 at 14:57
bisa diliat di http://www.squarefrog.co.uk...
disana ada petunjuk lengkap + tabel nya…
smoga membantu..
15/11/2010 at 19:18
wah, mas..
gak usah nanya udah langsung kejawab sama jawaban2 di atas
dulu saya penikmat hasil lomo, sekarang baru mencoba ikut mempelajari sambil bereksperimen..
jangan nolak ya mas kalo ntar saya banyak nanya..
17/11/2010 at 01:27
Hi Putu!
trims dah mampir di koelitinta…
yup! silakan akalu ada pertanyaan… jangan sungkan…
hehehehe!
see u!
25/11/2010 at 16:13
salam kenal sandy . . . !!!
aq ada rencana beli lomo,pengenny si holga ato plg gag supersampler.
tp aq jd takut beli,aq belum pernah pake kamera manual.
Jadi masih newbi bgt kalo soal fotografi.
PMinta sarannya ya?
25/12/2010 at 10:19
Lebih baik holga…
kalau supersampler, sepertinya bakal lebih bosan…
karena format pengambilannya saya rasa monoton…
smoga membantu…
25/01/2011 at 20:57
hi.. salam kenal..
saya tertarik dengan holga, bener2 baruuu bget
yang ingin saya tanya,, waktu pas baca d kaskus ada seller yg jual kamera holga mikro 110 warna..
maksudnya apa yaa? mohon penjelasannya
thx
25/01/2011 at 21:03
Hi nita!
Holga 110 itu Kamera Holga dengan format film 110
untuk lebih jelas mengenai format film 110mm
bisa dilihat di link dibawah:
http://en.wikipedia.org/wiki/110_film
Pada dasarnya sama saja dengan Holga lainnya, hanya saja filmnya yg berbeda…
di Indonesia sendiri skrg ini makin sulit mencari film 110 dan tempat untuk develop film nya…
smoga membantu..
trims!
26/01/2011 at 13:02
o gitu yaa..
kalau di jakarta sendiri di daerah mana ya buat cari filmnya?
oke, makasi banget infonyaa ^^
12/04/2011 at 18:24
hai kk sandy, salam kenal
aku baru banget ni megang holga nya, kurang pahan gimana cara pake nya dan guna dari bagian-bagian holga nya. yang aku punya holga 120gn. tolong jelasin dengan rinci dong
13/04/2011 at 21:41
saya baru suka sama polaroid..pngen bli bngung holga 120 ato 135 ya??minta sarannya..trs makenya gmna??itu lngsung jdi ftonya pas hbis dfto ato gmna??trs holga sama instaxnya fujifilm bagusan yang mana???
09/08/2011 at 17:11
mas sandi saya pengguna baru holga nii,tp saya kurang paham hhe saya buka blognya yg koelitinta ttep gga ngerti hhe.. mau nnya klo holga 120 cfn itu pake film yg mna ? mksii
09/08/2011 at 17:24
pakai film 120mm, film medium format.
09/08/2011 at 17:39
coba di gogle dulu jenis film nya kaya apa…
hehehe!
14/08/2011 at 19:34
kang , tolong di pendapatnya ma foto saya doonk . http://www.fotografer.net/isi/galeri/?searchid=2&katacari=382832 . disitu baru ada 3 foto yg di upload yg menuruk saya paling bagus mala kritiknya paling dikit . perlu kritik dan saran yg membangun ni kang
mau message d FN ribet . hahaha
ma di FB nih http://www.facebook.com/media/set/?set=a.264348993575822.75737.100000021702662
nunggu karya holganya kang sandy nih .
Oiya ma nanya klo nyari step up ring 46-52mm + adapter ring 52mm + filter holdernya dmana yah ? jangan ebay dh . gag punya paypal :p
14/08/2011 at 20:33
Karya barunya lagi maksudnya
14/08/2011 at 23:03
siipp! trims!
14/08/2011 at 23:02
FN ga bisa selalu jadi patokan…
kembali sama masing2 fotografer ttg pemahaman kamera dan output yang dihasilkannya dari toycamera.
Foto di FN yang berhasil masih banyak faktornya selain berbicara teknis dan konten foto tsb.
Kalo selain di e-bay…
masih agak sulit buat beli step-up ring 46-52 disini…
filter cokin a juga udah sangat sulit.
siip…
buat karya holga yg di update berkala bisa dilihat disini:
http://www.flickr.com/photos/sandywijaya/
17/08/2011 at 03:40
mas, saya mau nnya dnk
saya rencana mau beli lomo, tapi msh newbie, nah baiknya beli yg holga ato diana ? klo yg aku baca komen2 mas diatas lbih nyaranin holga khn, tp aku pgnnya hasilnya lebih k retro n vintage dg hasil yg tajam n gk ribet serta memuaskan haha..
jd lebih baik holga ato diana ?
terima kasih sebelumnya, maaf bawel ya mas
17/08/2011 at 13:53
pada dasarnya sama2 aja sih….
kalau saya lebih cocok sama holga…
smua juga jika diliat dari fungsi kurang lebih sama ko…
yang jelas holga jauh lebih murah dibandingkan dengan diana…
17/08/2011 at 21:06
makasi kang . klo flash yg murah tp gn nya gede apa yaa ? mending amity 820mz apa yn460 yaa kang? hehe
19/08/2011 at 17:29
trus mas,,klo lomo tuh setiap kali jepret mesti kita puter sendri ya spoolnya..saya bingung nggunainnya nii mas..hhe mulainya mesti drmna gt.mksii maas
05/09/2011 at 10:27
bang, newbie nih. baru kemarin pake holga tapi masih bingung cara pakenya. cara pake holga tuh sama aja kan sama pake kamera analog biasa? atau ada yang ngebedain?
05/09/2011 at 12:02
Analog nya kamera apa dulu nih?
Kalo merujuk pada SLR analog,
Prinsip kerja nya Holga sama aja kaya kamera analog, yang membedakan itu fungsi holga jauh lebih simple dibandingkan SLR Analog.
12/01/2012 at 05:30
I like the helpful information you provide in your articles. I’ll bookmark your blog and check again here frequently. I’m quite sure I will learn a lot of new stuff right here! Best of luck for the next!
13/01/2012 at 12:03
Thanks a lot my friend!
19/03/2012 at 15:05
halo…saya newbie ni ttg holga, sy br saja membeli holga 120 gcfn dan mau menanyakan penggunaan fungsi bulb mode, mohon bantuan nya
11/04/2012 at 13:51
mas sandy : saya baru didunia lomo, saya pake La Sardina tetapi ketika di cetak pasti ada aja gambar yang buram kalo boleh tau itu pengaruh apa?
2. apakah pengunaan flash pada kamera2 lomo itu pentng?
11/04/2012 at 13:53
mas sandy : saya mengunakan kamera La Sardina, tetapi ketika dicetak pasti aja saja ambar yang buram, kalo blh tau itu apa penyebabnya? dan apakah pengunaan Flash pada kamera2 lomo itu penting?
05/05/2012 at 05:00
asli keki berat ngeliat foto2 hsl jepretannya…btw, mau tanya.kamera holga 120 gn kan katanya bisa masuk flash apa aja kecuali minolta..nah minta saran dong bang kira2 untk flash yang berkualitas tapi terjangkau untuk holga 120 gn saya? oya kalo bisa sama link tempat jual online-nya yang di indonesia (kalo ada) thanks berat ya sebelumnya bang sandy
11/05/2012 at 20:05
Kaka sandy saya mau nanya saya anak bandung mau beli holga yang cod atau
Ada toko yg jual terus di bandung perkumpulan lomo dimana ikut gabung dong mau nanya2 tolling bantuannya
13/05/2012 at 10:20
om sandy saya mau nanya saya ni anak bandung lain kali ketemu yah
saya mau beli holga nih yang cod di bandung susah minta saran dong
saya mau tahu ada komunitas toycam ga sih di bandung dimana kumpulnya sekalian mau sharing nih